DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

ANGKATAN PAMUNGKAS SMALANE

on July 25, 2010

Brakkk…. Brakkk…. Brakkk….
Itulah penutup lagu terkahir dari Gita Smala siang tadi. Kalau saja tadi melihat penampilan Gita Smala di Festival Paduan Suara ITB (FPS ITB), saya yakin semua orang berdecak kagum melihat performanya. Saya sendiri memang tidak secara langsung masuk Aula Barat dengan mereka, hanya di luar pintu masuk. Tapi dari luar pintu masuk tadi saja saya bisa mendengarkan cantiknya kolaborasi paduan suara yang dibina oleh bu Puji, guru Kewarganegaraan di Smala.

Setelah tampil di Albar, tim Gita Smala bergegas menuju selasar planologi untuk foto-foto satu tim Paduan Suara. Disana bersama dengan Gio, Tika, Uke, Mimiy, dan Momon, saya sempat ngobrol-ngobrol sebentar tentang Srikandi Gita Smala. Mata saya berbinar-binar melihat kecantikan mereka yang menakjubkan. Awalnya saya ragu klo mereka hanya cantik sesaat alias karena di make-up. Tapi rekan seperjuanganku tadi yang lebih dekat mengenal mereka menyakikan saya bahwa mereka memang cantik sebelum dirias. Sungguh luar biasa, peningkatan kualitas bidadari Smalane meningkat sangat signifikan jika melihat perkembangan dari angkatan 2006 hingga angkatan 2010.

ANGKATAN SBI

Tiba-tiba saya ingat bahwa mereka semua adalah angkatan Smala SNBI(Sekolah Nasional Bertaraf International) 100 persen (sekarang lebih dikenal sebagai SBI, Sekolah Bertaraf International). FYI, SBI di Smala sendiri ada sejak angkatanku(2008), namun itu hanya 2 kelas rintisan saja. Begitu juga Smalane angkatan 2009 dan 2010. Warga SBI sendiri dikenakan tarif yang jauh lebih mahal dibandingkan kelas reguler oleh pihak sekolah. Pada tahun 2008, sekolah membuat kebijakan menutup semua kelas regular dan membuka 9 kelas SBI untuk ajaran baru.

Menurut saya, ada korelasi antara tingkat kemakmuran dengan tingkat kecantikan seorang wanita. Gadis dengan kemampuan ekonomi sangat makmur cenderung lebih merawat dirinya dengan kualitas super sehingga kecantikannya ikut-ikutan super. Dari sana saya membuat hipotesa bahwa kecantikan mereka bersinar karena mereka adalah kaum mumpuni. Tapi bukan itu yang ingin saya pikirkan saat ini. Tapi ATMOSFER Smala dahulu, sekarang, dan nantinya.

ATMOSFER EKSTRIM

Ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di sekolah ini, sepintas tidak ada yang jauh berbeda dari SMP dulu. Siswa-siswi Smala mempunyai latar belakang ekonomi yang sangat bervariasi dan toleransi hati juga masih kental dengan perbedaan kemampuan ekonomi itu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya merasa teman-teman saya cukup hedonis mengingat banyak sekali yang hobi jalan-jalan ke mall dan nonton film-film di bioskop yang mana hobi itu tidak saya temui di SMPku yang tercinta, Spensagress. Tapi sebenarnya gaya hidup mereka juga cukup wajar jika dibandingkan dengan tiga sekolah tetangga yang ternyata tingkat hedonnya lebih mengerikan.

Dengan variasi ekonomi di Smala kala itu, warga Smala mempunyai etika yang sangat baik. Anak orang kaya tetap berperilaku sederhana selayaknya siswa lain pada umumnya. Begitu juga hal-hal lain seperti jalinan silahturami kaya-miskin yang tidak ada sekat pembatas, kebersamaan tanpa pembeda latar ekonomi, saling berbagi tawa dan canda, kerja sama berjuang di segala lomba, dan keharmonisan untuk berbagi ilmu pengetahuan antarsiswa. Sungguh atmosfer yang cukup indah di sekolahku ini.

Tapi hal ini pasti akan lenyap pada angkatan baru tahun 2008. Semua siswa dipukul rata dikenakan sekolah tarif international sehingga saya yakin tingkat ekonomi mereka juga 100 persen mumpuni. Otomatis atmosfer tenggang rasa seperti di angkatan yang lebih dulu dari mereka juga pasti hilang karena ada kehomogenan baru yang hadir di tengah-tengah mereka. Agak malang juga nasib mereka tidak mendapat ilmu keharmonisan hidup bersama secara langsung.

Smalane angkatan 2010 yang barusan lulus sekarang adalah angkatan Smala terakhir yang masih memiliki kelas regular. Sehingga saya menyebutnya sekarang adalah Smalane angkatan pamungkas. Dan Smala sekarang telah dihuni 100 persen siswa SBI atau bahasa ekonominya dihuni 100 persen anak orang kaya. Cukup memprihatikan jika komite akademik Smala meng”ekslusif”kan diri menjadi sekolah borjuis sehingga anak dengan kemampuan ekonomi rendah tidak bisa bergabung menjadi warga Smala. Ini sangat tidak adil jika hanya orang kaya yang boleh mengakses pendidikan terbaik di Indonesia.

Beasiswa siswa miskin di Smala? Menurutku itu omong kosong. Dulu ketika saya masih berstatus Smalane memang banyak teman-temanku yang mendapatkan beasiswa dari luar sekolah melalui BP Smala. Tapi adik kelas saya pernah bercerita bahwa semenjak angkatan dia, mendapatkan beasiswa di Smala dipersulit. Bahkan adik kelasku sendiri yang memang membutuhkan bantuan finansial untuk sekolah juga tidak mendapatkan beasiswa dari Smala. Dari situ saja saya bisa tahu arah Smala selanjutnya setelah di tutup semua kelas regulernya, yaitu menutup beasiswa untuk yang membutuhkan(CMIIW).

SBI SMALA DIEVALUASI PEMERINTAH

Kabar menteri pendidikan mengevaluasi keberlanjutan sekolah bertaraf international akhir-akhir ini patut diapresisasi. Dinas pendidikan menilai di lapangan bahwa pada kenyataannya banyak sekolah-sekolah yang menyalahgunakan status sekolah international. SMA 5 Surabaya juga pasti tak luput dari evaluasi pemerintah tentang keberlangsungan status internationalnya.

Mungkin warga Smala disana saat ini berharap status sangar mereka tetap tersematkan di sekolah mereka. Tapi saya berbeda, saya berdoa semoga SBI diseluruh Indonesia DIHAPUSKAN. Saya bukan bermaksud jelek menjatuhkan kualitas sekolahku tercinta ini. Tapi saya yakin, permasalahan atmosfer hidup selaras dari keberagaman yang hilang di sekolah tidak hanya dialami oleh SMA 5 Surabaya, tapi juga sekolah-sekolah favorit di kota lain yang mengejar status international. Saya menganggap dengan bubarnya SBI, maka sekolah-sekolah favorit yang memiliki fasilitas memadai akan menurunkan kembali biaya SPP untuk siswanya seperti kelas regular sebelumnya. Dan dari situ jugalah calon siswa-siswi kurang mampu yang mempunyai semangat tinggi mencari ilmu mendapatkan kembali haknya untuk bersekolah dengan fasilitas lengkap seperti yang anak orang kaya dapatkan selama ini.

SALAH KAPRAH KELAS INTERNATIONAL

Di Negara-negara maju, kelas international bukanlah kelas yang diisi oleh orang-orang pribumi kaya yang ingin mendapatkan akses internatiaonal. Tapi justru diisi oleh SISWA DARI LUAR NEGERI yang sedang bersekolah di Negara tersebut karena adanya Kendala bahasa pengantar. Kita ambil contoh adalah kelas international di Jepang. Bahasa pengantar untuk pendidikan di Jepang adalah bahasa nasional, yaitu bahasa Jepang. Dan siswa yang dari luar Jepang pasti kesulitan menyerap ilmu dengan bahasa pengantar Jepang jika mereka ikut bersama kelas regular sekolah pada umumnya. Oleh karena itu, pemerintah Jepang membuat kelas international dengan bahasa inggris sebagai pengantar untuk memudahkan siswa asing dari luar Jepang mengikuti pendidikan dasar sesuai kurikulum(CMIIW). Dan terbukti Jepang bisa menjadi salah satu kiblat pendidikan dunia dengan mempertahankan sistem seperti itu.

Hal ini berbeda dengan sekolah di Indonesia yang justru membuat kelas international untuk “menginternationalkan” murid-murid pribumi. Mengadakan kelas SBI membuat bahasa Indonesia menjadi tergeser sedikit demi sedikit karena pengantar sehari-harinya adalah bahasa inggris. Dan sungguh saya sulit membayangkan jika anak-anak kita nantinya mahir berbahasa inggris dan tidak lancar bahasa Indonesia seperti artis Cinta Laura.

Saat ini ITB sendiri juga menerapkan kurikulum yang hampir sama seperti di Jepang(CMIIW). Yaitu menyedikan kelas international untuk siswa yang memang berasal dari luar Indonesia untuk memudahkan mereka mengikuti pendidikan di ITB. Bukan untuk me”londo”kan mahasiswanya seperti yang terjadi di SMA-SMA belakangan ini. Mungkin sistem seperti ini bisa dijadikan model bagi SMA yang ngotot ingin mengahdirkan kelas International.

Semoga adanya evaluasi dari pemerintah saat ini tentang sekolah bertaraf international menemukan solusi yang lebih cerdas dan cocok diterapkan di Indonesia dengan memperhatikan akses pendidikan negara ini yang masih tidak merata di seluruh pelosok negeri.

Maju Terus Pendidikan INDONESIA! Bravo SMALANE!


2 responses to “ANGKATAN PAMUNGKAS SMALANE

  1. nn says:

    emang SBI mahal yaa? soalnya kalo yang aku lihat ga gitu… (adekku juga sbi soalnya,, tapi tetangga sebelah).

    lagian kalo fenomena yang aku lihat justru SBI memberikan kesempatan kedua untuk siswa yang nilai UAN nya ga begitu bagus walau dia mampu.. dan susah sih kalo sma dibandingkan dengan iTB.

    karna spp SBI masih tergolong normal lho. dan menurutku yang kebablasan mahalnya tuh malah ITB dan UI

    • suluh says:

      sangat mahal klo dibandingkan regular na.

      emang bener ngasih kesempatan siswa yang UAN ga begitu bgus yang mampu finansial. tapi klo siswa kurang mampu tapi nilai UAN bagus gmana?

      SPP ITB memang cukup mahal jika dibandingkan kampus2 lain di Indonesia, tapi sangat murah jika dibandingkan Worldclass University sekaliber ITB. FYI, ITB kampus teknik terbaik ke 80 di dunia. silahkan dibandingkan SPP dengan yang peringkat sekitar itu, peringkat 81,82,83,dst…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: