DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

HARGA NAMA SEORANG ANAK KECIL

on September 15, 2010

Tahukah kalian, Saya bisa mengklaim bahwa saya pemuda yang beruntung. Kenapa? Karena kakak saya dikaruniai dua orang putri cantik yang mungil-mungil. Sehingga dengan usia saya yang masih 20 tahun ini, saya sudah bergelar “paman” di depan nama akte kelahiran saya. Dua keponakan saya sangat lucu tingkah lakunya sampai seorang lelaki seperti Suselo saja ikut-ikutan gemas dibuatnya.hehe. Mereka berdua mempunyai nama yang cukup cantik, satu bernama Aisyah Aqila Bilqis, dan yang paling muda Khadijah Kaiyisa Gashani.

Namun dibalik itu semua, ada sesuatu yang menggelitik otak kecil saya ini. Ayah dan ibu dari dua orang keponakan saya adalah orang Indonesia asli. Bahkan semua kakek dan neneknya pun mempunyai aliran darah khas pribumi Jawa. Lantas kenapa anak kecil yang lugu itu mempunyai nama bangsa arab?

Mungkin kawan-kawan semua pernah mendengar selentingan kecil seperti “apalah arti sebuah nama? Kalo saja bunga mawar itu kau ubah namanya, bunga itu akan tetap harum”. Pepatah itu mungkin membuat banyak diantara kita meremehkan arti sebuah nama karena diberi nama apapun, benda yang diberi nama itu juga tidak akan berubah. Tapi, Andaikan penemu bunga merah cantik pertama kali di dunia menemukannya di kebun pekarangan rumah menamakan “sampah merah”, pastilah bunga tersebut tidak akan sepopuler dengan nama bunga mawar sekarang. Dan saya berani bertaruh tidak akan pernah ada pria yang mau memberikan bunga itu saat makan berdua bersama kekasihnya. Jadi, Setujukah jikalau saya membuat pernyataan bahwa pepatah itu karangan ngawur pujangga belaka?

Dengan analogi diatas, pastilah kita semua setuju bahwa pemberian nama itu penting. Begitu juga kala kita mempunyai seorang anak, hendaknya nama anak tersebut haruslah dipikirkan matang-matang agar kelak anak kita bangga dengan nama pemberian orang tuanya. Ambilah contoh kisah nyata sepasang kekasih korban dari rezim Almarhum Mantan Presiden Suharto. Mungkin karena terlalu dendam dengan sang presiden, orang tua itu memberi nama “ Gempur Suharto” pada bayi mungilnya yang tanpa dosa itu. Sungguh itu perbuatan konyol orang tua yang membuat sang anak menjadi bahan olok-olokan oleh teman-teman sepermainannya. Tidak bisa disalahkan jikalau suatu saat si anak mengganti namanya sendiri karena malu dengan nama pemberian orang tuanya. Sungguh jika hal itu memang terjadi, harkat dan martabat orang tua dihadapan anak sangat jatuh. Kita semua tidak ingin seperti orang tua itu bukan?

Islam sendiri memberikan arahan yang sangat logis dalam urusan pemberian nama seorang anak. Pernah kali saya mendengar dalam Hadist, menyebutkan dua hal yang harus diperhatikan dalam pemberian nama, “nama adalah doa” dan “ berikanlah nama yang baik kepada anak-anakmu sekalian”. Jelaslah dari dua hal itu menunjukkan bahwa agama tidak meremehkan urusan pemberian nama.

Sering kali ketika saya bertemu seorang bayi kecil, yang pertama kali saya tanyakan kepada ibunya adalah nama sang bayi. Kalau sang ibu memberikan nama kem”inggris” pada sang anak, pastilah alasannya tidak jauh dari kata “keren”,”mengikuti zaman”, “biar kayak orang bule”, atau yang paling konyol “biar gak disangka teroris”. Jika saja sang anak diberi nama ke”arab-arab”an, alasan yang diberikan biasanya adalah “biar jadi anak alim”, “biar jadi ustadz”, atau biasanya “mengikuti hadits”.

Saya sendiri cukup kaget dengan alasan yang terakhir, setahu saya di Hadist hanya disebutkan dua hal seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Belum pernah saya dengar ada Hadist yang menyebutkan secara tegas bahwa nama seorang muslim HARUS NAMA ARAB. Atau mungkin karena kurangnya pengetahuan saya tentang Hadist, kawan-kawan pembaca bisa mengkoreksi pernyataan saya?. Sebelumnya saya juga pernah mendengar ada Hadist yang menyebutkan bahwasanya kalau seorang anak diberi nama “Muhammad”, maka anak tersebut dijamin masuk surga karena selalu menyerukan nama Rasulullah. Sayangnya, kaum ulama sepakat bahwa Hadist tersebut tidak sahih alias diragukan kebenarannya. Dan juga menurut saya tidak logis kalau ada penyekutu Allah mempunyai unsur nama Muhammad dijamin masuk surga.

Ada kakak kelas saya dengan nama asli Indonesia-nya, yaitu Farisol Eko, pada kenyataannya juga alim, tetap muslim, sangat pintar, bisa wisuda di kampus ternama, dan masih bisa melakukan hal-hal normal lainnya dimanapun dia berada tanpa ada ancaman berkarya. Teman kuliah seangkatan saya juga ada yang namanya Indonesia banget, Miranti. Dia juga muslimah sejati, aktivis gamais di TI, sangat pintar, juga punya banyak teman, selalu cantik, mukanya manis, baik hati, dan auranya masih memikat kaum pria seperti saya(curhat dikit yah. hehehhe. ;D). Sayapun berani bertaruh, dua orang kawan saya tersebut juga tidak akan bermasalah dengan nama mereka saat dikantor keimigrasian.

Mungkin beberapa diantara kawan semua yang mempunyai nama Indonesia, ketika di luar negeri dan bertemu orang bule, kaum kulit putih tersebut langsung menebak dengan lantang asal negara kita, INDONESIA. Dan biasanya para bule itu langsung menanyakan kabar serba-serbi perkembangan Ibu Pertiwi kita. Beda halnya kalau orang Indonesia itu mempunyai unsur nama “keminggris”seperti Alex McButton, kawan kita tersebut tidak akan menebak kita dari Indonesia, bahkan lebih sering kali bule itu curiga kalau kita berbohong dengan nama kita. Atau kalau nama kita “keara-araban”, mereka tidak akan menyebut Negara asal kita seperti Arab Saudi, Palestina, Egypt, Iran, Kuwait, atau Negara-negara arab lain saat ingin menebak. Mereka pasti menyebut suatu daerah di ujung Asia, yaitu Timur Tengah, itupun tebakan mereka pasti dengan penuh keraguan karena muka dan paras kita sangat mirip bangsa Asia Timur. Lebih asyik pakai nama asli Indonesia bukan?

Hai kawan, nama asli Indonesia tidak akan membuat kita menjadi kutukan. Saya berikan contoh paling nyata, yaitu ibu Sri Mulyani. Nama beliau sangat “njawa” banget dan sangat eksis di kalangan menteri, politikus, ekonom maupun di departemen keuangan. Bahkan, saat ini beliau mempunyai jabatan dan posisi yang sangat strategis di bank dana moneter international atau IMF. Hal tersebut menunjukkan bahwa nama Indonesia tidak akan menghalangi karir kita dimanapun kita berada. Karena sesungguhnya rezeki itu dari Allah SWT semata, dan bukan nama asli Indonesia yang membuat rezeki kita terhambat.

Maka dari itu, saya menyerukan kepada kawan-kawan dari seluruh penjuru nusantara untuk tidak latah menggunakan nama “keara-araban” atau “keinggris-inggrisan”. Berikan nama yang baik kepada anak-anak kita agar kelak mereka bangga dengan nama pemberian orang tua mereka sendiri. Sematkan nama anak-anak kita dengan arti yang indah karena nama merupakan doa, sehingga setiap kali ada orang yang menyebut nama anak kita, maka mereka ikut mendoakan yang baik kepada si anak tersebut. Dan yang terakhir, berikan nama ASLI INDONESIA kepada anak kita, agar kelak mereka bangga terhadap bangsanya sendiri, mereka mengenal negaranya sendiri, mereka berjuang untuk sang Ibu Pertiwi, dan mereka cinta akan Tanah Air Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: