DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

ASET TERSEMBUNYI MEDCO, PERS, DAN BANK NISP

on August 21, 2012

Reuni sekolah di Bulan Ramadhan ini, salah satu kawan saya yang berlatang belakang bisnis menceritakan pengalamannya mengelola toko. Ada bahasan yang menarik dari salah satu ceritanya. Yaitu tentang aset. Saya pernah berkecimpung di koperasi dan berkelut dengan tetek-bengek aset perusahaan. Tapi ternyata ada sudut pandang baru yang lebih menarik dari sekedar kata “aset” seperti yang didefinikan pada umumnya.

 

Aset menjadi “makanan” sehari-hari bagi pengelola perusahaan, tapi definisi aset bisa berbeda di tiap perusahaan. Ada aset yang bisa di-akuntansi-kan, ada aset yang hanya bisa di-indera-kan, ada juga aset yang tidak bisa dua-duanya.

 

Untuk perusahaan berbasis produksi seperti manufaktur, hampir semua aset utama yang dimiliki bisa di-akuntansi-kan. Mulai bahan yang paling mentah hingga ke mesin dan hasil produksinya bisa ditentukan nilainya dalam jurnal akuntansi.

 

Misalkan perusahaan perakitan mobil Toyota. Bahan mentah semacam komponen rakitannya, saat distok awal di gudang punya nilai jual. Mesin-mesin yang merakit semua komponen itu juga bisa diuangkan. Bahkan saat mobilnya sudah jadi dan tidak laku di pasar pun masih bisa dirupiahkan.

 

Lain halnya dengan perusahaan jasa seperti pers, justru hampir semua aset utamanya tidak bisa di-akuntansi-kan. Perusahaan seperti ini, informasi yang didapatkan dari jurnalis jadi aset utama. Aset yang berupa informasi itu bisa sangat berharga dan basi dalam waktu yang sangat singkat. Berita kecelakaan bus hari ini, menjadi sangat berharga jika diberitakan esok hari, tapi bisa jadi sangat basi jika diberitakan esok lusanya.

 

Sudut pandang informasi kecelakaan bus pun bisa berbeda nilai asetnya. Media Kompas misalnya, memberitakan dari sisi kronologi kecelakaan. Media Tempo memberitakan nasib para korban. Media Detik mengulas sebab-akibat kecelakaan. Setiap sudut pandang punya harga jualnya masing-masing.

 

Kualitas SDM para jurnalisnya juga jadi aset utama perusahaan. Perusahaan koran yang mempunyai gedung kantor, komputer, ATK, hingga alat percetakan yang sama, jika dikelola oleh perusahaan yang berbeda bisa menghasilkan aset yang berbeda. Kompas, Tempo, Jawa Pos, Sindo, dkk, meskipun peralatannya sama, nilai asetnya berbeda.

 

Ada juga industri yang kualitas SDM-nya di-akuntansi-kan secara paksa, yaitu industri sepak bola. Itupun angka akuntansinya sangat unik. Di klub-klub sepak bola di Eropa, penyerang yang jago nyetak gol bisa bernilai sangat tinggi dalam aset klub sepak bola. Namun, penyerang dengan kualitas yang sama tapi jumlahnya sangat banyak, harga pemain bola seperti itu bisa turun. Bahkan harga pemain bola juga bisa anjlok dalam waktu singkat hanya karena tersandung kasus tertentu.

 

Aset tersebut meskipun tidak bisa di-akuntansi-kan, tapi “bentuk”nya cukup nyata. Ada juga aset yang tidak bisa di-akuntansi-kan, tidak nyata, tapi bisa di-indera-kan. Saya sebut bisa di-indera-kan karena dapat dideteksi melalui “pendengaran”, penglihatan”, sampai ke “perasa”. Contohnya adalah budaya perusahaan, kepercayaan publik, keahlian, sampai ke sistem kerjanya. Hal-hal seperti itu hanya bisa kita ketahui saat kita ikut terjun bekerja di dalam perusahaan tersebut.

 

Saya jadi ingat cerita Dosen Manajemen Perawatan Mesin tentang aset “tersembunyi” itu. Arifin Panigoro orang yang jeli melihat aset ini. Dulu, Pak Arifin pernah ditertawakan oleh kaum pengusaha gara-gara membeli ladang sumur minyak yang sudah sangat tua. Saking tidak produktifnya ladang sumur itu, sang pemilik menjualnya dengan harga yang sangat murah, hanya menjual mesin dan kepemilikan tanah. Siapa sangka langkah lucu ini kelak menjadi cikal bakal perusahaan minyak nasional Medco Energi. Karena sesungguhnya Pak Arifin ini membeli aset “tersembunyi” berupa sistem kerja, keahlian, budaya perusahaan, hingga kualitas SDMnya. Dan mungkin beliau mendapatkanya secara gratis!

 

Yang paling menarik adalah ada aset perusahaan yang tidak hanya tak ter-akuntansi, tapi juga tak-terindera. Saya sebut seperti itu karena satu-satunya cara untuk mengetahui keberadaan “aset” ini adalah saat perusahaan mengalami masa kritisnya, yaitu saat dihantam krisis. Aset ini sulit dideskripsikan, tapi Bank NISP punya kisah yang menarik untuk menjelaskannya.

 

Kisah Bank NISP ini sering diceritakan dan diberitakan di TV di Tahun 1998. Kala itu, hampir tiap minggu pemerintah mengumumkan daftar bank-bank yang ditutup, jika bank tersebuttidak ingin disebut bangkrut. Saking seringnya muncul pengumuman tersebut, membuat investor dan publik menarik dana besar-besaran di bank karena takut tidak bisa mencairkan uangnya. Akibatnya, pendanaan bank-bank mulai kolaps dan krisis moneter benar-benar menimpa negeri ini.

 

Bank NISP adalah bank swasta menengah yang pengelolaannya hampir sama dengan manajemen bank pada umumnya. Tidak ada yang mencolok dan istimewa dari manajemen yang dimiliki oleh perusahaan. Krisis ekonomi Indonesia tahun 1998, terjadi pembakaran dan penjarahan gedung-gedung di Kuningan, Jakarta. Kondisi dimana para karyawan tidak masuk kerja dan memilih bersembunyi di rumah, karyawan Bank NISP justru berkumpul dan bergandengan tangan melindungi gedung tempatnya bekerja. Alhasil, Bank yang dikomandani oleh Karmaka Surjaudaja menjadi satu-satunya gedung di Kuningan yang “tidak terluka” dari aksi anarkis massa selama krisis moneter.

 

Aset-aset yang tak ter-akuntansi dan tak ter-indera seperti ini belum tentu ada di tiap perusahaan. Aset ini mungkin hanya diketahui oleh pemilik sekaligus pendiri perusahaan. Disinilah saya mengerti mengapa banyak pengusaha yang menolak menjual perusahaanya kepada pihak lain meskipun dibeli dengan harganya yang jauh diatas pasar. Mungkin selain karena jiwanya menyatu dengan perusahaan tersebut, sang pengusaha juga tidak rela menyerahkan aset “tersembunyi” yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.

 

Mungkin inilah salah satu pesan implisit yang disampaikan Dahlan Iskan saat memberikan tips sukses membangun usaha. Beliau berpesan agar para pengusaha tidak melakukan “manajemen musyrik”, tidak boleh mudah tergiur membuka banyak bisnis saat usahanya belum benar-benar sukses. Harus fokus pada usahanya sampai titik yang benar-benar paling tinggi! Yang berarti aset-aset tersembunyinya harus sudah matang semuanya.

 

Saat menjadi Ketua Sekretaris Umum Kokesma ITB, saya pernah punya ide untuk meng-aset-kan karyawan mulai dari koki hingga petugas kasir. Memang kondisi karyawan sudah masuk dalam SWOT Kokesma, tapi saya merasa perlu didetailkan. Tujuannya sederhana, agar pengurus tahu betapa berharganya “nilai” karyawan, agar pengurus tidak gampang main pecat karyawan, dan agar tahu karakteristik karyawan baru yang dibutuhkan kalau saja memang terpaksa ada karyawan yang harus diberhentikan. Tapi sayang, hingga kepengurusan berakhir pengurus inti dan pengawas masih disibukan oleh perdebatan nilai SHU Koperasi, jadinya tak pernah tersampaikan ide ini.

 

Di akhir penghujung obrolan reuni sekolah tersebut, kami membuat lelucon. Aset-aset yang tidak bisa di-akuntansi-kan ini, menyulitkan perusahaan untuk meminjam dana ke bank karena bank hanya mau menerima jaminan yang bisa diuangkan. Tapi disisi lain juga menguntungkan, aset tersembunyi tersebut, karena tidak bisa diuangkan, maka selamanya tidak akan pernah kena PAJAK!:P

 

 

SUSELO SULUHITO

Graduation Hope!(7)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: