DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

MISSION IMPOSSIBLE PROTOKOLER ITB [ed.sabtu]

on July 20, 2012

sambungan edisi hari jumat…..

Sabtu, jam 6 pagi. Di dalam Sabuga, mulai dari Menwa, Protokoler, LSS, LFM, KPA, hingga PSM, sudah terlihat hiruk pikuk mempersiapkan diri. Protokoler wajah lama alias yang bertugas hari jumat kemarin juga sudah berkumpul. Meskipun ada tambahan protokoler baru, jumlah protokoler masih lebih sedikit dari hari kemarin. Tapi ada beberapa alasan yang membuat saya optimis wisuda yang dipimpin Diana ini lancar meskipun jumlah wisudawan dan tamu 2 kali lipat lebih banyak.

Pertama, protokoler yang bertugas hari ini hampir semuanya sama dengan yang bertugas kemarin. Itu tandanya protokoler sudah berpengalaman dan kenal medan. Beda dengan wisuda April maupun Oktober tahun lalu, dimana petugas hari jumat dan hari sabtu dikawal oleh orang yang berbeda. Perbedaan personal tersebut bisa membuat kesalahan hari jumat terulang lagi di hari sabtunya. Sedangkan wisuda kali ini cukup diuntungkan, kesamaan personil 2 hari ini memberi jaminan kesalahan hari jumat tidak akan terulang di hari sabtu. Legenda bayi masuk Balairung, dosen arogan, baju wisudawan belum lengkap, hingga rewelnya tamu VIP pasti akan ditangani dengan baik oleh protokoler.

Kedua, saya merasakan ikatan emosi antar protokoler sudah makin kuat. Mungkin ini karena sama-sama merasakan pahit manis kerja di hari sebelumnya. Ikatan yang kuat seperti ini sangat menguntungkan. Dongeng miskomunikasi, salah persepsi, saling menyalahkan, saling apatis, dan fenomena lain yang biasa terjadi di kepanitian tidak akan terjadi dengan kuatnya ikatan emosi ini.

Ketiga, protokoler akan memberikan perfoma terbaik sepanjang sejarah protokoler angkatan 2011 bertugas. Ini karena wisuda Juli ini adalah tugas wisuda terakhir. Oktober nanti banyak protokoler yang lulus. Selain itu juga petugasnya akan digantikan oleh protokoler generasi baru, kalaupun para nubitol itu harus didampingi protokoler lama, paling hanya menemani ditingkat manajer, yang jumlahnya juga skitar 8 orang.

Alasan-alasan itulah yang membuat power protokoler hari ini menjadi 2 kali lipat dari jumlah protokolernya sendiri. Ditambah lagi Adam, dantim menwa, juga menepati janjinya kemarin, menambah personil menwa. Saya optimis acara wisuda hari sabtu akan berjalan lancar meskipun harus menangani lebih dari 3200 orang.

Briefing protokoler telah dilakukan. Urusan tetek bengek yang terjadi kemarin, seperti HT terlambat datang, meja buku belum siap, koordinasi jam buka gate, hingga satpam pemegang kunci yang ilang-ilangan kemarin sudah tidak terjadi lagi. Para protokolerpun sudah mengenali bentuk tiket tamu wisudawan, tidak seperti hari kemarin yang belum sempat dibriefing oleh Bu Anis anatomi tiket karena datangnya agak lama.

Di dalam terlihat Ganes sibuk menempelkan urutan tempat duduk VIP. Melihat area dalam sudah hampir siap, saya memutuskan berjalan ke selasar mengechek persiapanya. Di selasar, sudah tampak banyak tempat duduk untuk orang-orang yang datang terlambat, dan juga untuk balita bertiket. Di tiap gate dan pintu juga sudah terlihat menwa berjaga-jaga. Pembatas area dari pot tanaman juga sudah terpasang, jadi tidak perlu nyari korban angkut berat lagi hari ini.hehe

Di luar gate terlihat gaduh. Ternyata orang tua dan wisudawan sudah banyak yang datang lebih dahulu dari jam pintu dibuka. Di tiap gatenya juga sudah dibuka rantai gemboknya, tinggal instruksi untuk open-close lagi, cerita keliling cari satpam seperti kemarin sudah tidak terjadi lagi. Pintu dalam tamu dan wisudawan sudah terbuka semua.

Di pintu logistik, yang hanya dijaga 2 orang menwa, mereka nampak kebingungan. Begitu saya mendekatinya, ternyata mereka bingung membedakan orang yang boleh masuk dengan yang tidak. Dia juga minta bantuan setidaknya satu protokoler untuk menemaninya. Itu jelas tidak mungkin dikabulkan, kita tidak ada protokoler pengangguran hari ini. Akhirnya saya instruksikan orang yang boleh kluar masuk hanya dari ciri fisiknya. Klo LFM pakai name tag, KPA jas hijau, PSM jas biru, LSS pakai pakaian adat, dan protokoler pakai jas yang ada PINnya. Mereka langsung patuh dan mengerti.

Saya kembali ke Balairung lagi, menghitung jumlah box buku di tiap post. Terlihat para protokoler wanita dengan strongnya mengangkut buku ke post SB 2. Melihat SB 1 jumlah bukunya masih sedikit, akhirnya saya dan satu orang menwa angkut-angkut 2 box sekaligus ke SB 1. Buku SB 1 harus lebih banyak dari SB 2, karena SB 1 akan dilalui 600 wisudawan sedangkan SB 2 dilalui hanya 400an.

Saya, Ganes, dan Diana berkumpul sebentar. Kita bagi tugas dimana Diana di SB 2, Ganes SB Tengah, dan Saya sendiri di SB 1. Untung FTMD tidak di SB 1, klo ketemu anak FTMD bisa-bisa lebih ribut ngasih selamat daripada kerjanya.hehe

Di Balairung bagian SB 1 terlihat sang manajer, Adis sedang berbincang-bincang dengan Ganis, sepertinya mereka berdua yang bertugas di bagian tengah untuk mengatur tamu dan wisudawan.  Di ujung pintu tamu hanya ada Fia dan Loula, sedangkan di pintu wisudawan terlihat Faiza dan Alfia. Berjalan ke filter 2, dongeng kemarin terjadi lagi, sepi! hehe.

Tapi tiba-tiba datang Mita ke tengah. Dia bilang akan berjaga di filter 2. Ternyata strategi hari sabtu ini agak berbeda dengan hari jumat. Saya setuju strategi satu orang di filter 2, karena jumlah orang tua yang datang jauh lebih banyak dari hari jumat. Mau tidak mau harus ada protokoler yang menangani arus orang tua wisudawan.

Di bagian gate orang tua, ada Pipit dan Eka. Sudah sangat terlihat orang tua bergerumul meminta segera masuk ke dalam Sabuga. Saya minta tolong mereka berdua untuk mefilter seketat mungkin, karena di dalam sudah tidak mungkin lagi ada pengecekan tiket. Loula dan Fia juga hanya akan mencegah balita masuk dan menjamin orang tua masuk di pintu yang tepat.

Di gate wisudawan hanya ada Yeni. Saya juga minta tolong Yeni memastikan wisudawan masuk Sabuga dalam keadaan pakaian lengkap, dan tanpa ada asesoris himpunan. Karena di dalam tidak ada pengecekan lagi, Faiza dan Alfia pasti akan sibuk mengurus pembagian buku dan tiket toilet.

Total ada 8 orang di filter dan gate. Meskipun sedikit, dengan kualitas protokolernya mencapai tingkat expert, pasti akan bisa ditangani dengan baik. Beberapa saat kemudian terdengar instruksi persiapan dari Diana membuka gate orang tua dan wisudawan. Tantangan sesungguhnya sebentar lagi akan dimulai. Bismillahirohmanirohim…..

—————–

Jam 7, instruksi membuka pintu gate telah dikeluarkan. Belum lama gate di buka, di gate orang tua terlihat anak menwa diomelin beberapa orang tua. Akhirnya saya mendekati mereka, ternyata mereka belum sempat mengambil tiket undangan. Sesaat terdengar di HT dari SB 2 juga ada orang tua mencari loket pengambilan tiket undangan. Bu Anis menginstruksikan tiket wisudawan bisa diambil di dekat gate VIP.

Saya arahkan para orang tua tersebut kesana, tapi mereka justru balik ngomel ke saya, kabar dari anaknya tidak ada orang yang menjaga loket tiket. Akhirnya saya pergi ke tengah dan mengecheck loket. Bu Anis meminta saya masuk ke loket dan mengecek persediaan tiket dan toga. Sebelum masuk ruang loket, saya intip-intip barangnya dari pintu biar tidak dikira petugas loket. Tiba-tiba yang didepan loket orang-orang berteriak “Mas, mana tiketnya!” ,”Mas, orang tua udah dateng dari tadi!” , “Mas, lama banget sih! keburu tutup!”. Edanlah, ngitip doank aja udah diteriakin kayak gitu.haha

Tahu permasalahan cukup pelik ini, Bu Anis datang menghampiri saya. Akhirnya justru saya dan Bu Anis yang jadi petugas loket dadakan. Untung beberapa saat kemudian ada Astrid dan Dinda yang datang membantu, jadi saya dan Bu Anis bisa kembali mengkondisikan area.

Kembali ke SB 1. Terlihat Loula dan Fia agak kewalahan menangani orang tua wisudawan yang berjubel. Saya menghampiri gate orang tua, disana tiba-tiba ada Gembong yang ikut membantu protokoler. Syukurlah.hehe

Mita yang ditengah juga sibuk mengarahkan orang tua dan menunjukan tempat toilet. Di HT terdengar keributan Ganes dan Bu Anis. Dari obrolannya terdengar VIP banyak yang tidak dikenali karena undangannya diwakilkan, kemudian petinggi ITB yang ingin masuk, dan juga katanya kedatangan kepala Bapenas. Ternyata SB Tengah sekarang agak riweh.hehe

Tiba-tiba ada Diana lewat SB 1. Wah, klo ada GM lintas area itu tanda ada masalah di SB yang dihampirinya.hehe. Ternyata benar, dan sialnya saya juga baru menyadarinya. Di pintu wisudawan SB 1 berjejer ramai dan panjang sekali antrian masuk Balairung. Saya cek ke dalam pintu. Ternyata Faiza sendirian yang membagikan buku, Alfia sendiri sibuk membagikan tiket toilet dan sesekali membantu Faiza. Akhirnya saya dan Diana turun langsung membantu Faiza agar jalurnya lancar.

Sesaat kemudian antrian berkurang dan arus mulai lancar. Tapi juga sudah mulai ada masalah, buku yang tersedia di SB 1 sudah hampir habis. Akhirnya saya mondar mandir ke balik panggung untuk mengabil buku. Melihat saya mondar-mandir angkut buku rupanya membuat mbak-mbak MC iba, akhirnya mereka juga ikut membantu mengangkut buku ke SB 1.

Setelah disuplai, buku yang tersedia masih kurang. Begitu box sudah habis dan sudah sampai di SB 1 semua, Faiza bilang lagi terdistraksi! Saya sendiri juga bingung, tidak ada protokoler cadangan yang membantunya. Alhasil saya balas dengan senyuman manis saja untuk menenangkanya.hehe

Begitu buku sudah mau habis lagi, saya akhirnya lari ke SB 2. Disana ada Dewi dan Sinta. Rupanya SB 2 situasinya damai, tentram, tenang, dan bahagia. Berbeda SB 1. Stok buku disini juga masih tersedia banyak. Akhirnya saya mencuri satu box buku untuk dialihkan ke SB 1.

Sampai di SB 1, tiba-tiba HT terdengar Diana melaporkan buku box SB 2 hampir habis, mungkin gara-gara saya curi satu box tadi.hehe. Begitu SB 1 distok buku, langsung habis juga. Sudah tidak ada persediaan lagi. Akhirnya Faiza berkilah kepada wisudawan bahwa bukunya bisa diambil setelah prosesi, meskipun saya tau setelah prosesi tidak ada penyetokan lagi. Tapi kata “setelah prosesi” itu sangat diplomatis, hari minggu bisa disebut setelah prosesi, minggu depan juga bisa, bahkan tahun depan pun juga termasuk arti “setelah prosesi”. Cerdas kali protokoler yang satu ini.haha

Setelah urusan pembagian buku selesai, saya masuk ke Balairung membantu protokoler didalam. Agak sulit kerja di bagian ini. Tiap saya berusaha mengatur wisudawan, tiba-tiba ada teman dari sana-sini yang menarik dan mengajak foto bersama. Tapi sayang saya tolak karena agak riweh dengan yang lain.

Di tengah area wisudawan, tiba-tiba banyak wisudawati yang menyapa saya. Saya sendiri kaget karena sulit mengenali namanya. Wisudawati itu kecantikannya naik berlipat-lipat dari penampilan normalnya. Mungkin karena make upnya, ditambah dandananya, ditambah model rambut dan kerudungnya, ditambah pakaiannya, dan tambah-tambahan lainya.

Di rumah, saya 3 bersaudara yang kebetulan kakak adik cewek semua, sejak kecil sudah di doktrin oleh ibu agar tidak melihat wanita dari fisiknya, dari kakak saya juga merepost doktrin yang sama persis, bahkan dari adik cuma kenal cinta monyet itupun juga ngedumel kalimat yang sama, jangan lihat fisiknya!

Karena doktrin dilakukan berulang kali di rumah, alhasil saya tidak pernah melihat wanita dari fisiknya, tapi dari kecantikanya. Tiap wanita memang punya kecantikanya yang khas dan tidak mungkin sama persis. Seperti ada persentase tertentu di tiap orang pada bidang kecantikan, kemanisan, kekaleman, kecentilan, keimutan, dan lainnya. Jadi tidak ada yang sama persis, dan saya mengenali mereka dari komposisi yang unik itu.

Tapi wisudawati kali ini sudah di make up sedemikian rupa sehingga presentase khasnya berubah total. Sejak saat itu saya mematahkan doktrin keluarga di rumah, kadang kala memang harus dikenali lewat fisiknya.

Akhirnya saya lihat tempelan kursinya, ternyata yang menyapa tadi itu anak-anak farmasi. Berarti kawan-kawan protokoler sendiri. Saya amati orang yang menyapa saya tadi, langsung kenal! Itu Gitta, Ini Rani, trus ada Hani, trus ada Anita, disana Viki, dan sederet protokoler lain akhirnya saya kenali.hehe

Kerja di Balairung jadi tidak fokus. Saya memutuskan untuk keluar. Alhamdulillah kondisi di selasar lancar jaya. Tiba-tiba terdengar HT untuk masuk ke Balairung lagi membantu pengkondisian orang tua. -____-“. Di SB 2 ternyata tempat duduk orang tua sudah penuh. Saya cek ke dalam lagi ternyata SB 1 masih sisa lumayan banyak. AKhirnya orang tua di SB 2 dialihkan ke SB 1.

Begitu SB 1 mulai agak penuh, pintu Balairung orang tua mulai ditutup oleh Loula dan Fia. Tapi protokoler karyawan meminta dibuka kembali karena masih ada tempat kosong. Saya kaget, saya cari tempat yang disebut tadi. Ternyata benar, di pojok paling ujung SB 1 masih ada beberapa yang kosong. Dengan pertimbangan kerapian akhirnya semua orang tua dialihkan ke SB 1 pintu wisudawan.

Terdengar di HT instruksi untuk tutup gate. Semua gate SB 1 hingga SB 2 telah ditutup. Tidak seperti kemarin, saya tidak melihat lagi orang tua dan wisudawan telat berbondong-bondong masuk gate tengah dan menghampiri pintu wisudawan SB 1 untuk mendesak masuk. Jadi tidak ada masalah dengan orang tua lagi kali ini.

Terdengar dari HT prosesi upacara di Balairung siap dimulai, akhirnya pergumulan babak 1 telah usai…

 

————-

 

Rektor dan guru besar telah masuk. Saya, Ganis, Pipit, Mita, Diana, Faiza, dan Yeni beristirahat sejenak di pintu wisudawan. Sambil makan paket kotak kami duduk ditumpukan sampah-sampah box buku. Tidak ada jaim2an, bisa istirahat aja jadi hal yang mewah.

Sesaat kemudian Diana pergi menuju SB 2. Di depan pintu tiba-tiba ada orang tua terlambat yang ingin masuk. Pipit dan Faiza tanggap menanganinya. Kebetulan di Balairung ada beberapa kursi kosong, akhirnya mereka diijinkan masuk. SB 1 sangat tenang hari ini.

Akhirnya saya jalan melihat kondisi SB 2. Ternyata disini ada masalah, kumpulan orang tua sedang mengepung Diana dan Ganes. Fanny bercerita katanya ada orang dari militer yang ingin masuk ke dalam, sisanya hanya orang tua follower aji mumpung cari kesempatan.

Saya mendekati mereka, terdengar bapak militer ngomel-omel lebai dan mengancam Diana sampai ke ranah hukum. Dari situ saya menyimpulkan dia bukan dari militer. Orang militer itu gentle, tidak pernah ada ancam-mengancam. Sesaat kemudian Bu Marlia datang menyelesaikan masalah. Kesepakatanya masuk 2-2 sampai kursinya terisi penuh.

Di dalam, bapak yang mengaku militer itu minta maaf kepada Sinta, rupanya Sinta sempat tersemprot oleh dia.hehe. Melihat area SB 2 minim sisa tempat duduk, Ganes meminta saya mengecek di area SB 1. Saya tanyakan ke Faiza memang ada kursi kosong dibawah dan diatas. Akhirnya Ganes mengirim orang tua aji mumpung tadi ke SB 1. Karena saya agak geram dengan mereka, saya pilihkan tempat duduk di paling ujung dan paling atas. Benar saja, begitu orang tua itu sampai atas, nafasnya sudah tersendat-sendat kecapekan.hehe

Beberapa saat kemudian acara ucapan selamat dimulai, saya lihat ada penculikan protokoler SB 1 dan SB 2 oleh SB Tengah untuk romusha di bagian barikade. Saya lihat di pintu wisudawan hanya ada Yeni seorang yang mengurus tiket toilet. Terlihat dia sangat kelelahan, saya tawarkan untuk ganti kerjaan. Dia menolaknya, dia tahu semua protokoler sibuk, sudah tidak ada protokoler yang bisa menggantikanya. Cewek tambang emang strong lah.

Di HT terdengar instruksi Diana untuk mencari Adam karena HTnya lowbat. Saya tanya anak menwa dari ujung pintu logistik hingga tengah tidak ada yang tahu keberadaannya. Saya lihat di area SB 2 juga tidak ada. Tiba-tiba saja Adam nongol dari atas pintu VIP. Saya kaget juga apa yang dilakukan di atas sana. Kata Adam dia sedang menghalau massa kampus yang mencoba masuk lewat atas Sabuga. Saya baru tahu ada massa kampus yang usil mencoba masuk lewat atas.

Saya antarkan Adam ke Bu Anis, dan dikembalikan lagi ke selasar. Belum sampai kembali selasar ada perintah untuk mengkondisikan belakang Balairung. Ternyata di belakang ada banyak anak LFM yang bergerombol ngasih ucapan selamat kepada wisudawan. Ada yang kasih bunga, ada yang kasih kalung, dan macem-macem lagi. Agak aneh memang ketika LFM harus sibuk memotret salaman dengan pak rektor dan menangani tranksaksi foto di selasar, banyak personil yang nganggur dibelakang.

Saya dan Diana coba dekati mereka, akhirnya saya tahu. Sepertinya mereka bukan LFM petugas wisuda tapi menerobos pintu logistik dengan trik nametag. Saya tahu ini karena saya sendiri sering melakukannya, mulai dari acara Gema Inspirasi ITB Fair, Kontes Robot Nasional, hingga Seminar Kepemipinan, yang klo ditotal keseluruhan saya berhasil masuk gratis dan menghemat ratusan ribu rupiah.

Triknya gampang. Misal saya dan 4 orang teman saya punya nametag masuk ke Sabuga. Begitu berlima sudah masuk sabuga, saya pinjam 4 nametag teman saya tadi, saya taruh di saku. Saya keluar sabuga lagi, saya bagikan 4 nametag tdi ke 4 orang yang ada di luar. Akhirnya 4 orang yang diluar tadi bisa masuk ke dalam menggunakan nametag orang yang sudah di dalam. Mudah dan gampang.

Saya tidak bisa apa-apa lagi dengan orang-orang seperti ini. Protokoler yang membarikade hanya mengkondisikan wisudawannya untuk tidak memakai atribut aneh-aneh, dan menjaga kekondusifan area saja.

Saya jalan ke pintu wisudawan SB 1. Masih terlihat Yeni sendirian, dia meminta tambahan tiket toilet. Rupanya banyak orang tua yang keluar Balairung tapi enggan balik lagi, jadinya stoknya menipis. Saya ambilkan dari SB 2, dan dengan cepat habis juga tiketnya.

Tiba-tiba dari HT terdengar perintah untuk menurunkan wisudawan di tempat duduk orang tua. Saya masuk Balairung lagi, dan ternyata banyak sekali wisudawan yang menyebar disana. Akhirnya terpaksa harus naik tangga, grusak-grusuk tempat duduk dan mengingatkan wisudawan untuk turun kebawah. Begitu selesai, turun lagi, pindah tangga yang satunya, naik lagi, grusa-grusu tempat duduk lagi, ingatkan wisudawan lagi. Begitu terus sampai ujung tengah balairung, terhitung ada 4 tangga. Capek euy.

Agar kejadian ini tidak terus-terusan, saya akali dengan membuat penjagaan dari protokoler di tiap tangga. Tapi itu semua sirna setelah sadar semua protokoler tersedot habis di barikade. Terpaksa memunaskan ide tadi.

Tiba-tiba di HT terdengar perintah dari Diana untuk mencari Adam lagi kaena HTnya lowbat. Saya panggil lagi dari atas pintu VIP. Saya antarkan lagi ke Bu Anis. Saat perjalanan, saya amati banyak wisudawan berhamburan di selasar. Setelah ambil HT untuk Adam, Bu Anis meminta tolong lagi menurunkan wisudawan yang naik ke tempat duduk orang tua di Balairung. Akhirnya saya minta tolong Adam untuk mengkondisikan wisudawan yang ada di selasar, sedangkan saya masuk ke dalam menurunkan wisudawan.

Prosesi naik turun tangga, grusak-grusuk tempat duduk, ingatkan wisudawan lagi kembali terulang. Dari tangga paling ujung sampai tangga paling ujung satunya. Capeknya bukan main. Tapi tiba-tiba saya terkejut, ada wisudawan oknum L sedang bermesraan dengan orang lain. Oknum L ini sendiri adalah pacar teman dekat saya sendiri. Saya jadi kasihan dengan sahabat saya itu.

Jadi ingat kejadian tadi pagi. Teman sejurusan saya sedang pedekate dan TTM dengan gadis A, tapi tadi pagi saya lihat gadis A tersebut jadi PW orang lain. Ada juga yang 2 minggu sebelumnya baru kenalan, tiba-tiba jadian mendampingi wisudasi. Dan masih banyak lagi keajaiban asmara yang dialami teman2 saya hari ini. Ternyata di kampus ini peta politik asmara bisa berubah drastis hanya karena status wisuda!

Tiba-tiba terdengar suara Adam dari HT meminta bantuan saya menangani wisudawan di selasar. Ternyata anak menwa agak kesulitan menghimbau para wisudawan yang mbandel itu. Saya turun ke selasar, datangi satu persatu wisudawanya. Yang lagi foto-foto, lagi ngobrol sama orang diluar, lagi bermesraan, dan lagi makan berhasil saya himbau masuk ke dalam. Yang sulit adalah yang ngerokok, harus nunggu sampai rokoknya habis. Yang bikin capek adalah saat berhasil memasukan 10 orang, tapi yang keluar lebih banyak.

Dari HT terdengar proses ucapan selamat selesai. Saya bertemu Diana di gerbang depan. Terlihat Adam sedang berkoordinasi dengan satpam tentang pembukaan gate keluar. Sekarang dirolling, saya mengurus wisudawan bandel di selasar SB 2, sedangkan Diana di SB 1. Ternyata memasukan wisudawan SB 2 jauh lebih mudah dari SB 1, kerjanya pun lebih cepat.

Saat menghimbau wisudawan SB 2, saya lihat orang berjas almamater mendekati para petugas menwa. Saya dekati dia, ternyata dia danlap arak-arakan dari KM, yang menghimbau menwa untuk mengalihkan wisudawanya keluar lewat jalur atas. Itu jelas merusak pengaturan arus keluar, akhirnya saya tegur dia untuk tidak melanjutkanya lagi. Kesepakatanya dia hanya boleh mengatur wisudawan saat benar-benar keluar Sabuga.

Setelah itu saya masuk ke pintu wisudawan SB 2. Gantian Vaski yang menghimbau wisudawan di selasar SB 2. Di dalam pintu ada Sinta dan Dewi. Sinta sudah bersiap-siap menutup pintu karena persiapan doa. Di Balairung terlihat perwakilan wisudawati memimpin salam Ganesha, walaupun salamnya harus dua kali karena yang pertama gagal.hehe

Vaski sudah kembali ke pintu wisudawan, akhirnya saya kembali ke SB 1. Ada Faiza yang sedang menghalangi pintu keluar masuk wisudawan. Proses berdoa memang sedang dimulai. Akhirnya saya sudah mulai bisa tersenyum lagi, karena sebentar lagi acara usai…

 

———————

 

Sambil menunggu berdoa, saya cek message di HP saya. Banyak SMS masuk yang mengucapkan selamat acaranya sukses. Ada juga yang memuji kerja para protokoler. Ada yang mengucapkan terima kasih. Dan ada juga yang titip salam ke salah satu protokoler, ternyata ada yang cinlok wisuda kali ini.hehe

Wisudawan yang di Balairung banyak yang tidak tahu bagaimana hebohnya protokoler menangani acara ini. Bagaimana pusing para protokoler yang hanya 20an orang ini menangani 3200 orang di Balairung. Yang mereka rasakan tau-tau yang di dalam tenang dan lancar aja. Andai para wisudawan itu tau bagaimana proses berdarah-darahnya Diana memimpin protokol dan melihat kerja mati2an para protokoler wisuda hari itu, pasti seribu jempol akan disematkan ke Diana dan tim protokoler.

Doa selesai. Diana masih melarang membuka pintu sampai rektor keluar Balairung. Kabarnya, saat barikade Pak Ahmaloka keluar, tim protokoler yang sudah sangat kecapekan itu keceolongan ada bapak-bapak yang menerobos dan memeluk rektor.

Tiba-tiba ditengah Balairung menggema suara anak HMM yang akhirnya disambut gemuruh tepuk tangan di Balairung.

Perhatian Fren! (Yes Fren!)

Yellboys…!!! (Yeah…!!) – 3x

Union-Union Machine Strong! – 3x

Solidarity Forever! – 3xFor Union Machine Strong ….!!!

Mental saya langsung naik lagi. Pesta arak-arakan akan dimulai. Wisuda hari sabtu ini juga usai tanpa hambatan.

Wisudawan dan orang tua mulai berhamburan keluar. Protokoler yang biasanya dimintai bantuan membagikan makanan di luar juga saya tolak hari ini. Kemarin saya sanggupi mengingat mengejar solat jumat. Sedangkan hari ini jumlah protokoler sudah sangat sedikit, dan sudah sangat kelelahan.

Tapi, di dalam ruang protokoler, wajah-wajah kelelahan itu benar-benar tidak ada. Ternyata semuanya sedang gembira acara wisuda hari ini telah sukses. Diana berhasil memimpin Mission Impossible Protokoler ini dengan sangat baik! Kegembiraan itu ditambah lagi dengan hadirnya wisudawan protokoler yang ikut memeriahkan pesta keberhasilan ini.

Dua minggu kedepan, acara Penyambutan Mahasiswa Baru S1, S2, dan S3 dengan jumlah sekitar 4000 orang juga saya yakin akan dilalui dengan mudah, toh protokoler yang bertugas mencapai 40 orang. Anak-anak baru biasanya baik-baik da patuh, tidak seperti acara wisuda kali ini.

Protokoler 2011 telah berhasil melalui misi terberat sepanjang bertugas. Kepercayaan diri protokoler sudah meningkat pesat karena kesuksesan ini. Ini akan menjadi cerita haru Protokoler 2011 yang akan dikenang saat lulus dam saat reuni kelak…

=)


One response to “MISSION IMPOSSIBLE PROTOKOLER ITB [ed.sabtu]

  1. alhakiki says:

    Duwowone mas critone… sampek kesel. Tapi apik kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: