DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

FLYING PLANE FIGHT THE WIND

on September 8, 2011

Tengah malam, di dalam kereta 5 Turangga, sangat hening sekali keadaannya. Terlihat hanya 3-4 orang yang masih terjaga selain saya sendiri. Sulit sekali rasanya memejamkan mata untuk beristirahat di kereta meskipun tempat duduknya sangat nyaman. Namun,Pikiran ini serasa penuh ancaman sehingga membuat saya sulit untuk tertidur. Mata saya hanya tertuju keluar jendela yang gelap sambil merenungkan masalah yang menimpa saya baru-baru ini.

Saat ini saya mendapatkan amanah sebagai salah satu pemimpin divisi di suatu organisasi. Organisasi ini cukup besar jika dilihat dari sejarah dan jumlah pengurus yang bergabung. Dan kebetulan, divisi yang saya pimpin ini adalah divisi yang paling dinamis dibandingkan divisi-divisi lainnya.

Di awal kepengurusan, saya mempunyai 6 staff yang membantu saya. Sebut saja A,B,C,D,E, dan F. Dalam keberjalanannya, saya dikejutkan dengan permintaan mundur staff F dari divisi saya. Ketika saya membicarakan masalah ini dengan staff tersebut, saya terkejut dengan alasannya yang mengatakan bahwa dia merasa tidak sambut di divisi ini. Setelah berbicara panjang lebar dengan staff saya tersebut, saya jadi merasa ada suatu kelompok “eksklusif” dalam keluarga besar di divisi saya. Selang beberapa waktu staff F mundur, staff E ikut komplain bahwa dia merasa tidak nyaman di organisasi ini. Saya terkejut juga saat dia mengatakan tidak hanya ada kelompok “ekslusif” di divisi saya, tapi ada kelompok “eklusif” yang lebih besar di organisasi ini.

Saya sendiri tidak menyangka adanya fenomena “saling sikut” antar staff di divisi ini. Singkat kata, saya memutuskan untuk mencari tahu akar permasalahan dalam tim yang saya pimpin ini dengan cara mempelajari sejarah keberjalanan semua staff saya selama ikut organisasi ini. Setelah mendapatkan data dan dianalisis, ternyata sulit sekali menyangkal pernyataan 2 staff saya yang ingin mengundurkan diri tersebut. Sejak saat itu, saya menyebut kelompok “eksklusif” ini sebagai ‘gengster’ karena fenomena tersingkirnya staff E dan F akibat ulahnya.

Beberapa bulan lalu, gangster di divisi saya tersebut menggeliat. Mereka membicarakan sesuatu yang tidak baik dibelakang saya. Saya tahu hal itu dan merasa sangat was-was dengan tingkah laku mereka. Saya berusaha berhati-hati dari segala kemungkinan yag terjadi. Alhasil, hubungan saya dan gangster tersebut menjadi tenang tapi terasa sangat menghanyutkan.

Puncaknya adalah peristiwa “kudeta” oleh gangster divisi terhadap pemimpinnya. Yap, 6 Agustus 2011, adalah tanggal dimana mereka menghubungi ketua organisasi dan memerintahkan agar saya tidak ikut campur dalam proker divisi. Saya sangat terkejut dengan proker yang mereka rencanakan sendiri dan saya harus tersingkir dari divisi yang saya pimpin sendiri. Berbeda dengan 2 staff saya yang memilih mundur akibat ulah mereka, saya lebih memilih untuk melawan. Akhirnya, saya menghimpun berbagai informasi mulai dari teman-temannya hingga maganger saya. Dan dari situlah akhirnya saya tahu segala keganjilan yang selama ini mereka lakukan. Di penghujung hari yang sama, bersama pemimpin divisi lain saya membuat forum dengan gangster ini untuk menyelesaikan konflik dengan singkat. Yap, dengan segala peristiwa ini, tanggal 6 agustus 2011 ini saya tetapkan sebagai “hari kesaktian sekum perjuangan” karena terjadi 3 peristiwa dahsyat, yaitu kudeta divisi, pembongkaran skandal gengster, dan pengadilan konflik divisi.

Selesaikah masalah ini? Belum. Beberapa saat setelah kejadian di atas, gangster divisi tersebut membuat suatu kubu yang lebih besar. Dan alhasil beberapa jajaran staff hingga pengawas banyak mengeroyok habis saya yang sendirian ini. Dari sinilah keluar istilah The Last Stronghold karena saya menjadi satu-satunya benteng terakhir yang tidak tersingkirkan di tempat ini.

Ada beberapa hal yang membuat saya bertahan di organisasi ini. Salah satunya adalah kedewasaan maganger menghadapi konflik ini. Maganger merasa sudah tak seharusnya sebuah “keluarga” memperlakukan salah satu anggota keluarganya dengan cara “serangan bertubi-tubi”. Saya sendiri salut dengan sikap mereka yang netral tidak memihak kubu manapun dan pola pikir mereka yang kritis. Yang membuat saya semakin tegar adalah ketika maganger saya menyemangati kadivnya.

Saya tak menyangka kata-kata penyemangat dari Nadia bisa membuat hati saya sangat terenyuh dengan spontan. Dan saya juga tak mengira jika kata-kata sederhana dari Asih membuat saya semakin tegar. Hal-hal kecil tapi sangat bermakna tersebut membuat saya menyadari bahwa sekarang hati ini sedang sangat sensitif. Hingga dalam kesendirian ini membuat saya bernostalagia dengan masa lalu di dalam kereta ekspress Surabaya-Bandung.

Teringat saat SD dulu, saya adalah murid bodoh yang sangat pendiam. Sejak awal masuk kelas 1 caturwulan I hingga kelas 6 caturwulan akhir, peringkat kelas saya tidak beranjak keatas melampaui ranking 25 dari 50 anak kelas. Bahkan, di kelas 4, saya terancam tidak naik kelas oleh guru wali saya yang memiliki rambut keriting itu.

Di penghujung kelas 6, saya ingin melanjutkan studi ke SMP favorit di kota saya. Dengan track record yang menyedihkan, orang lingkungan sekitar, tetangga, dan guru-guru pesimis dengan ambisi saya. Bahkan tidak hanya saran yang mereka berikan, tapi juga penekanan agar saya masuk SMP “seadanya” saja. Anak kecil macam saya saat itu benar-benar merasa tertekan dengan hasratnya sendiri. Untungnya saya punya sahabat yang selalu mendukung dalam keadaan nadir ini. Afif inilah yang selalu memberikan harapan agar saya terus melangkah menuju SMP impian. Dan mengejutkannya, saya berhasil masuk SMP terbaik di kota Gresik.

Saya menyadari bahwa saya masuk SMP ini karena faktor “kebetulan”. Sifat dasar “bodoh” yang lahir sejak SD itu membuat saya terpincang-pincang dalam mengikuti pelajaran di sekolah ini. Peringkat-peringkat yang saya dapatkan selalu menyedihkan sepanjang bersekolah. Bahkan tryout unas yang berlangsung 3 kali menempatkan saya berada di zona “degradasi” . Yap, saya ingat benar yang ini karena masuknya saya dalam zona tersebut, menjadikan saya secara eksklusif dipanggil kepala sekolah dan menyarankan saya “minta bantuan” teman sebangku saya saat unas nanti agar nilai saya selamat. Jadi ketawa klo ingat skandal ini.hahaha.

Serupa dengan saat kisah SD, di penghujung SMP ini saya mengidamkan SMA paling favorit di provinsi Jatim. Track record buruk selama sekolah membuat tekanan dari lingkungan, guru, dan tetangga mengarahkan saya agar “selamat” di SMA yang sesuai kemampuan saya. Di kala ini, saya lebih tertekan mengingat dari keluarga saya sendiri menyarankan hal sama seperti orang lain. Tapi saya sangat beruntung kala itu, teman sebangku saya, Tower, dengan menyenangkan selalu mensupport saya untuk berjalan lurus kedepan dengan impian saya tersebut. Ending Story, dengan rahmat Allah, saya bisa masuk SMA terbaik se Jawa Timur.

Masuk sekolah Jalan Kusuma Bangsa Surabaya ini, saya menyadari bahwa saya termasuk siswa “cacat otak”. Perjalanan di sekolah ini juga tak berbeda dari kisah “siswa bodoh” seperti SD dan SMP. Saat penjurusan, saya hampir dinyatakan tidak layak masuk kelas IPA karena nilai saya selama kelas 1 yang menyedihkan. Sejak awal semester kelas 2 hingga akhir semester kelas 3, saya berhasil memperoleh peringkat 5 dari bawah berturut-turut sebanyak 4 kali. Saya masih ingat betul, ada tulisan angka 6 bolpoin di raport matematika dan kimia saya, yang menunjukkan betapa parahnya saya di dua mata pelajaran tersebut.

Masih sama dengan kisah yang sebelumnya, saya berubah cita-cita dari pilot menjadi insinyur saat itu, hingga akhirnya saya ambisius untuk masuk institut terbaik di negeri ini. Dengan segala cacat otak yang saya miliki, tekanan dari berbagai pihak luar seperti jaman SMP dulu menyerang lagi. Namun, sekarang makin bertambah, yaitu tekanan teman sekelas sendiri. Remaja labil saat itu jelas merasa desperate tanpa harapan ketika hampir semua orang menekankan untuk “realistis”. Tapi Allah menolong saya kala itu. Saat SMA, saya tinggal sekosan dengan Adi, Herdi, dan Piman, dimana kami bekerja sama untuk menggapai cita-cita kami. Di akhir cerita, Alhamdulillah saya berhasil masuk kampus yang saya cita-citakan tersebut.

Berada di kampus yang penuh putra-putri terbaik bangsa jelas tidak membuat saya ikut merasa bagian dari mereka. Saya sadar diri bahwasanya keberuntungan yang membuat saya masuk kampus ini. Di awal perkuliahan, dugaan menjadi mahasiswa cacat seperti jaman sekolah dulu selalu membayangi imajinasi saya. Namun, dalam keberjalnan kuliah 3 tahun disini, Alhamdulillah tidak hanya gelar mahasiswa cacat yang melekat, tapi juga mahasiswa “berlumur darah”.

Kuliah di kampus dan jurusan yang sangat menantang ini membuat nilai matakuliah sangat terseok-seok tak karuan. Tekanan dari keluarga juga terus membayangi. Mungkin, sejarah yang penuh liku saat SD, SMP, dan SMA membentuk karakter saya menjadi pemuda yang mudah putus asa tapi tak kenal kata menyerah. Syukurnya, saya masih diberi kesempatan untuk tetap menyandang status “mahasiswa” di kampus ini.

Perjuangan di kampus ini jelas bukan perjuangan seorang diri. Banyak sekali kawan yang ikut mensupport saya. Di mesin ini, Wafi dan Alfin adalah teman yang selalu membantu saat saya sedang kesusahaan dalam menjalani kuliah. Jujur, saya sangat beruntung bisa mengenal mereka.

Selesai asik bernostalagia dengan kenangan masa lalu, air mata ini tak terbendung menetes saat melihat jendela kereta lagi. Sangat mellow parah di dalam kereta ini. Saya benar-benar tidak menyangka bisa berlari sejauh ini saat melihat kebelakang. Saya yakin, Allah pasti mempunyai rencana yang besar terhadap saya karena semua ini. Hal ini menjadi satu-satunya pegangan saya untuk survive dan bersemangat di kampus ini dengan segala tantangan dan lika-likunya.

Kembali mengingat masalah saya di organisasi ini. Serbuan pengurus lain minggu lalu menjadikan saya merasa terjepit. Tapi, setelah nostalagia di kereta ekspress ini saya kembali berapi-api. Meskipun jenis permasalahannya berbeda dengan yang saya alami sebelumnya, kasus yang menimpa saya memiliki kemiripan pola dengan sejarah itu. Hingga akhirnya saya masih bertahan dengan satu kepercayaan bahwa saya bisa melaluinya seperti yang pernah saya alami.

Terakhir kata,
Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Afif yang selalu mensupport ambisi saya saat SD dulu…

Terima kasih yang mendalam untuk Tower yang rela dan ikhlas untuk bertahan menjadi teman sebangku saat SMP…

Terima kasih yang sangat kepada Geng Ambengan, Adi, Herdi, dan Piman, yang telah membangkitkan kepercayaan diri dan menjaga focus dalam kerja keras bersama saat SMA dulu…

Terima kasih yang tinggi kepada rekan pejuang mesin, Alfin dan Wafi yang selalu sabar menghadapi dan membantu kuliah saya, serta membuat saya masih survive di prodi ini…

Terima kasih sepenuh hati kepada Nadia dan Asih yang memberikan setuhan magic kepada hati yang sedang gundah tak karuan ini, hingga akhirnya saya bisa tegar kembali memimpin divisi…

Terima kasih kawan, kebaikan kalian selama ini tidak akan saya sia-siakan. Saya sangat bangga bisa bergabung dan berteman dengan kalian. Semoga pahala dan kebaikan selalu mengalir selama nafas saya masih berhembus. Karena berkat kalianlah saya bisa seperti ini sekarang….
:’D

When everything seems to be against you, remember that airplane take off against the wind, not with it.
-Henry Ford-

Kereta Api Ekspress Turangga,
Surabaya-Jogja-Bandung,
Tengah malam 6-7 September 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: