DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

SHOOT YOURSELF TO THE MOON OR SHINNING AMONG THE STARS

on November 20, 2011

Malam minggu. Jam 11 malam. Saya merebahkan diri di kasur kapuk padat yang cukup keras untuk tempat tidur. Iyah, saya sedang merenung saat ini. Mengevaluasi capaian-capaian target kuliah saya di kampus selama hampir 3,5 tahun ini. Di dalam peristirahatan ini, saya menikmati lamunan perjalanan kuliah di kampus.

Teringat dulu saat saya adalah mahasiswa baru di ITB. Saya tak jauh beda dengan mahasiswa-mahasiwa baru pada umumnya, mempunyai cita-cita dan target saat berkuliah. Saya tuliskan semua target yang ingin saya capai selama kuliah disini di profile Friendster agar saya sering melihatnya. Yah, kala itu saya belum punya akun FB seperti sekarang, dan friendster lebih dominan dibanding FB. Setelah saya korek kembali, saya gagal mencari tulisan target-target itu karena FS tiba-tiba berubah menjadi game online “ajaib”.

Untungnya saya masih ingat isi tulisan tersebut. Hingga akhirnya saya menuliskannya satu persatu di tempat corat-coret. Setelah semua target ditulis, saya mengevaluasi satu-persatu target-target itu.

1. Masuk Program Studi Teknik Mesin

Saya ingat benar kenapa saya menetapkan target ini saat awal kuliah. Dulu, saat kelas 3 SMA, hanya ada 3 jurusan yang saya minati. Elektro, Informatika, dan Mesin. Ketiga-tiganya menarik dan saya minati. Tapi karena saya masuk di FTMD, akhirnya target utama saat TPB hanyalah masuk jurusan Teknik Mesin.

Saya sendiri tertarik jurusan ini adalah karena ilmu fisika terapan yang aplikatif. Ilmu aplikatif seperti ini menjalankan fantasi saya tentang fenomena-fenomena alam yang dipecahkan secara eksak. Ilmu alikatif ini berbeda dengan ilmu ghoib lain yang “imaginer” alias hanya dibayangkan dan dipaksa mempercayainya tanpa bisa melihat fisiknya langsung. Selain itu, saya berminat disini juga andil dari “cuci otak” bapak saya yang juga kebetulan ahli mesin di pembangkit listrik. Entah kenapa, saya melihat kontruksi pembangkit listrik itu sangat “sexy” sehingga saya tertarik dibidang rekayasa mekanik ini.

Alhamdulillah, dengan segala keterbatasan otak yang kapasitasnya cukup pas-pasan ini, saya berhasil masuk prodi Teknik Mesin meskipun lolos di daerah perbatasan degradasi jurusan. Saya ingat hal ini karena prestasi TPB saya sangat cukupan. Saya sebenernya bisa memaklumi capaian yang pas-pasan tersebut karena pada dasarnya saya sadar diri bahwa saya ini memang tidak pintar sejak kecil. Syukurnya, Allah masih mengijinkan saya meraih jurusan ini.

Dalam keberjalanannya, saya tidak menyesal bisa bergabung di jurusan ini. Disini, saya belajar banyak hal mulai dari himpunan, solidarity forever, hearing, openmind, pengorbanan, “one for strong”, gentlemen, teman seangkatan, pengkaderan, dosen mesin, hingga filosofi-filosofi keilmuan rekayasa mekanik. Hal-hal tersebut membentuk suatu karakter baru dalam diri saya. Saya tidak bisa membayangkan entah apa jadinya saya jika saya masuk 2 jurusan lainnya itu, mungkin tidak akan seperti ini.

2. Lulus dengan IP 3,00

Pada dasarnya saya sendiri tidak terlalu senang mengukur kualitas mahasiswa hanya dari prestasi tertulisnya. Tapi saya juga sadar, IP merupakan cara paling fair untuk melihat keseriusan belajar selama kuliah. Hingga akhirnya banyak lembaga komersila, pekerjaan, hingga beasiswa, yang menjadikan IP sebagai referensi awal dalam melihat potensi mahasiswa.

Selain itu, IP juga satu-satunya jalan untuk menunjukkan progress kita selama kuliah kepada orang tua yang menyekolahkan dan membiayai kita. Selain IP, tidak ada cara lain lagi yang lebih fair untuk menyerahkan laporan kerja di ITB. Jelas IP menjadi acuan untuk mempertanggungjawabkan subsidi yang diberikan oleh orang tua kita.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menentapkan target IP lulus, yaitu 3,00. Angka tersebut merupakan pemikiran yang cukup dalam antara impian dan realita kondisi saya yang pada dasarnya mempunyai kapasitas yang terbatas. Penetapan target IP bukan hanya karena dua alasan diatas, tapi juga karena faktor keinginan untuk LULUS, bukan LOLOS. Yah, selama ini, masuk SD, masuk SMP, masuk SMA, dan masuk ITB, saya lalui dengan predikat LOLOS. Akhirnya saya menginginkan untuk SEKALI SAJA merasakan LULUS diantara sekian tahapan pendidikan.hehe

Saya tak menyangka, dengan menetapkan angka ini, secara tidak sadar saya terpaksa harus belajar serius untuk mencapai nilai yang memuaskan. Dengan cara ini juga, ternyata saya banyak improvisasi cari ilmu sana-sini dan bisa mematangkan feeling engineering saya. Andaikata saya tidak menetapkan target ini, mungkin yang saya lakukan hanya belajar-ujian-lulus matkul, dah itu saja, tanpa ada tendensi belajar yang serius.

3. Wisuda Maksimal 5 Tahun

Saat saya pertama kali saya masuk kuliah, banyak sekali perusahaan yang mengeluhkan kualitas sarjana mahasiswa saat ini banyak yang “prematur” alias belum siap terjun di dunia kerja. Baik itu dari segi kematangan ilmu, kematangan jiwa, kematangan emosi, dan sebagainya. Dosen saya juga bilang bahwasanya untuk menjadi karakter ITB yang sesungguhnya, tidak mungkin bisa dilalui dengan kuliah kurang dari 4 tahun.

Disisi lain, kampus ini mempunyai banyak sekali kesempatan untuk mengasah keilmuan, mulai politik, budaya, kesenian, kekeluargaan, solidaritas, organisasi, hingga olah raga. Jikalau saya memang hanya fokus pada kuliah, saya sanggup lulus dalam kurun waktu 4 tahun, tapi dengan catatan, saya melewatkan kesempatan-kesempatan berharga itu.

Selain itu juga, saya juga sadar diri bahwa program studi mesin adalah program studi yang legendaris, dimana banyak dosen-dosen idealis yang bertebaran di seluruh penjuru departemen. Di mesin juga mata kuliahnya susahnya minta ampun, hingga akhirnya jurusan mesin terkenal “lulusnya lama” oleh kalangan lain. Dosen mesin di kampus ini memang pada dasarnya menginginkan lulusan sarjana mesin bukanlah sastrawan yang hanya bisa teori, tapi juga aplikasi. Mungkin hal tersebut membuat para pengajar tersebut menetapkan standar tinggi agar saat lulus, para sarjana tadi siap bekerja sebagai insinyur sejati.

Tapi disisi lain, mahasiswa mesin juga dituntut untuk segara cepat berkontribusi untuk pembangunan bangsa, sehingga desakan agar segera lulus cepat menjadi dorongan yang sangat kuat di kampus ini. Akhinya saya menetapkan target wisuda secara individu, yaitu saya berharap bisa lulus hanya dengan kurun waktu 4,5 tahun. Dana paling telat kelulusan saya adalah 5 tahun, agar tidak terlalu membebani banyak pihak yang mensubsidi saya.

4. Punya Seribu Teman Baru Selama Kuliah.

Bisa dibilang ini adalah target yang paling unik dibandingkan mahasiswa baru lainnya. Target ini jelas tidak keluar karena wangsit dari langit, tapi karena suatu latar belakang kondisi saya masuk ITB.

Saat pertama kali saya kuliah, keluarga menilai bahwa saya mempunyai social intelegent yang buruk. Entah itu dari kepekaan, empati, leadership, komunikasi, sampai pengendalian emosi. Penilaian itu tidak salah sama sekali, karena pada dasarnya saya adalah pria pendiam yang jarang berinteraksi sosial sana-sini. Jelas hal tersebut membuat saya harus memutar otak agar nilai merah dalam kategori tersebut bisa “dihitamkan” agar bisa menjadi pribadi yang dewasa.

Suatu saat, kakak kelas yang bernama Wawan, bercerita tentang teman-teman dan jaringannya di ITB. Dia merasa beruntung kuliah di tempat ini karena semua jurusan saling berdekatan dan berinteraksi hingga akhirnya dia punya banyak relasi dengan berbagai latar belakang. Di akhir ceritanya, dia menantang saya secara implisit untuk mendapatkan 1000 teman baru saat berkuliah.

Awalnya saya pikir-pikir dulu dengan tantangan tersebut. Saya sadar, ketika saya berani menetapkan target itu, secara otomatis saya dipaksa harus sering berinteraksi sosial denga banyak orang, yang mana hal tersebut berarti bahwa saya harus bergabung dengan suatu komunitas. Hal tersebut membuat saya tersenyum manis, karena mungkin ini menjadi cara terbaik untuk memperluas zona nyamanku selama ini. Akhirnya saya memutuskan menerima tantangan dari mas Wawan.

Sungguh, saya tak menyangka, target yang satu ini ternyata benar-benar menentukan jalur hidup saya kuliah di ITB. Target inilah yang mengantarkan saya memutuskan untuk bergabung dengan Ikasmanca(sekarang Ikamanggaluh), kemudian ikut unit Loedroek dan Kokesma, bergerak bersama di HMM, Protokoler, asrama al ukhuwah, hingga DAT. Secara tak sadar, dengan bergabungnya di banyak komunitas tersebut, saya akhirnya bisa memilih karakter-karakter yang cocok untuk saya. Saya juga belajar tentang kepekaan, kepemimpinan, pengendalian emosi, dan banyak hal inter dan intra personal yang berkembang saat berkomunitas. Benar rupanya, tidak ada satupun pengembangan softskill terbaik selain berkomunitas. Mungkin, bisa jadi, jika saya tidak memasang target ini, yang saya lakukan hanyalah kuliah-pulang-maen, dan selalu terulang setiap harinya.

Bagaimana dengan 1000 teman, sudah berhasilkah? BELUM. Saya sempat menghitung jumlah pertambahan teman-temanku melalui hal yang paling mudah, yaitu dari teman FB. Saat menghitung jumlah fren, saya mengeliminasi satu-persatu teman-teman yang sudah saya kenal sebelum masuk ITB. Setelah semua tereliminasi, didapat hitungan baru yang mengejutkan buat saya. Selama 3,5 tahun kuliah disini, saya berhasil mendapatkan lebih dari 600 teman!

Lebih dari 600 teman baru dalam 3,5 tahun itu sungguh luar biasa buat saya. Selama hidup saya, percepatan jumlah teman paling dasyat adalah saat kuliah ini. Meskipun belum berhasil mencapai angka 1000, tapi saya bangga dengan capaian ini. Andaikata saya tidak menetapkan target ini dalam otak saya, saya berani bertaruh, saat lulus ITB saya hanya mempunyai kurang dari 200 teman baru.

5. Hidup Mandiri

Target ini terpikirkan oleh saya ketika bertemu dengan salah seorang alumni ITB. Sesaat dia lulus kuliah, dia memutuskan untuk “kabur” menghindari orang-orang yang dia sayangi, mulai dari keluarga, pacar(diputusin sama ceweknya klo ga salah),saudaranya, sahabat-sahabatnya, pokoknya orang-orang terdekatnya. Agak aneh memang, tapi setelah dia bercerita tentang alasan dan perjalanannya dia untuk survive, ternyata itu menjadi pilihan terbaik hidupnya.

Dia bercerita, saat lulus dari kampus ITB, gengsi yang dia bawa terlalu tinggi, sama seperti lulusan lainnya. Bahkan ketika orang-orang sibuk mengeluh sulit mencari pekerjaan, teman saya ini malah “pilih kasih” dengan pekerjaan yang dia tuju. Suatu kali, dia menyadari bahwa “cap gajah” ternyata bisa menjadi kutukan buat dia menjaga gengsi almamater. Akhirnya dia memutuskan gebrakan yang radikal, yaitu mebuat usaha sendiri.

Di awal membuaka usaha sendiri, usahanya sangat kecil dan dia kerja keras bersama temannya pontang-panting mengembangkan bisnisnya. Dia sempat dicemooh oleh orang-orang terdekatnya, mulai dari keluarga hingga teman-teman terdekatnya, mungkin karena lulusan ITB tapi malah miskin dan ngutang sana-sini. Dia sempat depresi saat itu. Tapi dia juga bersyukur, akhirnya dari keputusan ini dia bisa membedakan mana teman yang baik, dan mana teman yang buruk. Di akhir cerita, dia memberi saya petuah, bahwa saya akan bisa melihat sangat jelas antara “hitam dan putih kehidupan” ketika berada dalam keadaan zero.

Ada 2 hal yang saya pegang hikmah dari cerita teman saya tersebut. Yaitu kemandirian dan being zero. Dari cerita tersebut, saya menyadari bahwasanya saat lulus saya TIDAK BOLEH merepoti orang tua lagi. Saya menyadari juga, saat lulus nanti, umur saya adalah sekitar 23 tahun, yang mana itu berarti saya memasuki tahap dewasa yang harus siap terjun ke masyarakat secara mandiri. Terakhir, saat lulus nanti, saya harus benar-benar bisa menjadi manusia utuh yang merdeka. Dari 3 alasan tersebut, saya akhirnya menetapkan target hidup mandiri saat lulus kuliah nanti.

Di keberjalanannya, saya mulai mencicil persiapan hidup mandiri nanti. Saya sadar, bahwa sangat tidak mungkin termotivasi hidup mandiri klo selama kuliah disubsidi penuh orang tua. Akhirnya saya memutuskan untuk mengurangi bantuan dana secara bertahap. Tercatat ada 4 hal yang telah berhasil dijalani, yaitu penghapusan biaya “tunjangan kesejahteraan”, mengurangi 25 persen uang bulanan, menghapus uang kos-kosan, dan yang paling terakhir menghentikan subsidi biaya kuliah.

Siapa sangka, ternyata dengan menetapkan target ini dapat melatih saya hidup sederhana dan rendah hati. Gaya hidup saya menjadi “merdeka”, seperti tidak pernah diajak foya-foya(karena ga punya duit.hehe), tidak pernah tertipu iming-iming uang besar, tidak materialistis, mudah berempati dengan orang yang kesusahan, dan yang paling penting adalah saya bisa bergabung dengan orang-orang pekerja keras. Andai kata saya tidak menetapkan target seperti ini, saya tidak akan menjadi seseorang yang low profile seperti ini.

——

Sekarang, saya hanya bisa ternsenyum manis mengingat capaian yang telah saya dapatkan. Meskipun saya sering lupa isi 5 target ini, ternyata justru target ini yang menetukan arah hidup saya selama kuliah. Andaikata saya tidak menetapkan target ini, bisa jadi saya tidak masuk prodi teknik mesin, bisa jadi saya tidak bermotivasi untuk belajar serius, bisa jadi saya tidak berusaha kuliah dengan benar, bisa jadi saya tidak mendapatkan 600 teman baru, dan bisa jadi saya tidak bisa hidup sederhana diantara euforia hedon hidup di Bandung.

Dari 5 target yang saya tetapkan, hanya satu target yang saat ini berhasil saya raih. Masih ada PR besar untuk berusaha menaikkan IP yang bergelimpangan ini. Masih ada PR besar untuk lulus di waktu yang tepat. Masih ada PR besar lagi untuk menambah sekitar 400 teman baru lagi. Dan masih ada PR besar untuk bisa menghidupi diri sendiri saat lulus nanti.

Sisa waktu untuk kuliah hanya tinggal beberapa semester lagi. Saya harus membuat strategi dan eksekusi yang jitu agar kelima target ini berhasil. Sangat kecil kemungkinannya dapat menuntaskan smeua target ini hanya dalam waktu yang sesingkat ini. Dan satu-satunya cara hanya kerja keras.

Berhasil atau tidak, saya bangga dan menikmati perjuangan ini. Andaikata saya gagal, saya tidak akan pernah kecewa dan menyesalinya. Saya telah mendapatkan banyak hal yang mengagumkan disini dan saya juga berhasil mengubah hidup saya menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelum masuk ITB.

Meskipun bisa dikatakan tidak mungkin berhasil mencapai kelima target ini, saya berharap, semoga di sisa waktu yang sangat sempit ini, saya bisa menuntaskan kelima janji yang pernah saya ikrarkan saat masuk ITB.
Let me to Engineering the Impossible!!!

“Shoot yourself to the moon. If you failed, you’re shinning among the stars”
Dr. Ir. Zainal Abidin


One response to “SHOOT YOURSELF TO THE MOON OR SHINNING AMONG THE STARS

  1. Rina says:

    Sangat memberikan inspirasi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: