DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

DUA JAM UNTUK OUT OF BOX

on May 6, 2012

 

Jumat kemarin, seorang legenda HMM yang sedang bekerja di Toshiba Jepang berbagi ilmu dengan anak-anak HMM. Namanya Lukman, mesin ITB 2006. Acara yang dimulai dari jam 1-4 sore itu, Dia bercerita panjang lebar tentang desain pembangkit yang dia kerjakan di Toshiba. Di akhir sesi, Lukman berbagi pengalaman hidup di Jepang.

 

“Hidup di di luar negeri membuat kita berpikir out of box, itulah kenapa pemimpin-pemimpin kita banyak yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri, karena pola pikir mereka sudah out of box” sambut Lukman mencoba memotivasi kami.

 

Mungkin kata-kata tersebut ada benarnya juga, dan saya juga sangat sepakat. Keputusan saya untuk merantau di Surabaya saat SMA, membuat saya mempunyai pola pikir yang berbeda dengan teman-teman di Gresik, tempat tinggal saya. Begitu juga dengan keputusan kuliah ke ITB, membuat saya punya pola pikir yang lebih terbuka dibandingkan teman-teman saya sendiri.

 

Pernah kali saya datang reuni SMA. Saat berbincang tentang impian, mereka berpikir tentang memajukan almamater, menaikkan peringkat sekolah, mengharumkan nama alumninya, dan bahkan ingin menjadikan Smala sebagai sekolah terbaik di Indonesia. Tidak ada yang salah dari harapan-harapan tersebut. Bahkan sejujurnya saya dulu juga ingin seperti itu. Tapi tiu dulu, sekarang berbeda.

 

Di kampus yang saya ikuti, mahasiswanya dihantam sangat keras dengan realita bangsa. Ditengah kemapanan pendidikan, ternyata ada banyak sekali daerah-daerah yang belum terjangkau pendidikan. Ada yang gurunya sangat sedikit, ada yang bangunannya mau ambrol, ada yang harus berjalan sejauh 5 KM untuk pergi sekolah(berjalan! bukan berjarak. Karena kondisi geografis yang memaksa siswa harus berjalan), dan bahkan ada yang metode pengajaran masih memakai kurikulum 1994. Kondisi sekolah seperti yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi juga masih nyata.

 

Rupanya, hantaman keras realita bangsa itulah yang membuat mahasiswa disini berpikir nasionalis, berpikir tentang Indonesia. Mungkin hal itu juga yang mebuat saya lebih cenderung ingin membangun sekolah-sekolah daerah, sekolah pinggiran, dan menyadarkan siswa tentang pentingnya pendidikan. Dibandingkan dengan membangun Smala(yang sudah sangat modern), tingkat urgensi meratakan kualitas pendidikan di Indonesia jauh lebih penting, dan harus segera dilaksanakan! Inilah yang pola pikir baru saya dan saya syukuri dari nikmatnya merantau ke luar daerah.

 

“Karena kamu bangsa Melayu, kaum kalian sangat sulit untuk jauh dari keluarga. Saya juga punya keluarga, tapi kami tidak mudah homesick seperti kamu, karena kami merantau disini untuk berjihad!” Tiru Lukman mengikuti ucapan pedagang dari Pakistan.

 

Disini juga akhirnya seisi kelas sadar kenapa bangsa Arab dan Cina bagitu terkenal dan menyebar ke penjuru dunia. Ternyata mereka berjuang! Berbeda sekali dengan pola pikir para perantau bangsa melayu dengan para perantau 2 bangsa itu. Orang melayu saat merantau selalu punya ikatan dari daerah asalnya, misal ingin lebih prestise, ingin lebih terpandang, ingin lebih sukses dari tempat asalnya, yang paling umum adalah menambah pengalaman yang ujung2nya agar ada pride saat balik ke kampung halaman. Sedangkan orang Cina, mereka merantau untuk berjuang, tidak peduli lebih miskin, lebih gagal, lebih apes, atau lebih laknat dari orang kampung halamannya. Yang jelas, mereka berjuang! mereka berjihad!

 

Banyak sekali cerita yang dibagikan oleh Lukman, mulai dari kecelakaan nuklir Fukushima, tragedi pertama kalinya Tokyo mati listrik sepanjang 60 tahun, kemudian puasa yang dilewati selama 20 jam saat musim panas(saat musim panas siang hari lebih lama), dan disaat puasa itu juga banyak cewek-cewek SMA Jepang yang pakaianya “menyesuaikan” iklim(ini adalah cobaan terberat kaum lelaki.ehehe), kemudian juga bencana 9 Skala Ritcher selama 2jam!, dan masih banyak lagi pengalaman yang dia dapatkan selama 1 tahun disana.

 

Sangat menarik cerita yang dia paparkan. Jeleknya, dia berhasil membuat saya berubah pikiran. Saya jadi ingin loncat! Saya ingin merantau lagi. Saya ingin mendapatkan hal-hal baru lagi. Sama seperti keputusan merantau di Surabaya saat SMA, dan juga seperti keputusan kuliah di ITB seperti sekarang. Merantau membuat kita seribu langkah lebih didepan, mentangguhkan mental kita, dan membuat kita memiliki lebih banyak “mata” dalam memandang masalah, sekaligus mempunyai banyak solusinya juga.

 

Mungkin benar apa kata paman yang pernah mengeyam kuliah di Jepang. Berpergian ke luar negeri selama 1 atau 2 bulan, atau bahkan 1 minggu hanya akan mendapatkan “pemandangan”, itu turis biasa. Untuk mempelajari budaya suatu kaum, kita harus tinggal minimal 1 tahun(bahkan harus lebih) agar budaya itu bisa kita resapi dan kita jiwai.

 

“Karakter kerja keras orang Jepang hanya bisa kau dapat saat kamu pernah merasakan hidup di Jepang. Begitu juga karakter ulet dan tangguh orang China, hanya bisa kau dapatkan saat hidup di China.” ujar paman saya.

 

Dahlan Iskan, menteri BUMN yang sedang naik daun mungkin juga hebat karena rantauannya. Pak DIS pernah hidup dan tinggal di China. Jiwa ulet dan tangguh orang China berhasil masuk kedalam dirinya, dan akhirnya sukses membesarkan perusahaan Jawa Pos, sekaligus sukses mentransformasi PLN.

 

Mungkin, sekarang saatnya saya mereformasi ulang jalur hidup saya. Merantau ke luar negeri harus masuk dalam plan n starategy, entah itu saat kuliah, saat bekerja, atau bahkan mungkin saat berkeluarga. Yang jelas harus ada. Akan banyak sekali hal yang akan dikorbankan, dan mungkin juga akan sangat menyakitkan. Tapi inilah resiko yang harus diambil, agar saya bisa 1000 langkah lebih maju, dan yang terpenting adalah agar otak saya out of box!

 

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

 

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

 

Aku melihat air mejadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

 

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

 

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

 

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

(Imam Syafii)

 

 

Suselo Suluhito

Graduation Hope!(3) 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: