DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

IBU, AKU MAKAN AYAM APA?

on April 7, 2012

Kecurigaan terhadap ayam murah yang dijual oleh pedagang kaki lima sebenarnya sudah merebak sejak sebelum saya masuk kuliah. Berbagai berita dari koran, majalah, radio, hingga televisi juga pernah membahas masalah ini. Tapi tetap saja ayam murah ini tetap beredar di penjual ayam goreng. Hal ini yang membuat saya termenung, sebenernya apa yang terjadi?

Beberapa bulan yang lalu, tepat perayaan Idul Adha, Saya dan Gozhali pergi ke pasar Cicaheum untuk membeli daging sapi dan kambing untuk nyate dan nggule di kosan. Di tengah tawar-menawar harga daging, saya sempat menayakan harga ayam 1 potong kepada sang penjual. “35000 aja kang, sok mangga mumpung murah”, begitu kiranya yang diucapkan oleh bapak penjual yang punya badan kekar tersebut. Saya tertarik dengan kata “mumpung murah”, setelah ditelusuk ternyata daging ayam sedang tidak laku kala itu, orang-orang lebih memilih daging sapi dan kambing untuk hidangan keluarga saat lebaran Idul Adha, dan juga, orang-orang banyak mendapatkan daging gratisan dari pendonor kurban yang jumlahnya tak kalah banyak.

Sesampai di kosan, saya mencoba membuat perhitungan kasar harga pokok ayam-ayam yang dijual oleh pedagang ayam murah. Satu potong ayam biasanya dipilah menjadi 2 paha, 2 sayap, leher hingga kepala, badan belakang (plus kulit),dan 2 dada. Jadi ada 8 komponen didalamnya. Saya asumsikan harga ayam 1 potong rata-rata di pasar tiap harinya adalah 40000. Ah, jangan, anggap saja sang pedagang membeli ayam potong dengan jumlah yang sangat banyak dan pembeliannya langsung ke peternak ayam, saya asumsikan harga yang paling murah, 30000!

Dengan asumsi tiap komponen harganya sama, satu komponen ayam harganya 3750 rupiah. Kemudian ayam tersebut diolah dengan tepung perenyah dan digoreng, saya asumsikan biayanya 1000 rupiah. Ah, jangan, saya asumsikan yang paling murah saja, anggap saja mereka memproduksi masal dan memilih tepung paling murah sehingga harga jadi lebih minim, angap saja biayanya 500 saja!

Setelah ayam sudah jadi, tentu produsen harus membiayai para karyawan dan mengambil untung di tiap produknya. Mungkin biayanya sekitar 1500. Ah, jangan, ambil yang termurah saja, anggap saja produsen ambil margin sedikit yaitu 1000 saja!

Sampai di pedagang, sang penjual juga tentu ingin mengambil profit dari penjualan ayam. Untuk operasional cem kresek, kemasan, gerobak, dan profit bersihnya adalah 1500. Ah, jangan, anggap saja si pedagang baik hati dalam mengambil margin keuntungan. Biaya tambahan dari penjual adalah 1000 rupiah saja!

Jadi, harga ayam satu komponen adalah biaya ayam satu komponen(3750), ditambah biaya produksi(500), ditambah biaya operasional produsen(1000), dan ditambah biaya penjualan(1000). Totalnya adalah 6250. Kita berpikir positif saja, mungkin Cuma 6000 saja totalnya. ENAM RIBU RUPIAH!

Melihat angka ini Saya sedikit terhenyak. Bagaimana cara pedagang di pinggir jalan itu bisa menjual harga ayam satu komponennya hanya 3500-4000 saja?!?!?!

Untuk memuaskan dahaga rasa penasaran ini, saya mencoba berkonsultasi dengan sang ahli. Saya telepon seorang wanita yang ahli dalam pakar kesehatan makanan keluarga. Berikut percakapanya:

“……….”
“Ibu, trus biasanya klo beli ayam buat masak, satu potong harganya berapa?”
“ emang kenapa toh ndok? Kamu mau belajar masak?”
“enggak, disini paha ayam goreng satu itu harganya sekitar 4000. Menurut Ibu itu ayam apa?”
“Owh, itu ayam jenis tiren.”
“Ayam tiren itu ayam jenis dari Indonesia?”
“Ayam tiren itu ayam MATI KEMARIN! Anak ITB kok kuper -_-“
“…..”

Dan obrolanpun berlanjut ke obrolan ayam bangkai yang diperjual belikan, dikemas, diberi pengawet, samapai cerita ayam mati dari tumpukan sampah yang dipungut kembali oleh pemulung. Saya mendengar ceritanya jadi serem ga karuan. Hiiii……+_+”

Di Sunken Court, ada pedagang yang menjual ayam plus nasi dengan harga 6000 rupiah saja. Sebut saja namanya Wawan. Dengan nasi plus ayam seharga 6000, saya asumsikan Wawan mengambil untung 1000 rupiah saja. Klo diperkirakan harga nasi 2000, maka harga ayam hanya 3000. TIGA RIBU kawan!

Saya jelas sangat enggan untuk membeli kotak ayam tersebut. Melihat teman-teman Loedroek ramai membeli daganganya, saya jadi miris, saya mencoba ingin menyelamatkan teman-teman saya disana. Pernah kali ada niatan untuk menasehati dan mencegah mereka membeli “ayam ajaib” tersebut, tapi saya urungkan dalam-dalam niat tersebut. Saya melihat ada ikatan batin, kepekaan sosial, rasa kasihan, dan kepedulian hati antara Wawan dan teman-teman saya tersebut. Jelas ini akan menjadi blunder klo saya melarang mereka membeli kotak ayam tersebut.

Meskipun hati ini gundah dan tidak tega melihat makanan yang dimakan oleh teman-teman saya tersebut, saya mencoba berpikir positif. Mungkin mereka mempunyai sistem imun yang jauh lebih baik dari saya. Mereka yang membeli ayam tersebut juga masih muda dan sehat. Dan juga sebelum makan ayam kotak tersebut mereka selalu membaca “bismillah…”. Insya Allah mereka amanlah.hehe

Jangan sebut mahasiswa klo ga penasaran.hehe. Saya pernah mencoba sekali membeli kotak ayam dari Wawan tersebut. Dengan harga 6000, saya mendapatkan nasi, paha atas, kotak ayam, plus sambal didalamnya. Sengaja saya biarkan 2 jam didiamkan. Kata sang pakar, gorengan itu kehilangan kerenyahannya dalam waktu sekitar 1 jam sesaat SETELAH DIGORENG. Saat saya membeli ayam tersebut sebenarnya jelas lebih dari 1 jam postimenya. Tapi takpapalah, namanya juga ngetes.hehe. KRIUK!, itulah bunyi ayam yang setelah saya diamkan 2 jam(silahkan ambil kesimpulan sendiri.hahaha). Kemudian, sebelum saya makan, saya coba bongkar2 ayam tersebut, ternyata ini ayam kampung biasa(ayam kampung yang mahal itu ternyata bisa semurah ini, dewaaa). Jujur, sebelum makan keraguan saya jadi sangat kuat. Tapi melihat teman LD yang makan berkali-kali dan masih hidup, dengan membaca basmalah saya memberanikan diri makan ayam murah meriah tersebut. Kali aja sistem imun saya bertambah setelah makan ayam ini.hehe

Kadang saya heran, McDonald yang menjual ayam lebih halal dan lebih terjamin prosesnya oleh Depkes RI, menjadi tumbal sebutan “junk food” oleh orang-orang. Padahal klo saja diperhatikan lebih baik, ayam di McD jauh lebih higienis dan lebih terjamin dibandingkan penjual “ayam ajaib”. Tapi itulah kondisinya, kadang pencitraan bisa mengalahkan semua fakta yang ada.

Dengan kerendahan hati, penulis tidak mempunyai maksut buruk terhadap pedagang ayam murah disekitar kita. Saya hanya ingin mengukapkan kegundahan hati ini. Semoga kita semakin bijak memilih ayam yang tepat untuk dikonsumsi.

Depkes RI,
Apakah kau tak tahu fenomena ini?
Apakah kau tutup telinga dan tutup mata melihat ini semua?
Apakah kau juga baik hati seperti kawan saya, yang tak tega melihat si pedagang?
Atau, kau takut didemo dan diberi pencitraan buruk oleh masyarakat?

Wahai Depkes RI yang sangat saya sayangi,
Tolong selamatkan kawan saya ini
Tolong selamatkan masyarakat ini dari marabahaya racun
Tolongkan selamatkan rakyat ini dari kecacatan gizi

Wahai Depkes RI yang sangat saya cintai,
Saya paham tugasmu sangatlah berat
Saya mungkin tidak jauh lebih baik dari engkau
Tapi saya akan tetap menunggu
Menunggu aksimu kembali
Seperti dulu melawan Borax yang ada di pedagang mie dan bakso
Saya harap kau bisa berteriak lagi
Demi rakyat kita tercinta

Suselo Suluhito
Rakyat Indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: