DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

ISLAM BERLIAN SEPERTI DIAN SASTRO


Tersinggung kah Dian Sastro jika ada haters menghina dia sebagai wanita jelek dan murahan?
Kalau kita punya sedikit waktu luang, cobalah buka akun medsos selebriti kita. Saya jamin pasti akan menemukan haters disana. Apalagi akun milik Syahrini, Marshanda, Awkarin, dan Agnes Monika, hatersnya banyak sekali dan rajin berkomentar pedas. Meskipun ada juga yang memuji dan menyatakan kekagumannya.
Tersinggung kah selebriti kita terhadap cacian dan makian haters-haters itu? Saya pikir para seleb itu tidak tersinggung. Terlihat mereka tidak mencaci maki balik hatersnya, atau menyindirnya, atau bahkan meladeninya pun tidak. Mereka terus berkarya dan terus disukai oleh penggemarnya. Tandanya karya-karya mereka memang pantas untuk dikagumi atau setidaknya menarik untuk diikuti oleh fans-nya.
Di ranah professional pun demikian. Ignatius Jonan, mantan legendaris Dirut KAI itu, masih dikenang jasanya mentransformasi KAI hingga saat ini. Banyak pujian dan dukungan terhadap dirinya, tapi juga banyak yang mencibirnya. Jonan pernah didemo oleh mahasiswa UI saat penertiban stasiun di Depok, dianggap penindas rakyat kecil karena menertibkan pedagang di seluruh stasiun. Juga pernah ribut dengan pedagang yang biasa masuk gerbong kereta api jarak jauh. Tapi sejarah mengapresiasi karyanya mengubah wajah KAI.
Pun dengan pejabat publik, yaitu Ahok. Dari kepemimpinannya yang belum genap 2 tahun, Jakarta sekarang sudah banyak berbenah. Mulai dari birokrasi, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur sudah banyak berubah menjadi lebih baik. Sama dengan Jonan, haters Ahok pun juga lebih banyak dan lebih galak lagi.
Saat Ahok Menyinggung Al Maidah
Dua minggu belakangan ini memang banyak postingan atas ucapan Ahok di Kepulauan Seribu. Saya sudah melihat video potongannya, juga video versi penuhnya yang di-upload oleh Pemprov DKI Jakarta. Saya sebagai umat muslim sebetulnya tidak tersinggung dengan ucapan Ahok setelah melihat video versi potongan singkatnya, juga makin yakin bahwasanya konteksnya berbeda jauh setelah melihat versi penuhnya.
Saya sempat merenung agak lama saat mengetahui banyak yang tersinggung dari pernyataan Ahok itu. Saya buat inventarisasi orang-orang yang tersinggung di FB dan mengamati historinya. Ternyata, orang-orang yang tersinggung itu mayoritas memang sudah membenci Ahok sejak lama. Sejak Ahok masih jadi Wagub DKI Jakarta. Hanya saja sekarang mereka punya bahan bakar yang menarik untuk dijadikan isu politik mengalahkan Ahok.
————————————————————————–
Jadi, tersinggungkah Dian Sastro jika hatersnya menghina dia sebagai wanita jelek dan murahan? Saya rasa Dian Sastro tidak akan tersinggung mengingat dia memang cantik dan berkelas. Dialah berlian yang akan tetap menjadi berlian meskipun dikotori oleh hatersnya.
Maka, tersinggungkah umat Muslim jika ada yang menghina agama Islam? Seharusnya tidak. Saya rasa yang tersinggung saat agamanya dihina perlu belajar berbesar hati, atau mungkin dipertanyakan keyakinannya bahwa agama yang dianut benar-benar “berlian” atau bukan.
Karena berlian akan tetap menjadi berlian meskipun dikotori atau dibuang ke tempat sampah sekalipun.
Advertisements
Leave a comment »

MEMAHAMI DONALD TRUMP(1)


Donald Trump menang konvensi Partai Republik, perlukah kita takut dan tetap membencinya?
Menurut psikologi, ketakutan dan kebencian timbul karena kurangnya pemahaman tentang suatu hal. Dalam hal ini, pemikiran Donald Trump yang kontroversial yang kita takutkan dan benci. Sekarang kita coba membaca jalan pikirannya untuk memahaminya.
Donald Trump adalah seorang pengusaha, berpikirnya selalu taktis dan mengikuti situasi. Tahun 2012, Jokowi menolak kenaikan harga BBM saat SBY menjadi presiden, tentu kepentingannya adalah merebut hati rakyat. Namun saat menjadi presiden, Jokowi melanggar ucapannya sendiri, menaikkan harga BBM dan mengalihkan sebagian besar subsidi itu untuk proyek infrastruktur.
Begitu juga dengan Donald Trump, di tengah ketakutan rakyat Amerika dengan teror ISIS, ungkapan melarang orang Islam masuk Amerika tentu akan merebut banyak sekali hati rakyat, sekaligus menimbulkan banyak haters. Namun, kemenangan Walikota London, Sadiq Khan, yang beragama Islam ternyata membuat Donald berubah dan berpikir melakukan beberapa pengecualian terhadap larangan muslim masuk USA. Bukti bahwa keputusannya sangat situasional, sekaligus bukti bahwa pemikirannya hanyalah taktis dari sebab akibat, bukan komprehensif.
Jadi, selama Amerika masih bergantung impor minyak bumi dari timur tengah yang semuanya adalah negara muslim, kita tak perlu takut atas pemikiran kerasnya terhadap umat Islam. Donald Trump mungkin dengan mudah mengganti keputusannya ketika negaranya menghadapi ancaman kesulitan minyak bumi.
Dari sini kita memahami bahwa mewacanakan larangan muslim masuk USA mungkin menjadi strategi terbaik untuk memenangkan konvensi Partai Republik, mengingat rakyat Amerika sekarang dilanda ketakutan dari teror ISIS. Sekaligus wacana tersebut merupakan strategi terburuk jika diterapkan saat menjadi Presiden Amerika, yang mana negaranya masih mengimpor minyak dari timur tengah.
Cerita ini mirip pilpres 8 tahun lalu, saat Barrack Obama mewacanakan menaikkan pajak untuk orang kaya, karena selama ini pajak mereka lebih sedikit dari kebanyakan orang. Ide tersebut berhasil merebut hati rakyat Amerika mengingat saat itu negaranya mengalami krisis ekonomi tahun 2008.
Yang terjadi saat Barrack Obama benar-benar menjadi presiden, kenaikan pajak untuk orang kaya benar adanya. Tapi naik sedikit demi sedikit selama menjabat. Dan presentasenya sampai sekarang masih lebih kecil daripada mayoritas rakyat Amerika. Kenapa? Karena pemerintah menghadapi dilema kebutuhan kontribusi penyediaan lapangan kerja baru dari investasi usaha orang kaya tersebut, dengan dilema janji menaikkan pajak orang kaya saat kampanye.
Dilema masalah ekonomi inilah yang membuat visi ekonomi Donald Trump untuk Amerika begitu kuat. Seperti apa visinya? nanti akan diulas pada tulisan berikutnya.
Leave a comment »

DARI ITS SAMPAI PDAM


UNS dan ITS sebenarnya mempunyai kesamaan nasib: nama kampusnya sama-sama inferior dari ITB. Saking melekatnya kata Bandung dalam nama ITB, UNS yang letaknya di Solo itu sering disebut Universitas Negeri Solo. Lebih elit dikit jadi Universitas Negeri Surakarta. ITS yang di Surabaya itu juga sering disebut Institut Teknologi Surabaya.
Padahal UNS itu Universitas Negeri Sebelas Maret, “M” dari “Maret”-nya tidak ada. Dan juga ITS itu Institut Teknologi Sepuluh Nopember, “N” dari “Nopember”-nya juga tidak ada. Apakah ada aturan tak tertulis bahwasanya nama bulan dalam kalender masehi itu dihilangkan?
Andaikan Maret dan Nopember nya dimunculkan menjadi UNSM dan ITSN, mungkin 90% orang Indonesia tidak akan salah singkatan lagi. Lho, kok 90%? emangnya 10% sisanya kemana?
Sisa 10% nya ada di “P”-nya Nopember. Orang yang mengeja Institut Teknologi Sepuluh November itu benar secara KBBI, tapi salah secara kodrat. Legalnya kampus itu menggunakan kata Nopember, bukan November. Kenapa bisa begitu?
Atau barangkali karena di sana banyak mahasiswa lelakinya, sehingga menggunakan “P” untuk Nopember. Dan mungkin, ketika mahasiswi disana jadi mayoritas, maka “V” lah yang dipakai untuk November. hehehe.
(otak mesum penulisnya minta disembelih :P)
Dan saya pun juga masih terheran-heran dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum yang disingkat SPBU. Kenapa “B”nya cuma satu?
Setelah searching Google sana sini, ternyata SPBU itu kepanjangan dari Stasiun Pengisian Bahanbakar Umum! Kata “bakar”-nya nempel di kata “Bahan”! Kok bisa begitu? Ya nggak tau. Terima saja apa adanya. Itu sudah turun termurun semenjak pom bensin pertama kali hadir di negara ini. Atau sebaiknya kita terjemahkan SPBU itu sebagai Solar Premium Bensin Umum saja?hehehe
Termasuk PDAM, saya juga masih mempertanyakan singkatannya.
Sadarkah kita bahwa PDAM itu singkatan dari Perusahaan Daerah Air Minum. Sebuah perusahaan penghasil air minum yang tidak pernah diminum secara langsung oleh konsumennya. Bahkan air PDAM dipakai untuk mandi oleh orang kebanyakan, sampai anak-anak kecil sekarang mengira PDAM itu singkatan dari Perusahaan Daerah Air Mandi.
Kenapa bisa begitu? Entahlah. Mungkin karyawan PDAM tak kuat menahan malu mengubah nama perusahaan dari air minum menjadi air mandi. Atau mungkin mereka sedang berusaha dan perlu waktu untuk mengembalikan jati dirinya sebagai penghasil air minum yang sesungguhnya. Entah waktu yang diperlukan berapa lama.
Yang penting, untuk sekarang ini, percayalah, jangan pernah minum langsung dari air PDAM!
😉
Leave a comment »

BOLA API YANG CAIRKAN KEBEKUAN PILPRES


Sebagian orang mengatakan Pilpres 2014 adalah pilpres paling seru, sisanya mengatakan ini pilpres paling mengerikan. Baik “sebagian” maupun “sisanya”, hanyalah masalah sudut pandang.

 

“Sebagian” yang mengatakan seru mungkin karena anak-anak muda yang notabene apolitis tiba-tiba melek politik. Yang frustasi dengan para politisi korup dan jahat, di pilpres ini menjadi ahli politik, sekaligus ahli fitnah. Ini anomali karena dari kajian-kajian sebelumnya didapati anak muda sekarang krisis pengetahuan politik. Dengan pilpres sekarang, kajian itu sudah terbantahkan.

 

“Sisanya” yang mengatakan mengerikan mungkin karena kampanyenya sekarang sangat hitam dan sangat negatif. Kampanye hitam yang dulu dianonimkan agar tidak diketahui penyebarnya, sekarang malah terang-terangan. Penyebar tabloid Obor Rakyat yang fenomenal itu sudah ketauan sebelum dicari, pelakunya mengaku lebih dulu dan membeberkan motifnya, tanpa rasa malu, didepan publik!

 

Saya termasuk “sisanya”, yang mengatakan mengerikan.

 

Di FB sudah tak terhitung postingan yang isi komentarnya orang-orang berdebat, bertengkar, dan ejek-ejekan. Dan saya tidak tahu berapa tali silahturami yang retak, berapa orang yang memendam sakit hati, dan berapa orang yang saling bermusuhan.

 

Saya tidak mengalami semua itu di pilpres kali ini. Bukan karena saya matang berdemokrasi, tapi karena saya pernah mengalami: keretakan silahturami, memendam sakit hati, dan bermusuhan dengan teman yang politiknya berseberangan. Saya rasakan banyak ruginya. Mulai hubungan yang jadi kaku sampai energi yang terkuras untuk memendam sakit hati. Tapi saya mengambil pelajarannya sehingga sekarang selamat perang urat syaraf.

 

Sebenernya saya punya janji terhadap diri sendiri. Saya akan memperbanyak banyak postingan berita positif di medsos untuk menyeimbangi berita negatif yang sering bermunculan di timeline. Seperti: banyaknya berita korupsi di pemerintahan, saya seimbangkan dengan postingan prestasi dan kemajuan yang dicapai. Setidaknya agar anak muda sekarang tidak frustasi dengan masa depan bangsa ini. Kalau ada propaganda yang saling bertentangan, saya buat postingan yang lucu untuk mencairkan suasana. Seperti: pro kontra penolakan kedatangan pak Jokowi ke ITB. Saya buat iklan lelucon pure it ala Jokowi agar suasananya mencair.

 

Di masa pilpres sekarang pun saya melakukan hal yang sama, tapi gagal. Realitasnya dengan idealisme berbeda.

 

Masa pilpres ini mirip ketika teman saya, Nyoman Anjani, mencalonkan diri maju sebagai Presiden KM ITB. Saya yang sedang sibuk fokus tugas akhir, karena banyaknya kampanye hitam dan fitnah yang ditujukan kepadanya, akhirnya harus turun gunung sekuat tenaga membela Nyoman. Bahkan sempat disebut Pemilihan Raya KM ITB paling kotor karena antar calon saling mendiskualifikasi, hingga akhirnya dilaksanakan pemira ulang. Masifnya fitnah dan kampanye negatif pemira kala itu mirip dengan pilpres sekarang, tingkat ke-seru-annya juga sama.

 

Saya sebenernya sedang banyak beban pikiran dan ingin menyendiri. Semua media sosial saya deaktifkan, keluar dari semua grup Line dan Whatsapp, agar bisa fokus menyelesaikan masalah dulu. Tapi itu hanya bertahan 4 hari. Semua media sosial diaktifkan kembali. Gara-gara melihat hasil survei Prabowo yang tiba-tiba mendekati Jokowi.

 

Saya sebenernya sudah tau di media sosial bertebaran artikel-artikel kampanye negatif dan fitnah. Tapi saya yakin orang tidak akan terpengaruh dan sudah kritis terhadap hal-hal yang seperti ini, jadi saya biarkan.

 

Tapi saya salah!

 

Saya lupa kalau sekarang banyak anak muda yang apolitis jadi ahli politik. Sebuah spesies politisi muda instan yang tidak kritis dan mudah termakan fitnah. Saya juga lupa kalau fitnah yang didengar terus-menerus akan terasa seperti fakta, sama seperti kebohongan terus-menerus yang terasa seperti kebenaran.

 

Sentimen agama di pilpres sekarang juga jauh lebih masif. Saat pemira juga ada sentimen agama, tapi tidak terlalu berpengaruh karena para pemilihnya banyak yang pintar dan independen. Di pilpres beda, para pemilihnya bukan kaum yang setiap hari dijejali pemikirin kritis dan merdeka seperti  di kampus. Sentimen agama ini paling rawan(sekaligus paling ampuh) untuk dipolitisasi karena setiap pemeluk agama dijanjikan surga untuk pembelanya. Ditengah himpitan berbagai masalah, apalagi masalah ekonomi, kata “surga” menjadi sangat WAH seperti melihat air minum ditengah panasnya padang pasir, sehingga akal sehat selalu dikalahkan oleh janji manis surga.

 

Alhasil, survei elektabilitas Prabowo sudah sangat dekat dengan Jokowi dalam waktu singkat!

 

Hasil survei inilah yang membuat saya harus turun gunung lagi membantu relawan Jokowi. Yang menggembirakan, saya tidak merasakan ini sendiri. Banyak tokoh-tokoh yang biasanya netral menyatakan dukungan terhadap Jokowi, juga artis-artis ternama, bahkan sampai musisi luar negeri. Pers Jakarta Post pun yang biasanya netral juga sekarang terang-terangan mendukung Jokowi. Begitu juga media pers yang lain.

 

Turun gunungnya para relawan besar ini membuahkan hasil, elektabilitas Jokowi rebound alias kembali menguat. Dan sekarang Jokowi-JK menjadi pemenang sementara quick count pilpres.

 

Tapi, ada hal lain yang mengerikan.

 

Baik pendukung Prabowo maupun relawan Jokowi sekarang menjadi kaku. Masih terlihat saling memendam sakit hati, saling berprasangka buruk, dan saling bermusuhan. Tentu kebekuan ini harus segera dicairkan. Kita ingin seperti Amerika, ketika Barrack Obama menang tipis atas pertarungan sengit dengan McCain, pemilu selesai dan damai. Dan kita tidak ingin demokrasi Indonesia seperti demokrasi Mesir yang ricuh dan menjadi semi otoriter, apalagi Thailand yang demokrasinya buntu.

 

Bagaimana caranya? Entahlah. Saya juga tidak tahu, ini kejadian pertama di negeri ini dan belum ada contoh negara lain dengan kasus yang sama, kecuali Amerika, itupun berhasil karena demokrasi disana sudah sangat matang.

 

Mungkin World Cup bisa mencairkan ketegangan ini. Pagi ini, sebelum pilpres berlangsung, suasana negeri ini menjadi hangat dan menyenangkan, walaupun hanya sesaat. Mungkin panasnya atmosfer pertandingan bola di Brazil bisa mencairkan kebekuan pilpres disini. Semoga.

Leave a comment »

MATI KARENA SINGKONG!


Semalam saya terbaring tak berdaya di kamar kosan. Semacam meriang, plus panas, plus pusing, plus mencret, plus lemas. Entah namanya sakit apa. Bahkan sampai siang ini saya membuat tulisan, masih belum sembuh. Sakitnya memang tidak parah, tapi beban psikologis saya sendiri yang membuatnya parah. Ini gara-gara cerita menyeramkan di kampus.

 

Tahun lalu ada mahasiswa yang tiba-tiba mati di kamar kosannya. Disebut “tiba-tiba” karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda sakit, overdosis, atau bahkan bunuh diri. Apalagi kejadian tersebut tidak hanya sekali, tapi ada mahasiswa yang lain juga mengalami hal yang sama. Dugaan penyebabnya pun hampir sama, kelelahan. Cuma beda alasan: ada yang kelelahan diospek, ada yang kebanyakan beban tugas, dan ada juga yang kelelahan ber-“aktivis kampus”. Kisah kematian akibat kelelahan ini ada yang sampai masuk media massa, yaitu Mita Diran. Seorang gadis yang bekerja di biro periklanan yang mati kelelahan karena kerja lembur 30 jam non-stop.

 

Jika ditelisik kebelakang, kelelahan mereka mirip yang saya alami sekarang. Tiga hari kebelakang saya terlalu sibuk, mulai dari survei pipa kondesat di PLTP Pengalengan, cuci baju kotor yang bejibun, beberes kosan, ngajar Fluent, sampai ngonsep buku angkatan sehari semalam di rumah Luna. Ditambah lagi kemarin ditekan mengejar deadline analisis pipa, alhasil malam harinya saya sekarat di kosan.

 

Sakit itu memang mahal. Tidak hanya biaya obat dan perawatannya, tapi juga biaya pengorbanannya, salah satunya kursus Goethe. Secara ekonomi, biaya kursus sekali pertemuan yang 3 jam itu sekitar 120ribu. Karena tidak hadir 2 pertemuan, 240ribu hilang. Ditambah biaya cuti dadakan, plus biaya obatnya. Mungkin totalnya bisa setengah juta. Ah, betapa mahalnya.

 

Bukankah biaya kesehatan sekarang digratiskan pemerintah lewat asuransi BPJS? Iya, memang benar sekarang seluruh rakyat Indonesia dapat asuransi kesehatan. Tapi dalam kasus saya, asuransi itu jadi sangat mahal.

 

Kok bisa jadi sangat mahal?

 

Karena kartu Askes alias BPJS milik saya dipegang oleh sang ibu. Kalau saya mau pakai kartu itu, mau tidak mau sang ibu harus tau alasan saya minta dikirim kartu Askes. Saya khawatir kejadian tahun lalu terulang. Saat itu saya mengabari ibu bahwa saya sedang demam tinggi. Tak disangka, karena insting keibuannya, beliau langsung terbang dari Surabaya ke Bandung untuk merawat anaknya. Kalau kejadian itu terulang lagi sekarang, jelaslah biaya pengorbanan tiket PP pesawat itu jadi lebih mahal dari biaya obat yang di-“gratis”-kan oleh BPJS.

 

Akhirnya saya sekarang hanya bisa pasrah sendirian di kamar dan berdoa semoga cepat sembuh, dan semoga biaya sakit ini tidak semakin mahal.

 

Tentu berdoa saja tidak cukup, saya juga harus berjuang mengalahkan penyakit ini. Saya tidak mau mati karena hal sepele seperti yang diceritakan teman-teman di kampus, yaitu kelelahan. Katanya, meninggal yang baik itu harus dengan prestise yang tinggi, seperti: ditabrak mobil Mercy, atau BMW. Jangan sampai kita meninggal hanya karena singkong.

 

Loh, kok bisa? kenapa singkong bisa bikin mati?

 

Karena kalau nabrak truk yang isinya penuh singkong, kita bisa mati tertimbun singkong.hehe :p .Itu sebenarnya cerita humor khas Suroboyo-an yang mungkin tidak pernah terjadi, tapi setidaknya bisa menghibur saya sekarang.

Leave a comment »

PUASA SUNNAH YANG MENAMBAH DEVISA


Kalau ada yang mengamati pertumbuhan ekonomi Indonesia, pasti orang itu akan terkagum-kagum dengan kemajuannya. Ekonomi bangsa ini bisa tumbuh diatas 6 % selama 8 tahun berturut-turut(lompat tahun 2008 yang hanya 4%). Angka itu termasuk besar jika dibandingkan negara lain. Apalagi resesi global sejak 2008. Tahun ini saja, Amerika Serikat berkoar-koar tumbuh 1 %, sedangkan Jepang “ngos-ngosan” untuk bertahan di angka 0 %. Indonesia masih pede mematok 6 %!

 

Tapi, orang yang mengamati pertumubuhan itu juga akan juga pasti mendengar “alarm” devisa. Devisa Indonesia memang naik, tahun 2011 sekitar 120 Milyar US Dollar, naik 6 kali lipat dibandingkan 1998. Tapi tahun 2012 turun menjadi sekitar 110 Milyar US Dollar. Bahkan per 28 Juni 2013, anjlok menjadi 98 Milyar US Dollar. Kenapa turun padahal ekonomi Indonesia terus tumbuh?

 

Jika dianalogikan, devisa itu ibarat “dompet”nya Indonesia yang uangnya dipakai untuk “belanja”. Isi dompet itu akan bertambah seiring banyaknya turis asing yang belanja di sini, dan juga kiriman uang dari TKI. Tapi, isi dompet itu juga berkurang seiring banyaknya wisatawan kita yang jalan-jalan ke luar negeri. Dari sisi neraca perdagangan, isi dompet akan bertambah jika Indonesia mengekpor barang, tapi juga akan berkurang jika kita mengimpor barang.

 

Pentingkah devisa negara? Penting!

 

Tanpa devisa, kita tidak bisa impor barang-barang elektronik, seperti HP atau laptop. Devisa ini juga dipakai untuk belanja BBM agar kenalpot kendaraan kita bisa tetap mengepul.

 

Apakah jumlah devisa harus banyak? Harus!

 

Devisa ini bisa dijadikan “tameng” krisis ekonomi. Jika tahun 1997 yang jumlahnya sekitar 20 Miliyar US Dollar (katanya) hanya bisa menahan 6 bulan krisis ekonomi Asia(dan sialnya masa krisis lebih dari 6 bulan sehingga tahun 1998 Indonesia kolaps), maka 120 Miliyar US Dollar bisa menahan krisis bertahun-tahun, bahkan krisis global yang lebih besar dari krisis Asia sekalipun. Buktinya, sekarang tidak ada provinsi yang pertumbuhannya negatif. Lowongan pekerjaan masih sering digelar di berbagai kampus. Kursus LP3I juga masih bangga promosi lulusannya cepat dan mudah bekerja.

 

Bagaimana jika devisa kita sedikit? Negara mengalami krisis!

 

Gara-gara krisis global 2008, Tahun 2009 Timur Tengah dilanda wabah Arab Spring. Kekacauan dimana-mana, mulai dari Tunisia, Libya, Mesir, Suriah, Iran, sampai Yaman. Daerah sekitar Iraq maupun Afganistan tidak perlu disebut, karena sudah ricuh sebelum krisis global. Bahkan yang kata orang ekonominya fantastis, Turkey dan India pun mulai goncang.

 

Kenapa jumlah devisa tahun 2012 turun? Karena rakyat kita semakin kaya.

 

Gara-gara kaya, rakyat jadi konsumtif beli barang impor dan makin hobi safari ke luar negeri. Semakin kaya itu pertanda baik, negara ini berkembang dan rakyat makin sejahtera. Tapi juga tidak boleh terlena dengan kekayaan.

 

Masyarakat yang ingin ke luar negeri bisa dilihat secara fisik. Kuota 300 ribu jamaah haji Indonesia saja, orang harus ngantri 12 tahun sebelum berangkat. Jadi, setidak-tidaknya ada 300 ribu orang yang menghabiskan uangnya di luar negeri selama 1 bulan lebih, yang artinya devisa berkurang banyak. Dan ingat, itu akan berlanjut selama(setidaknya jika dihitung hari ini) 12 tahun! Itu belum terhitung yang umroh dan wisata ke negara selain Arab, jumlahnya mencapai 8 juta.

 

Neraca perdagangan yang net impor juga menyedot devisa. Tiga sektor yang paling besar impornya adalah BBM, penerbangan, dan barang elektronik. Tiga hal itu juga susah diotak-atik karena negara ini memang net impor minyak bumi, industri pesawat terbang belum kokoh, dan perusahaan elektroniknya masih taraf “merakit”, belum sampai level “membuat”.

 

Satu-satunya cara yang realistis adalah berhemat. Atau yang paling solutif tapi agak sulit adalah rakyat diminta untuk “puasa” sementara waktu. “Puasa” sampai Indonesia tidak menggantungkan energinya dari minyak bumi. “Puasa” sampai industri penerbangan bangkit lagi. Dan “puasa” sampai sampai rakyat bisa “membuat” alat-alat elektronik.

 

Bisakah rakyat Indonesia menjalankan “puasa” ini? Mungkin.

 

Secara teknis bisa, mengingat 150 juta rakyat Indonesia sekarang adalah kelas menengah. Sudah lebih dari setengah penduduk kita kuat ber-”puasa”, jumlah itu belum termasuk yang kelas atas. Tapi secara psikologis tidak mungkin, dari 150 juta kelas menengah, 120 jutanya berstatus “baru masuk” kelas menengah. Kelas menengah baru seperti itu tidak mungkin diminta untuk hidup hemat, mereka sudah lama hidup miskin dan baru sebentar merasakan hidup sejahtera. Itulah kenapa kampanye “earth hour” hanya berhasil di negara maju.

 

Di keluarga saya sendiri, saya sudah lama mengkampanyekan hidup hemat. Karena termasuk keluarga “baru masuk” kelas menengah, kampanye itu tidak pernah berhasil. Orang tua menjelaskannya dengan cukup logis. Jika umur hidup manusia adalah 60 tahun, maka saya “hanya” sempat miskin 1/4 umur, tidak menanggung beban ekonomi pula. Wajar kalau kuat ber-”puasa”. Sedangkan mereka merasakan 3/4 umur hidupnya dalam kondisi miskin, menanggung beban anak-anaknya pula. Mana mau sisa hidup yang tinggal 15 tahun itu merasakan miskin lagi? Dari situ saya berpikiran, kondisi seperti ini tidak hanya di keluarga saya saja, tapi juga di 120 juta orang menengah baru.

 

Bentuk “puasa” yang paling berhasil adalah bertindak efisien. Efisien dari sudut manapun. Dari sudut ekonomi misalnya, laptop yang saya pakai untuk mengetik notes ini, yang notabene terpaksa impor, diberi garansi pabrikan 2 tahun. Artinya kita bisa mengoptimalkan pemakaiannya selama 2 tahun, atau bahkan bisa menjadi sangat ekonomis jika bisa dipakai sampai 4 tahun, baru boleh ganti yang baru agar bisa “puasa” impor 1 laptop. Walaupun kenyataanya laptop didepan saya berumur 8 tahun dan belum diganti.

 

Di keluarga sendiri, hidup efisien berhasil, baik mulai dari mobil, HP, laptop, sampai AC, saya ijinkan untuk beli barang impor tapi juga saya paksa untuk diperlakukan seefisien mungkin. Karena berhasil, saya yakin akan berhasil juga untuk 120 juta kelas menengah baru lainnya. Bahkan lebih berhasil lagi jika dikemas dengan kata “produktif” karena orang selalu mengaitkan produktivitas dengan bertambahnya uang.

 

Memang secara agama “puasa” untuk hidup efisien seperti ini tidak ada tuntunan wajibnya dari Al Quran maupun Hadits. Bahkan mungkin dianggap bid’ah. Tapi, Allah Maha Tahu segala niat, tindakan, dan tujuan baik hamba-Nya. Allah juga Maha Adil untuk memutuskan “puasa” ini berpahala atau tidak. Jika puasa sunnah dijanjikan Allah tidak akan membuat hamba-Nya sakit, maka setidaknya “puasa” yang bisa menambah devisa ini juga mungkin tidak akan membuat Indonesia krisis ekonomi lagi

Leave a comment »

BELAJAR TOLERANSI DARI NU DAN MUHAMMADIYAH


Memang bulan Ramadhan masih sekitar 1 bulan lagi, tapi banyaknya postingan pengingat puasa, saya jadi ingat “pertikaian nasional” penentuan tanggal Ramadhan yang biasanya terjadi setiap tahun, entah itu penentuan awal puasa maupun penentuan Idul Fitri.

 

Kadang saya sering kasian dengan teman yang beragama lain. Mereka mengeluh penentuan tanggal hari besar umat Islam tersebut menguras energi nasional sangat banyak. Terjadi setiap tahun. Dan juga dengan organisasi Islam yang sama, Nadhatul Ulama(NU) dengan Muhammadiyah. Namun, kalau NU dan Muhammadiyah sepakat sama penanggalannya, biasanya organisasi lain mengalah, “keributan nasional” tidak terjadi.

 

Saya sendiri senang adanya perbedaan penanggalan puasa karena bisa menjadi percontohan nasional tentang toleransi antar umat. Bayangkan, mereka berdua sangat ngotot dengan ajarannya masing-masing, saling merasa paling benar, bahkan perbedaan itu dijadikan adu argumen di televisi nasional. Tapi, saat terjadi perbedaan penanggalan puasa, NU maupun Muhammadiyah sama-sama menjalankan sesuai keyakinannya. Tanpa saling mengganggu, menghina, dan menghalangi.

 

Jika Muhammadiyah merayakan Idul Fitri lebih dulu, mereka hanya menghentikan puasa Ramadhan dan sholat Id pagi hari. Tidak ada perayaan kupatan atau tabligh akbar keliling. Mereka menunda itu semua karena menunggu sahabatnya, NU, menyelesaikan puasa Ramadhan agar mereka bisa merayakan hari kemenangan bersama, dan tentu menikmati kupatan bersama juga. Begitu juga jika kondisinya NU merayakan Idul Fitri lebih dulu.

 

Pertikaian nasional antara NU dan Muhammadiyah inilah yang seharusnya jadi model nasional untuk urusan pertikaian-pertikaian antar aliran, dan juga antar umat beragama. Islam melarang timbulnya perpecahan umat, tidak pernah melarang adanya perbedaan pendapat. Toh, jika Allah ingin umat Islam hanya punya satu pendapat, Allah tinggal menghendakinya. Jika merujuk pada model seperti ini, seharusnya kasus-kasus kekerasan seperti Ahmadiyah, Syiah, dkk tidak pernah terjadi.

 

Berbagai kasus pertikaian antar agama di tanah air juga tidak ada satupun yang benar-benar murni pertikaian antar agama. Yang paling terkenal misalnya, kerusuhan Ambon tahun 1998, sebenarnya hanyalah pertikaian antar pemuda, yang kebetulan berbeda kampung, yang kebetulan juga kampungnya berbeda agama. Karena setiap agama menjanjikan surga bagi penganut yang membela agamanya, solidaritas satu agama bisa kuat secara tiba-tiba, bahkan membabi buta. Pertikaian antar pemuda itu menjadi kerusuhan antar agama se-Ambon.

 

Toleransi yang dicontohkan oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu seharusnya bisa jadi contoh juga dalam kasus antar umat beragama. Konsep hidup di negara yang agamanya heterogen sudah sangat jelas. Setiap agama punya kewajiban untuk menyebarkan ajarannya ke seluruh manusia. Tapi setiap agama itu juga, punya aturan tentang toleransi untuk menghormati keyakinan agama lain. Jadi, kita sebenarnya tidak punya alasan bertikai karena perbedaan agama. Bahkan kita bisa meniru toleransi antar umat dari pertikaian NU dan Muhammadiyah saat bulan Ramadhan.

Leave a comment »

ASA M08 DARI TUGU PAHLAWAN


Dulu, saat berangkat sekolah melewati Tugu Pahlawan Surabaya, saya selalu memikirkan pikiran orang-orang yang menggagas bangunan itu.

 

Kenapa mereka membangun Tugu Pahlawan? Padahal, zaman itu juga, seluruh rakyat Indonesia sudah tau bahwa telah terjadi pertempuran hebat melawan penjajah di Surabaya. Toh, cerita pertempuran itu akan selalu dikenang dalam buku sejarah tiap anak sekolah.

 

Ternyata pertanyaan itu baru terjawab sekarang. Di era orang sangat sibuk dengan dirinya sendiri, Tugu Pahlawan selalu mengingatkan perjuangan para pendahulunya. Fungsi “pengingat” itu tentu tidak didapat dari buku sejarah sekolahan. Apalagi dari cerita kakek neneknya.

 

Ini juga semacam “pemberitahuan” kepada orang yang melewati Surabaya. Mereka pasti bertanya, kenapa Surabaya diberi gelar Kota Pahlawan dan ada monumennya? Pasti dengan bangga orang Surabaya menjawab: Karena gelar pahlawan tidak disematkan pada satu orang, tapi kepada semua bonekbonekyang membunuh 2 jenderal Inggris dan mengusir Allied dari Surabaya.

 

Fungsi “pengingat” dan “pemberitahuan” inilah menjadi inspirasi digagasnya kenangan M08 dihadirkan secara fisik menjadi sebuah buku.

 

Buku ini “pengingat” semua tentang M08, mulai dari susahnya kuliah mesin, praktikum seabrek, nasehat dan quote dosen, kaderisasi yang bar-bar, tragedi mobil baksos wafi, laskar mesin yang ngulang matkul, gosip cinta segi-6 (yang 6orangnya itu M08 semua), hearing yang asyik sekaligus menjengkelkan, alien yang menyamar jadi dosen metro, TA penuh PHP, HMM tempat belajar menjelang ujian, UTS malem-malem, dan semuanya yang berkaitandengan kebersamaan M08.

 

Buku ini juga jadi “pemberitahuan”orang sekitar M08. Orang tua pasti kaget kegiatan kita pas liat buku M08. Teman-teman sekitar kita juga akan kagum dengan segala aktivitas bar-bar semasa kuliah. Bahkan bisa jadi katalog pria idaman klo ada temen cewek yang kebetulan baca. Atau mungkin buku dongeng bergambar untuk anak-anak kita kelak.

 

———————————-

 

Saat buku kenangan M08 digagas tahun lalu, banyak sekali yang menanggapi positif. Saat itu saya kebetulan sedang berada dirumahnya Wafi. Dan kebetulan juga dimintai tolong untuk mengurusnya. Melihat dukungan di grup angkatan yang cukup besar, saya iyakan.

 

Sialnya, beberapa saat setelah amanah itu diberikan, saya tertimpa musibah. Saya kehilangan uang 1,6 juta. Kehilangan gara-gara gagal mengendalikan keuangan acara Ikamanggaluh yang saya pimpin. Hilangnya 1,6 juta tentu menjadi pukulan keras buat saya, yang akhirnya semangat mengerjakan buku kenangan itu hilang.

 

Untungnya, ada Yudo, Luna, Randi, Mamad, dan Monik berinisiatif menjalankannya. Proyek angkatan ini selamat! Tapi juga mati lagi karena kesibukan masing-masing.

 

Awal tahun ini, saya menyempatkan jalan-jalan ke Surabaya. Begitu melihat Tugu Pahlawan, saya ingat kembali buku angkatan M08. Melihat fungsi “pengingat” dan “pemberitahuan” bangunan bersejarah itu, timbul keinginan menebus dosa proyek yang telah jadi wacana manis.

 

Saya berdiskusi lagi dengan ketua angkatan, Wafi. Inti pembicaraan hanya 2, buku ini harus jadi danharus selesai secepatnya. Setelah itu saya diskusikan juga dengan wakil ketua angkatan, Mamad. Inti diskusinya juga cuma 2, tapi beda. Mamad berpesan buku ini harus sebagus mungkin danharus semengenang mungkin.

 

Di awal keberjalanannya, saya mengajak panitia lama yang telah “berpengalaman” untuk melanjutkan proyek angkatan ini. Tapi ternyata justru “pengalaman” inilah yang membuat mereka kehilangan asa.

 

Dari situ saya memutuskan untuk membuat kepanitiaan baru.Yang isinya orang-orang polos. Yang isinya orang-orang mau bekerja. Yang isinya orang-orang berdedikasi untuk angkatan. Dan tentu, yang isinya orang-orang yang masih eksis dikampus.

 

Agar pekerjaan ini tidak dimulai dari nol lagi, kepanitianyang baru ini estafet dari hasil kerja kepanitian lama. Panitia lama ternyata memberikan kejutan dengan mengatakan bahwa proyek ini belum jalan.  Jika diibaratkan lomba lari estafet, panitia yang baru ini mengambil tongkat estafet dari garis start.

 

Saat panitia baru terbentuk, jumlahnya hanya 2. Saya dan Opik. Saya akalin datang ke Lab Pendingin yang kebetulan saat itu sedang ramai M08. Saya lempar gagasan ini ke semua yang ada di Ruang Asisten. Responnya luar biasa, Nizar, Vicky, dan Fuadi menawarkan diri membantu. Sisanya mendukung. Sama sekali tidak ada yang pesimis.

 

Memang yang saya takutkan pertama kali adalah respon pesimis, yang untungnya tidak ada. Sebagai info saja, hampir semua jurusan ITB angkatan 2008 ini punya keinginan bikin buku angkatan. Nasibnya sama , jadi wacanasemuanya. Kecuali satu, Teknik Industri.

 

Beruntung punya teman di TI, yang tidak hanya manis, tapi juga baik hati. Namanya Pipit. Dia rela meminjamkan buku kenangan angkatannya sebagai referensi proyek ini. Dia hanya meminta satu syarat, bukunya tidak boleh dipakai buat kepo anak-anak TI. Saya menyanggupinya. Tapi saya lupa menceritakan permintaan ini ke panitia buku angkatan. Tak apalah, sampai sekarang tidak pernah dipakai untuk hal yang aneh-aneh.

 

Dalam keberjalanannya, jumlah panitia bertambah. Berhasil mencomot satu panita lama untuk bergabung kembali, Monik. Dan juga relawan dari Torbak, Dwiky. Dengan konsep yang telah dibahas sebelumnya, proyek ini berhasil jalan kedepan. Dan mulai menunjukkan hasilnya.

 

Pada kenyataanya, panitia ini terus bertambah dan bertambah. Konsep biodata yang diurus Dwiky, dibantu Esta dan Mamad. Sebuah konsep yang kontennya banyak yang harus disensor, tapi justru yang disensor ini yang akan ditampilkan agar “mengenang”. Pengumpulan foto-foto angkatan juga dibantu oleh fotografer angkatan, mulai dari Toto, Randi, Ferlin, Arif, Valdo, sampai Aan. Dan totalnya mencapai 50 GB! Bahkan mungkin lebih jika ditambah foto dari Alfin. Kedepan, konsep pembuatan timeline angkatan yang dikerjakan oleh Vicky, akan dibantu panitia baru lagi. Ada Fajar, Toto, dan Luna, panitia lama yang bersemangat lagi. Hadirnya Luna dan ide kerennya tentu akan menambah ciamik konsep buku angkatan ini.

 

Masalah mulai muncul dari biaya. Semua orang sepakat bahwa buku kenangan TI08 ini bagus. Dan Semua orang juga ingin sebagus buku itu. Tapi harga buku angkatan TI08 ini 150rb. Itupun dengan tambahan subsidi angkatan,desainer sendiri, dan dicetak dalam jumlah yang sangat banyak. Sedangkan M08, jika ingin sama bagusnya, harganya tentu lebih mahal. Selain tidak punya kas angkatan yang menyubsidi harga, panitia meng-hire desainer dari luar, dan dicetak dalam jumlah yang lebih sedikit dari TI08. Harganya sekitar 180rbu. Ditambah biaya tak terduga dan safety faktor untuk orang yang tidak ikhlas membayar, diputuskan harganya 200rbu.

 

Mahalkah 200ribu? Tergantung sudut pandang melihatnya. Jika dilihat dari sisi mahasiswa dan dibayar saat ini, tentu sangat mahal. Tapi jika dilihat dari esensi buku yang cuma satu sepanjang hidup, dan kenangan-kenangan didalamnya, 200ribu ini menjadi sangat murah.

 

Saya sempat survei sampel pendapat tentang harga 200ribu ini. Dari 15 M08 yang beruntung, 3 orang menjawab OKE, 11 orang menjawab “tergantung isinya”, dan 1 orang menolak karena terlalu mahal.

 

Saya tertarik dengan 11 orang yang menjawab “tergantung isinya”. Di dalam benaknya, mungkin mereka mengira bukunya sim-salabim jadi, panita menjualnya, dan mereka menentukan apakah mau beli atau tidak. Padahal, ini bukan jual beli yang bisa tawar menawar seperti pedagang. Ini buku angkatan yang akan diberikan ke setiap M08.

 

Yang menarik adalah beberapa komentar yang mengatakan “klo bisa” dimurahin. Saya senang dengan cara berpikir “klo bisa”. Panitia pun berpikiran hal yang sama, bahkan lebih lebih hebat!

 

“klo bisa” panitia nyetak buku kenangan yang biayanya gratis! “klo bisa” panitia dapet desainer dari luar yang ikhlas ga dibayar! “klo bisa”panitia ga perlu repot-repot mikirin konsep buku angkatan dan nyari konten didalamnya! “klo bisa” panitia ga perlu kehilangan waktu TA yang tersita gara-gara buku angkatan! Bahkan, “klo bisa” panitia yang ga dibayar serupiahpun ini tiba-tiba punya 130 buku angkatan yang sudah jadi dan gratis!

 

Masalah keuangan ini tentu sangat pelik sekali, yang pinter nyari duit pun juga pasti bingung karena sumber keuangan dan sumber pengeluarannya sama. Sama-sama dari M08 dan sama-sama untuk M08. Nilainya pun juga sangat besar, 26 juta! Beda dengan kegiatan kepanitian lain seperti Mecha atau MFest, sumber keuangan dari sponsor dan sumber pengeluaran dari kegiatan panitia untuk masyarakat sekitar.

 

Saya percaya tiap masalah ada jalan keluarnya. Bukan masalah namanya kalau tidak punya jalan keluar. Ada waktunya M08 semakin sadar kepentingan buku ini dan semakin banyak yang menerima harga ini. Mungkin tidak sekarang, karena banyak yang tidak melihat kerja panitia dan melihat contoh buku angkatan TI08 yang harganya 150ribu itu. Tapi harus dikomunikasikan secepat mungkin agar M08 mengerti dan menerimanya.

 

Jumlah panitia yang semakin banyak, pertanda harapan hadirnya buku angkatan M08 semakin membesar. Asa yang besar ini harus terus dijaga dan jangan sampai putus, karena putus asa lebih berbahaya dibandingkan putus cinta. Tak apalah cinta di Farmasi kandas, yang penting asa dan kehadiran buku angkatan M08 ini nyata.

 

Leave a comment »

SUDAH WAKTUNYA DPR DICINTAI RAKYAT LAGI


Akhir-akhir ini banyak organisasi yang “mengatasnamakan rakyat” dalam aksi unjuk rasa. Ormas tua seperti Perserikatan Buruh dan Aliansi Desa “mengatasnamakan rakyat” saat aksi di depan gedung DPR. Bahkan, saking pedenya, perserikatan buruh yang awalnya menuntut kenaikan UMR tiba-tiba ikut menuntut pembatalan UU Kamnas. Ormas yang isinya anak muda juga tidak kalah pede. Seperti organisasi BEM, KM, Pemuda Pancasila, HMI, GMNI, HTI, semuanya mengatasnamakan rakyat dalam tiap aksinya. Padahal, lembaga yang direstui dan dipercaya oleh bangsa Indonesia untuk legitimasi rakyat adalah DPR.

 

Tahun 2012 kemarin memang kepercayaan rakyat kepada DPR merosot tajam. Maka, tahun 2013 ini harus menjadi titik balik DPR untuk membangun kembali kepercayaan rakyat. DPR yang berperan sebagai legitimasi rakyat, harus benar-benar dipercaya oleh rakyat. Jika tidak, nanti akan banyak ormas-ormas yang “mengatasnamakan rakyat” yang melawan hukum. Betapa bahaya negara ini jika “atas nama rakyat” dipegang oleh ormas-ormas, yang mungkin berniat menghancurkan negara ini.

 

Kita pernah melalui masa yang membahayakan itu. Yaitu saat masa gegap gempita reformasi tahun 1998. Masa dimana ormas-ormas yang dulunya bersebrangan dengan pemerintah diam karena takut dibredel, tiba-tiba turun kejalan mengatasnamakan rakyat Indonesia saat Presiden Suharto lengser.

 

Pada tahun 1998, 53 tahun lamaya bangsa Indonesia dipimpin gaya otoriter. Sebuah kepimpinan yang sangat presiden-sentris. Apapun yang bertentangan dengan perintah presiden, akan disingkirkan. Tahun itu juga, rakyat sudah pada titik jenuhnya dan menuntut reformasi di segala bidang. Para pemuda dari berbagai penjuru Tanah Air berdemontrasi menuntut pengunduran diri Presiden Suharto. Sedemikian banyak demonstran yang turun ke jalan, banyak dimafaatkan pihak tertentu untuk melakukan penjarahan di berbagai ibukota.

 

Kekacauan makin tak terkendali. Presiden Suharto akhirnya turun dari jabatannya tanggal 21 Mei 1998. Pak Habibie selaku wakil presiden menggantikannya. Bagi siapapun, tugas Presiden RI yang baru sangatlah berat, karena harus memimpin transisi menuju demokrasi secepat mungkin. Tapi juga harus selembut mungkin agar tidak terjadi perang saudara. Ibarat pesawat mendarat, harus sependek mungkin lintasannya agar tidak terperosok melampaui batas landasan, tapi juga harus selembut mungkin agar pesawat dan penumpang tidak mengalami gangguan.

 

Transisi yang dipimpin oleh Pak Habibie disorot tajam oleh oposisi karena dianggap meneruskan kepemimpinan Presiden Suharto. Oposisi menebar teror dengan anggapan bahwa kepemimpinan Pak Habibie tidak akan lebih dari 100 jam. Prediksi oposisi meleset. Tapi mereka juga tidak putus asa, teror baru menyebar bahwa kepemimpinan beliau hanya akan bertahan selama kurang dari 100 hari.

 

Selama masa teror itu juga, demonstrasi masih terjadi dimana-mana. Setelah tuntutan mundur Presiden Suharto berhasil dipenuhi, mereka masih menuntut adanya reformasi di berbagai bidang. Mulai hukum, ekonomi, sampai politik. Selama masa itulah, tokoh nasional yang berseberangan membuat kajian-kajian yang menggiring masyarakat pada opini pengleseran Habibie. Dampaknya, banyak orang yang tiba-tiba merasa mampu memimpin negeri sehingga membentuk ormas-ormas yang mengatasnamakan rakyat untuk memuluskan hasratnya.

 

Banyaknya orang yang ingin memimpin dan banyaknya ormas yang mengatasnamakan rakyat sangat rawan terjadi balkanisasi(perang saudara). Presiden Habibie menyadari hal itu dan tidak tuli mendengarkan aspirasi rakyat. Beliau sadar bahwa satu-satunya cara untuk membuktikan siapa yang sungguh-sungguh mengatasnamakan rakyat adalah melalui pemilu. Sebuah pemilihan yang harus bebas, jujur, dan adil dalam pelaksanaannya, dan dilaksanakan secepatnya agar tidak terjadi balkanisasi di Indonesia.

 

Ormas-ormas itu ditantang untuk masuk ke DPR, sebuah lembaga yang melegitimasi rakyat. Jika ormas itu banyak yang menjabat di DPR, berarti memang benar ormas tersebut mewakili rakyatnya. Kalau tidak, berarti hanya suara segelintir orang yang ambisius. Maka pada pemilu 1999, pemerintah tidak membatasi jumlah parpol yang menjadi peserta. Hingga akhirnya KPU menerima 48 partai politik yang ikut dalam pemilihan umum.

 

Tanggal 7 Juni 1999, pemilu dilaksanakan. Ditengah isu timbulnya pertumpahan darah, jumlah partisipasi sedikit, dan pemilu jujur dan adil adalah ilusi, ternyata rakyat Indonesia berhasil melawan semua kekhawatiran itu. Akhirnya terkuak juga organisasi yang benar-benar mengatasnamakan rakyat. Orgaisasi tersebut adalah parpol yang memenangi pemilu DPR, yaitu PDIP, Golkar, PPP, PKB,  PAN, dan PBB.

 

Lewat pemilulah akhirnya terbukti organisasi mana saja yang benar-benar pantas menjadi legitimasi rakyat. Meskipun “biaya politik” Pemilu 1999 sangat mahal, tapi sangat diperlukan dan harus dilakukan mengingat kondisi negara yang sedemikian sensitif kala itu.

 

Inilah DPR. Sebuah lembaga legitimasi rakyat yang orang-orangnya dipilih secara langsung melalui pemilu, dan diakui oleh keabsahannya baik dalam negeri maupun international. Lembaga ini pulalah satu-satunya yang berhak mengatasnamakan rakyat dalam tiap kebijakannya.

 

Jika kondisi DPR seperti sekarang(yang hampir kehilangan kepercayaan rakyat itu) dibiarkan terus-menerus, maka tidak mustahil tumbuh lagi ormas-ormas yang mengatasnamakan rakyat untuk melawan hukum. Mereka bisa saja berani menjarah toko-toko dan melibas kaum minoritas tanpa takut ditindak oleh aparat seperti krisis tahun 1998. Betapa bahayanya negara ini kalau hal ini kembali terulang.

 

Mungkin kekhawatiran ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, tapi mungkin terjadi 3-4 tahun berikutnya. Jika DPR tidak dipercaya rakyat, partisipan Pemilu 2014 akan sangat sedikit sekali. Dengan sedikitnya partisipan pemilu dalam pemilihan anggota DPR, ormas-ormas liar akan merasa sangat percaya diri bahwa mereka lebih layak mewakili rakyat daripada DPR. Karena tiap ormas merasa mewakili rakyat, maka tak ayal bisa muncul “hukum rimba” yang akan menguatkan yang kuat, tapi mematikan yang lemah.

 

Sungguh, para anggota DPR yang sekarang harus segera menyadari hal ini. Semoga tahun 2013, tahun yang katanya hiruk pikuk politik ini tidak terjadi lagi kasus korupsi, kongkalikong, pemerasan, pelesiran ke luar negeri, dan kasus lain yang dapat menurunkan kepercayaan rakyat kepada DPR.

Leave a comment »

SEBUAH CATATAN: AKHIRNYA TERBELI SAMBIL MENANGIS


Untuk kesekian kalinya orang tua menyebut saya sebagai anak cengeng. Mulai cengeng secara moral, secara mental, secara perasaan, sampai cengeng secara fisik. Dulu saya tidak terima denganjudgement seperti itu. Tapi akhirnya untuk kesekian kali juga saya menerima predikat cengeng itu , setelah tadi benar-benar menitikkan air mata. Cairan di mata ini akhirnya tumpah juga setelah memutuskan membeli kamera saku.

 

Membeli barang sambil menangis ini sebenarnya bukan yang pertama kali, sudah berkali-kali. Saya tidak ingat kapan pertama kali kebiasaan “beli barang sambil menangis” ini berawal. Ini kebiasaan yang buruk. Mungkin jika dilihat dari sisi psikologi, saya mengalami kelainan jiwa, mempunyai kebiasaan yang tidak umum dimiliki orang. Tapi ya inilah saya, saya sendiri juga kurang paham penyakit ini. Jadinya ya sudahlah, dibiarkan saja. Toh untungnya tidak mengganggu orang lain.

 

Dari sekian kejadian yang terlupakan itu, ada beberapa kenangan yang masih memoriam di otak.

 

Waktu saya kecil, saya sempat merengek minta nonton di bioskop. Syukurnya dikabulkan. Kami sekeluarga benar-benar berangkat ke salah satu mall di Surabaya yang ada Studio 21nya. Sampai disana, tiba-tiba saya menjadi tergoda-bernafsu-berkeinginan-berhasrat untuk membeli pop corn dan softdrink. Saya minta uang ke orang tua dengan wajah memelas. Jawaban orang tua ternyata sangat tegas, TIDAK.

 

Kala itu saya sangat sedih. Sembari menunggu filmnya ditayangkan, mata ini takteralihkan dari stand penjual popcorn dan softdrink. Melihatnya sambil bermimpi menikmati makanan ringan nan gurih itu. Setengah jam lamanya air liur ini bergejolak. Tepat ketika sekeluarga beranjak masuk studio, saya membuat keputusan gila kala itu. Memuntahkan semua uang di saku, yang sekaligus uang tabungan itu, untuk membeli 2 benda yang saya idam-idamkan. Saya ingat betul harga popcorn dan soft drink kala itu, karena untuk ukuran anak sekecil itu harga snack menguras tabungan sangat dalam sekali. Saya paham dan rasakan betul sensasinya. Hingga akhirnya saya menukarkan sekumpulan uang receh di saku sambil menangis. Entah apa yang ada dibenak tangisan saya itu, yang jelas perasaannya sangat campur aduk.

 

Ada lagi yang masih memoriam. Saat membeli HP Sony yang bisa buka tutup itu.

 

Jaman kelas 1 SMA, saya termasuk orang katrok gara-gara tidak punya HP. Yang saya ingat ada 5 orang yang tidak punya HP di sekolah, saya termasuk 5 orang itu. Betapa terasingnya saya karena tidak mempunyai alat komunikasi itu, akhirnya saya merengek minta belikan HP. Orang tua saya sendiri masih awam dengan HP, tentu permintaan itu ditolak. Tak putus asa, rengekan itu berlanjut mulai awal masuk kelas 1 sampai, entah kapan, orang tua mau membelikan HP untuk saya. Syukur, meskipun menunggu 1 tahun lebih, ibu membelikan HP baru saat awal masuk kelas 2.

 

Dalam perjalanannya, saya apes. HP yang saya simpan dalam tas sekolah basah kuyup karena bocornya botol air minum yang sialnya dalam satu tas. HP rusak parah. Saya panik. Ibu dan bapak pun cuek tak mau ikut terlibat. Saya datang ke berbagai service HP se Surabaya, tidak ada yang sanggup memperbaikinya. Tidak ada jalan lain lagi selain membeli baru. Tapi, orang tua menjawab dengan tegas, TIDAK.

 

Saya sedih. Hidup ini sudah sangat menggantungkan kepiawaian teknologi komunikasi itu. Akhirnya, saya membuat keputusan mencengangkan kala itu, merogoh dalam-dalam uang tabungan yang telah lama dikumpulkan bertahun-tahun untuk membeli HP. Ibarat kedalaman sumur, tabungan ini sudah sampai di “genangan airnya”. Saat itu memang belum ada HP murahan dari China yang ordenya ratusan ribu, semuanya diatas satu juta. Saya sudah terlanjur bertekad membeli HP baru, yang tekadnya itu berujung beli HP baru sambil menangis. Menangis karena mahalnya pengorbanan uang itu, pengorbanan menabung bertahun-tahun.

 

Sekarang, yang kuliahnya udah hampir berakhir ini masih mengalami lagi.

 

Saya senang mengabadikan sesuatu, baik tulisan maupun gambar. Mengabadikan lewat tulisan terpenuhi berkat laptop warisan dari sang bapak. Tapi hasrat pada gambar belum ada medianya. Meskipun di HP ada kamera, tapi kualitasnya terlalu apa adanya. Hingga akhirnya saya berkeinginan kuat untuk mebeli kamera. Tidak perlu kamera DSLR yang berat-besar-mahal dan susah dibawa itu. Hanya perlu kamera saku. Saya memohon ke orang tua lagi, jawabanya masih sama, TIDAK.

 

Saya menerimanya dengan memelas. Saya memilih “mengerem” pengeluaran bulanan agar bisa mengumpulkan uang untuk membeli kamera saku. Rupanya, saya terlalu bernafsu segera mendapatkan benda idaman itu, hingga secara tak sengaja terlalu keras menekan “pedal rem” pengeluaran bulanan. Gara-gara terlalu berhemat, saya kolaps. Badan ini sakit-sakitan diwaktu yang benar-benar sangat tidak tepat, pertama di musim UTS dan kedua di musim UAS. Gara-gara sakit ini pula, pengeluaran malah bocor berlebih untuk membeli obat yang mahalnya tiada tara.

 

Hari ini, jumlah uang saya targetkan kesampaian juga. Rencana menabung selama 3 bulan meleset menjadi 4 bulan. Pengorbanannya pun tidak cuma menu makanan prihatin, tapi juga terjangkit penyakit, sekaligus bonus nilai UAS dan UTS yang berhamburan. Tak berpikir panjang, saya langsung buat deal-dealan harga dengan penjual kamera saku. Setelah deal, penyakit lama itu kambuh lagi, saya membeli kamera sambil meneteskan air mata. Ah, saya tidak menyangka sampai sebesar ini pengorbanannya.

 

Ternyata benar kata ibu. Saya ini cengeng, bahkan sangat cengeng sekali. Pengorbanan segitu saja ditangisi. Membayangkan tegarnya orang-orang yang dipinggir jalan kedinginan mengais rejeki, membayangkan tegarnya orang-orang cacat yang harapan hidupnya hampir tidak ada, membayangkan tegarnya orang-orang yang iri melihat hidup mahasiswa bahagia, membayangkan tegarnya orang-orang menjajakan dagangan di terminal dan dalam bus, banyak sekali bayangan di pikiran saya.

 

Kesimpulannya tak berubah, dibandingkan orang-orang yan ada dibayangan itu tadi, saya masih jauh lebih lemah. Ini harus berubah, saya tak boleh secengeng ini lagi. Saya berikrar, kamera saku baru ini harus menjadi saksi dari akhirnya sifat cengeng ini. Merdeka!

 

 

SUSELO SULUHITO

Graduation Hope!(8) 

Leave a comment »