DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

SUDAH WAKTUNYA BELI PEDE

on May 1, 2012

Kemarin, saya menemui dosen pembimbing TA yang baru di Lab Gas Engine. Saya menghadap beliau, dia memberi petuah yang menarik, “Dari semua dosen, TA Saya yang paling sulit. Masih mau dengan Saya?” Kata tersebut terangkai manis dihadapan saya kemarin. Kalimat tersebut jika dimaknai lebih dalam, sama halnya menyiratkan pesan seperti ini, “TA dengan Saya itu sulit. Kamu harus bekerja keras, dan siap lulus lama. Serius bertahan dengan saya?”.

Beliau termasuk dosen legendaris Mesin ITB, hal tersebut tidak hanya diakui oleh jajaran pengajar dalam prodi, tapi juga diluar, cem dosen prodi Tenaga Listrik dan sebangsanya. Nama lengkap beliau adalah Dr. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardjojo, dan biasa dipanggil Pak Iman. Saat ini, beliau aktif menjadi kepala Lab Motor Bakar dan Sistem Propulsi, sekaligus juga kepala Lab Gas Engine. Selain itu, dia masih berperan aktif sebagai ketua umum Ikatan Ahli Bahan Bakar Indonesia. Tercatat juga beliau menghasilkan penelitian-penelitian dan proyek teknologi berkelas dunia. Keahliannya sudah tidak diragukan lagi.

Saat mengajukan bimbingan kemarin, beliau bercerita banyak tentang aturan yang harus dipatuhi selama dibimbing olehnya. Coba kita terjemahkan bersama beberapa aturan yang beliau berikan,
1. Kamu bergabung dan bekerja bersama satu tim berisi anak S2 dan S3, mereka semua mahasiswa international.
2. Bimbingan saya harus menghasilkan paper yang berkualitas.
3. Topik TA nanti tidak akan mudah, harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
4. ….(dll)
Saya sendiri kurang setuju menyebutnya peraturan. Dari 3 aturan pertama yang diberikan, tidak ada landasan hukum yang mengikat, dan juga tidak ada sangsi jika melanggar. Itu bukan aturan, tapi tantangan!

Saya jadi ingat kisah haru mata kuliah Tugas Desain Mesin(TDM) 1 saya dulu. Kala itu, semua anak mesin 2008 diwajibkan membuat suatu rancangan mesin dan menganalisanya. Titik. Tapi saya dan beberapa teman saya “beruntung” dapat dosen yang melenceng dari deskripsi mata kuliahnya. Namanya Pak Zainal, anak kelas bimbingan beliau dibagi menjadi 4 kelompok. Saya bergabung bersama Inul dan Sadis. Kemudian kita mengerjakan sebuah topik yang akan salalu saya ingat, Perhitungan dan Pengujian Kekuatan Axial Roller Conveyor Dengan Bearing SKF 6305 ZZ Produksi PT. Vortex Conveyor International. Itu bukan topik TDM, tapi topik TA!

Stress dan frustasi kita luar biasa heboh kala itu. Kang Cep Ramdhan, senior yang expert di conveyor, mengamini keluhan kami kala itu. Kang Cep mengatakan, yang kami kerjakan adalah TA, tapi dikerjakan oleh 3 orang. Alhasil kami bekerja keras menyelesaikan mata kuliah yang hanya 1 SKS. Nginep di Lab Teknik Produksi berhari-hari menjadi sarapan kami tiap hari. Bahkan liburan semester ganjil tidak kami nikmati sesuai kaidah kurikulum. Tapi semua itu berkesan, “TA” kami selesai! kami berhasil! dan yang paling mengejutkan adalah kami berhasil membantah analisis argumen dosen pembimbing sendiri!

Sejak peristiwa TDM 1 itu, kami bisa berempati dengan orang-orang yang mengerjakan TA. Kami menjadi anak mesin yang mempunyai kepercayaan diri berlebih. Kepercayaan diri ini memang sangat mahal, tidak semua orang bisa membayarnya, tapi kami bisa!

Tonkosh, anak bimbingan Pak Iman juga, bercerita alasan memilih Pak Iman menjadi Dosen Pembimbingnya. Dia merasa bukan apa-apa di mesin ini. Dia ingin minimal satu hal saja yang bisa dibanggakan dari dirinya. Pilihannya tak tanggung-tanggung, ngambil TA yang paling “high class”. Dengan kebanggaannya itu, dia berharap bisa percaya diri saat diwisuda menjadi sarjana teknik mesin. Lagi-lagi “percaya diri” menjadi hal yang sangat berharga disini.

Saya jadi ingat pengalaman saat sekolah. Dua orang bodoh, yang satu sangat pede(A), yang satu sangat minder(B). Ketika B berjalan dengan kepala menunduk(ciri khas orang minder) menuju papan tulis mengerjakan soal oleh gurunya, teman sekelasnya akan senyum kecut meremehkan. Ketika B gagal mengerjakan soal tersebut, seisi kelas menertawakanya! Lain halnya dengan A, saat berjalan kedepan saja, teman sekelasnya sudah terkagum-kagum dengan sikapnya yang tegap dan pandangan optimis tajam(ciri khas orang pede). Ketika A gagal mengerjakan soal, seisi kelas kecewa jawabanya salah, bahkan bertanya-tanya kenapa jawaban A tidak benar. Tidak ada yang menertawakannya. Padahal sama, sama-sama bodoh dan gagal!

Saya sepakat dengan Tonkosh, meskipun mempunyai motivasi yang berbeda dengannya, tapi saya satu jiwa dengan pernyataan “ada yang bisa dibanggakan, agar percaya diri!”. Kebanggaan itu sangat mewah, dan percaya diri itu sangat mahal. Inilah yang harus direbut dari “aturan2” yang diberikan oleh Pak Iman. Dan inilah harga mati yang harus dibawa saat wisuda!

Bismillahirohmanirohim.
Semoga TA ini sukses!

Suselo Suluhito
Graduation Hope!(2)


4 responses to “SUDAH WAKTUNYA BELI PEDE

  1. azmikarima says:

    Sangar mas selo ! Insya Allah bisa menjawab tantangan . hwaaa .
    Semangat terus mas Selo !!!😀

  2. Estuyu says:

    muantop broooohh…
    semoga sukses menjalankan TA-nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: