DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

“YA ALLAH, ENGKAU LEBIH TAU”

on July 16, 2012

Beberapa minggu terakhir, doa setelah sholat saya sangat cepat. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, waktu doa saya mungkin sama seperti waktu sholat, bahkan mungkin lebih lama.

Doa yang sangat cepat ini bukan karena saya sombong. Bukan karena sudah tercukupi semua kebutuhan. Dan (semoga) bukan karena iman yang semakin menurun. Tapi karena berusaha memahami salah satu sifat Allah, yaitu “Maha Tau”.

Dulu, setelah sholat, doa saya selalu diawali dengan curhat dulu. Kemudian dilanjutin permohonan-permohonan seperti pada umum. “Ya Allah, berilah hamba kepandaian…..(bla bla bla), Ya Allah, Ampunilah dosa hamba ini…..(bla bla bla), Ya Allah, cukupkanlah rejeki….(bla bla bla), Ya Allah, berikanlah yang terbaik buat hamaba ini…… (bla bla bla)” dan doa lainnya. Setelah itu, ditutupi dengan Al Fatihah. Selesai.

Tapi suatu saat saya memikirkan lagi doa-doa saya. Seperti curhat kepada Tuhan. Kenapa saya harus curhat panjang lebar padahal Allah Maha Tau segalanya. Tanpa saya berceritapun, Allah tahu apa kegundahan dalam hati saya.

Kemudian doa saya  seperti “berilah”, “ampunilah”, “cukupkanlah”, “sehatkanlah”, “makmurkanlah”, dan sejenisnya, klo dipahami lagi itu seperti memberi perintah kepada Allah. Etikanya, itu sangat tidak sopan, dimana letak logika jika Tuhan diperintah oleh Manusia?

Sejak itu doa saya agak saya ubah. Saya beri tambahan kata “tolong”. Seperti “Ya Allah, tolong berilah hamba….(bla bla bla), Ya Allah tolong cukupkan….(bla bla bla)”. Menurut saya itu agak lebih sopan daripada kata-kata perintah seperti sebelumnya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kata “tolong” itu juga sebuah “kata perintah untuk menolong”. Akhirnya pola doa seperti itu hanya sebentar saya pakai.

Kemudian saya terpikir tentang konten doa . Buat apa Allah menciptakan akal untuk belajar, tapi saya meminta kepandaian? Buat apa Allah menciptakan indera lengkap untuk berusaha, tapi saya meminta kemudahan? Buat apa Allah memberikan kekuatan untuk bekerja, tapi saya meminta rejeki berlimpah? betapa anehnya klo manusia ingin semuanya serba instan.

Ini juga bikin saya bingung. Klo saya berdoa seperti sebelumnya, yang terkesan memerintah Tuhan, itu agak ngawur. Tapi klo tidak berdoa, nanti bisa dianggap sombong. Sama-sama ngawurnya.

Saya belum tahu bagaimana cara doa yang benar. Dan juga tidak boleh sok tahu bahwasanya doa yang bersifat memerintah itu tidak sopan. Apalagi tidak berdoa.

Sekarang, doa saya singkat. Bahkan lebih didominasi mendoakan orang lain ketimbang diri sendiri. Mendoakan orang tua, keluarga, saudara, teman, negara, pemimpin, dan lainya. Sedangkan doa untuk saya sendiri sangat sederhana. Tanpa curhat, karena Allah Maha Tau. Tanpa perintah, karena Allah itu Tuhan. “Ya Allah, engkau tahu kegundahan isi hatiku. Engkau mengerti apa yang terbaik buat hambamu ini. Aku hanya bisa berpasrah kepadamu, karena sesungguhnya Engkau lebih tau”

Semoga doa ini tidak membuat saya menjadi muslim yang sesat. Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: