DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

FPI: KASUS DEMI KASUS

on September 15, 2010

Berat sekali rasanya saat saya ingin mengulas LSM Front Pembela Islam(FPI) disini. Sesuatu yang sangat sensitif karena menyangkut kerukunan antar umat beragama dan juga kerukunan dalam agama Islam sendiri. Tapi saya sebagai penulis akan mencoba mengulasnya seobjektif mungkin dan semoga tidak ada kalimat atau isi dari tulisan ini yang menyinggung kaum manapun.

Bismillahirohmanirohim…

Sering kali FPI disematkan sebagai agama Islam aliran keras oleh media massa baik televisi maupun koran dan majalah. Saya yakin tidak ada satu orangpun yang bisa mendefinisikan batasan apa yang menjadi penentu suatu aliran tersebut dianggap aliran keras. Mereka yang menyebut FPI itu aliran keras hanya omongan emosi sesaat akibat kejadian kekerasan yang dialami maupun dilakukan oleh FPI.

Banyak sekali orang-orang yang ingin membubarkan FPI dengan alasan menyimpang ajaran Islam padahal orang-orang itu sendiri belum mengenal Islam dengan benar. Dan saya sendiri juga masih dalam tahap belajar sehingga sangat enggan menghakimi organisasi massa yang sudah mengakar ke seluruh penjuru tanah air itu.
Ketika FPI berulah dan masuk media massa, banyak sekali yang beramai-ramai menyerukan pembubaran FPI padahal belum mengerti benar perkara yang sebenarnya terjadi. Dan yang membuat saya sangat heran, kenapa ketika FPI terlibat suatu perkara langsung ada wacana pembubaran ormas?

Begini analoginya, saya ambil contoh suatu partai melakukan kampanye turun ke jalan untuk mencari dukungan. Iring-iringan konvoi partai seringkali menyebabkan macet di jalan dan bahkan tak jarang merusak mobil yang dilewati iring-iringan konvoi tersebut. Saya yakin, banyak sekali warga yang hanya “mbatin” karena terganggu ulah mereka ketika ada kegaduhan konvoi partai tersebut. Belum lagi ada tawuran yang menyebabkan kematian antar massa politik yang melibatkan anak-anak dan wanita. Bahkan hampir dipastikan ada kegiatan bakar mobil dan sepeda motor dadakan saat prosesi tawuran itu berlangsung.

Nah, ketika hal tersebut terjadi, orang beramai-ramai menuntut polisi menangkap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Sadarkah kawan bahwa tidak ada satupun yang menuntut pembubaran partai tersebut. Tapi kenapa ketika FPI berulah dan hanya melibatkan belasan orang saja bahkan tanpa ada aksi anarkis seperti pengusiran kaum gay, orang-orang langsung menuntut pemerintah membubarkan FPI? Apa yang terjadi kawan?

Aktivitas utama FPI sebenaranya adalah dakwah Islam ke masyarakat sekitar. Mereka melakukan aktivitas-aktivitas yang sangat mulia seperti pengkaderan remaja masjid, mengurus teknis pengembangan dan opersional tempat ibadah, mengadakan even takbiran, penyembelihan kurban, pengajian dengan warga, bakti sosial ke desa-desa, bahkan FPI mengirim sukarelawan ke daerah-daerah bencana seperti tsunami Aceh dan gempa Jogja, dan aktivitas-aktivitas lain. Maka sangat tidak mengherankan jika FPI diterima oleh masyarakat sekitar sehingga dapat berkembang pesat ke seluruh nusantara. Dan mungkin hal tersebut membuat berkembangnya simpatisan LSM ini dan juga banyaknya dukungan warga setempat sehingga pemerintah harus berpikir berulang kali untuk membubarkan FPI.

Saya yakin banyak sekali yang menyadari bahwa FPI bermanfaat sebagai kontrol sosial di masyarkat suatu daerah. FPI sering kali diminta langsung oleh tokoh masyarkat untuk membantu warga setempat mengusir kumpulan orang yang mabuk-mabukan, membubarkan tempat remang-remang yang banyak kegiatan prostitusi, menutup tempat-tempat hiburan ketika ramadhan, menentang kaum homo dan lesbi yang sering kali meresahkan masyarakat, dan aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan dengan kontrol sosial. Bagaimana fungsi satpol PP? Satpol PP bekerja sangat profesional ketika ada uang yang mengalir ke mereka seperti pembebasan lahan, pengusiran PKL, perebutan sengketa tanah, dan mungkin kontrol sosial yang pernah dilakukan adalah menangkap pekerja seks komersial. Itupun jarang sekali dilakukan dan hanya terjadi ketika ada uang yang membiayai gerakan satpol PP ini. Beda sekali oleh FPI yang beraksi oleh permintaan warga tanpa dibayar apapun dan siap mengorbankan nyawanya.

Pernah kali ada kejadian yang membuat saya tergelitik tentang aksi FPI ini. Dulu, FPI pernah melakukan pembubaran pesta miras dan seks bebas sekaligus menghancurkan bangunan tempat pesta tersebut itu berlangsung. Besoknya kawan-kawan media massa ramai memberitakan FPI melakukan aksi anarkis kepada sekelompok warga dengan disertai wanita yang tersiksa didalamnya. Penikmat media pun ikut-ikutan mengutuk aksi yang dilakukan FPI ini, bahkan ada yang frontal menuntut pembubaran ormas ini. Setelah beberapa saat berita tersebut turun, polisi turun ke lapangan untuk menangani langsung perkara itu. Dan alhasil tidak ada satupun warga yang tertangkap akibat peristiwa ini. Kau tahu kawan, bahwa ketika polisi menginvestigasi kasus ini, warga ramai-ramai melindungi FPI karena pada kenyataannya aksi FPI tersebut diminta oleh warga setempat karena pesta tersebut sangat meresahkan masyarakat sekitar. Saya kembalikan kepada kawan pembaca sendiri bagaimana menilai kasus ini. Tapi yang jelas, ketika polisi terhalang administrasi birokrasi dan aturan hukum untuk menghentikan pesta miras dan seks bebas tersebut, maka warga yang menghakimi pendosa tersebut tidak dapat disalahkan.

Tapi yang dilakukan FPI kadang ada yang menyimpang dari komitmen toleransi antar umat beragama. Pernah kali ormas ini menghalang-halangi pembangunan gereja di suatu wilayah di Indonesia 2 tahun lalu(bukan kasus bekasi yang barusan diberitakan). Mengahalang-halangi kebebasan umat beragama untuk beribadah seperti itu jelas tidak bisa dibenarkan baik secara hukum maupun etika bermasyarakat.

Jadi untuk mengulas aksi FPI, seharusnya kita mengupasnya kasus demi kasus. Bukan langsung menghakimi tanpa ada dasar yang jelas seperti yang biasa orang komentar di televisi. Ketika FPI melakukan hal yang tidak dapat dibenarkan seperti kasus menghalangi pembangunan gereja saat dua tahun lalu tersebut harus disikapi yang berbeda dengan aksi FPI menentang Islam aliran sesat seperti Ahmadiyah yang jelas-jelas menodai kaum muslimin.

Kawan, marilah kita bersikap dewasa dan tidak emosional dalam mengulas “tetek bengek” FPI ini. Bahaslah aksi FPI kasus demi kasus, bukan satu kasus untuk keseluruhan. Agar kita selalu bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan segala plurarisme yang ada di bangsa ini.

Semoga ulasan yang saya berikan ini dapat mencerahkan pandangan kawan-kawan pembaca. Dan mohon koreksinya jikalau ada pernyataan yang menyinggung suatu pihak agar tidak terjadi kesalahpahaman. Terima kasih.

SUSELO SULUHITO
Moeslem Indonesia


One response to “FPI: KASUS DEMI KASUS

  1. thahirahmad says:

    Sayangnya kita harus jujur tindakan FPI secara keseluruhan tidak bermanfaat bagi Islam. Citra Islam agama yang paling sempurna utk umat manusia tidak tercerminkan oleh FPI. Bagaimana mungkin masyarakat non-muslim akan tertarik kepada Islam jika di dalam pikirannya Islam adalah agama kekerasan? Mohon maaf jika tdk berkenan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: