DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

AKAL SEHAT KAMPANYE ANTI TEMBAKAU DAN LEMPAR AIR

on August 11, 2012

Saat melihat beberapa teman yang dari aktivis kesehatan sedang kampanye antitembakau, saya ketawa. Mereka yang kampanye antitembakau itu, sangat membenci perokok. Entah karena sikapnya, tingkah lakunya, caranya merokok, sampai asapnya pun dibenci abis-habisan. Maka keluarlah kampanye untuk menghadang perokok itu, yaitu kampanye antitembakau. Pertanyaanya, kenapa tidak kampanye “antirokok”? kenapa justru kampanye “antitembakau”?

 

Memang asal muasal rokok itu dari tembakau, tapi tidak selayaknya jika tembakaunya ikut divonis bersalah. Logikanya seperti ada orang yang melakukan kejahatan, yang dihukum ya orang jahat itu. Bukan ayah-ibu yang melahirkan orang jahat itu, apalagi kakek neneknya.

 

Saya setuju dengan mereka bahwa rokok itu tidak ada unsur baiknya. Tapi tidak sama halnya dengan tembakau. Tembakau itu manfaatnya jauh lebih banyak dari sekedar rokok. Saya pernah dengar manfaat tembakau untuk suatu rekayasa hayati. Pendaki gunung juga merasakan manfaat tembakau untuk melepas lintah yang menempel saat perjalanan. Saya juga pernah membaca artikel tembakau untuk obat tradisional. Dan juga baru-baru ini ada penelitian biodiesel dari tanaman ini. Mungkin masih banyak lagi selain yang saya sebutkan itu.

 

Kalau tumbuhan punya undang-undang HAT(Hak Asasi Tumbuhan, temennya HAM), pasti orang yang kampanye antitembakau itu terjerat hukum dengan pasal “rasisme”. Ibarat pada manusia, misal kampanye anti-Suku Jawa, jelas orang yang dari suku Jawa akan marah dengan perlakuan rasis seperti itu. Sama halnya dengan tumbuhan yang mempunyai berbagai macam “suku”, kampanye antitembakau pasti juga dicap sebagai tindakan “rasis” versi tumbuhan.

 

Pelanggaran HAT yang dibiarkan terus menerus seperti ini bisa merusak akal sehat saya. Dan yang bikin saya terkejut adalah kampanye ini tidak hanya digalakan di lingkungan setempat, sudah menginternasionalisasi. Atau mungkin sudah melokalisasi dari gerakan kampanye internasional. Entah mana yang lebih dahulu, yang jelas “akal sehat” yang tidak sehat seperti ini sudah ada di berbagai belahan dunia.

 

Jadi ingat kampanye anti lempar air saat wisuda oleh anak lingkungan. Sama-sama membebani akal sehat saya.

 

Saat itu, aktivis lingkungan setempat, yang anehnya didukung oleh Lembaga Kemahasiswaan, menghimbau semua himpunan untuk tidak melakukan lempar air saat perayaan wisuda. Mereka membuat artikel-artikel kekurangan air yang menyedihkan dari berbagai tempat untuk mengetuk hati massa kampus. Bahkan di gerbang depan terpampang gambar berbagai kondisi tanah yang kekurangan air. Membandingkan hal yang tak patut dibandingkan ini yang membuat saya geregetan.

 

Logikanya, di berbagai belahan bumi ini pasti ada daerah yang kelebihan air dan kekurangan air. Tidak bisa dipaksakan daerah yang airnya berlimpah harus dihemat agar daerah yang kekurangan air bisa terpenuhi kebutuhanya. Sama seperti, di Indonesia misalnya, melarang anak kecil main air di kamar mandi agar orang yang tinggal di gurun pasir Afrika bisa mendapatkan air dari penghematan yang kita lakukan.

 

Saya bisa saja menunjukan kepada para aktivis tersebut daerah yang airnya melimpah tapi terbuang sangat percuma, bahkan dalam skala puluhan ribu liter perhari. Daerah itu di Cihurip, Garut. Dibandingkan wisuda yang cuma 3 kali dalam setahun, itupun tidak sampai puluhan ribu liter, hanya ratusan. Ingin sekali saya minta para aktivis itu membuktikan kalau menghentikan air di Desa Cihurip itu bisa membuat daerah yang kering air bisa jadi terairi, atau paling gampang sekedar basah.

 

Kadang bersama teman saya yang dari elektro membuat guyonan kecil-kecilan tentang ini. Kami ini cowok yang berambut cepak, yang panjang rambutnya paling 1-2 cm. Klo keramas kami butuh sampo setengah sendok teh saja. Dan air yang dikeluarkan untuk membilasnya mungkin sekitar 1-2 liter. Bandingkan dengan para aktivis itu yang mayoritas berambut panjang nan cantik dengan perawatan high class. Bisa saja kami mengklaim kami lebih ramah lingkungan daripada mereka. Sekali lagi, itu hanya guyonan khas jawa timur yang jelas-jelas tidak ada sifat ilmiahnya.hehe

 

Akal sehat memang harus selalu diasah, termasuk hal-hal kecil seperti antitembakau dan lempar air. Akal yang kurang sehat, jika tidak disembuhkan lama-lama bisa sakit beneran. Kalau akal seperti ini sudah menular ke banyak orang, lama-lama tidak terasa sakit karena sudah menjadi hal yang umum dan wajar di masyarakat. Bahkan bisa jadi orang yang akalnya sehat menjadi paling aneh sendiri diantara masyarakat.

 

 

 

 

SUSELO SULUHITO

Graduation Hope!(6)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: