DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

SALAH MENGERTI TEKNOLOGI

on May 26, 2012

 

Pagi ini saya terenyum mendengar sebuah berita tentang “high-tech school” MAN 1 Malang. Sekolah tersebut dengan bangga memamerkan teknologi absensi sidik jari untuk siswanya. Sistem teknologi sidik jari tersebut juga menginformasikan kedatangan siswa ke orang tuanya. Tujuannya agar kenakalan bolos siswanya terekam. Sangat modern dan menarik. Fasilitas brilian!

Tapi, untuk seorang yang mengerti teknologi, sekolah tersebut lucu. Mereka tidak paham teknologi. Orang yang mengerti teknologi hakekatnya tahu bahwa teknologi lahir untuk membantu memudahkan hidup manusia. Bukan untuk mengekang manusia, apalagi menakut-nakuti seperti mesin absensi itu.

Andai kata setiap siswa ditanamkan pentingnya pendidikan, maka secara otomatis siswa tersebut dengan senang hati datang ke sekolah tepat waktu. Kesadaran pendidikan dan rasa senang datang ke sekolah juga punya efek yang baik keberterimaan materi. Jelas hal ini sangat berbeda jika siswa tersebut datang karena takut mesin absensi.

Saya rasa pendidikan karakter disiplin dan haus pengetahuan jauh lebih penting daripada memaksa siswa masuk kelas tepat waktu. Andai karakter tersebut ditanamkan, efesiensi yang didapatkan untuk sekolah juga luar biasa besar. Ada puluhan jutaan rupiah uang investasi mesin yang terselamatkan, ada biaya operasional listrik dan pulsa sms yang dihemat, dan juga ada biaya perawatan yang dipangkas. Dari sini jelas keuntungannya, siswa dapat pendidikan karakter sedangkan sekolah menghemat anggaran.

Memahami arti teknologi mungkin sama pentingnya dengan pendidikan seks, harus ditanamkan sejak dini. Jika tidak, maka seperti sekarang ini, banyak remaja menjadikan gadget sebagai style kegaulannya. Itu jelas berbeda dengan tujuan gadget itu lahir.

Saya jadi ingat saat penerapan mesin absensi di Tokema. Waktu itu kadiv saya, mas Dito, membuat software absensi karyawan Tokema. Softwarenya bagus. Bisa ngecheck data masuk dan keluar karyawan, akumulasi keterlambatan, akumulasi bolos, hingga tanggal ulang tahunpun tercatat disana. Pokoknya canggih.

Tapi jadi sirna setelah saya menyadari kecanggihan teknologi tersebut bertentangan dengan kesadaran karyawan datang tepat waktu. Software absensi tersebut masih bisa diakali dengan nitip absen, masih bisa diakali dengan merekayasa waktu keterlambatan. Dan beberapa karyawan melakukannya! Saya pun berpikir, klo dipasang mesin absensi super canggih pun juga pasti akan diakalin.

Dalam kasus Tokema ini, bukan pendidikan karakter karyawan, tapi budaya perusahaan. Andai stakeholder tokema menyadari pentingnya buka tepat waktu, pentingnya kepercayaan konsumen, dan makna kepuasan pelanggan, maka tokema tidak perlu berinvestasi mesin absensi yang canggih. Hanya perlu mesin absensi yang merekap data kehadiran dan pulang karyawan untuk dianalisis, bukan mesin absensi untuk menakut-nakuti karyawan.

Saya membayangkan, andai pendidikan teknologi secara tepat diberikan ke siswa sejak kecil. Maka tren “gadget gaul” tidak akan pernah ada. Pemborosan uang konsumtif akan turun tajam. Klo bicara perdagangan, jumlah impor barang elektrik tertekan. Klo dalam bahasa bisnis, penghematan itu bisa untuk investasi. Klo bicara di kamahasiswaan, penghematan tersebut bisa mensubisidi rakyat tidak mampu!

 

ATAU…..

 

Kebodohan orang tentang arti teknologi bisa jadi lahan menggiurkan. Kesempatan untuk membuat industri yang mengembangkan bisnis impor barang, juga kesempatan menambah lapangan pekerjaan, dan yang pasti meningkatkan pendapatan negara lewat pajak. Mungkin kondisi seperti ini akan menjadi peluang yang menarik untuk para pebisnis.

Begitulah, semua permasalahan klo ketemu sama bidang entrepreneur, sampah paling busuk pun bisa jadi duit.hehe. Dan krisis teknologi negara ini juga tidak akan terasa sakit selama pengusaha bisa mengimpor barang berteknologi, bukan memproduksi barang berteknologi.

Ini yang membuat saya ingin terjun ke bisnis teknologi. Bukan mengambil jatah bisnis yang harusnya bisa dilakukan lulusan SMA. Sekarang saatnya berkomitmen mendirikan sebuah bisnis, yang akan diterapkan beberapa tahun mendatang. Dan bukan sekedar pedagang yang menjelma jadi pengusaha. Untuk menjaga harga diri bangsa ini, saya harus masuk ke wilayah HEAVY INDUSTRY!

 

Suselo Suluhito
Graduation Hope!(4) 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: