DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

RASA TAKUT PENDAKIAN INI PUN AKHIRNYA USAI…

on September 7, 2012

 

Melawan Rasa Takut

Saya bukan anak pecinta alam. Bukan anak yang suka hidup di alam bebas. Juga bukan pendaki gunung sejati. Tapi klo diajak main-main di alam bebas, berpetualang, mendaki gunung, saya senang! Asal ada rezeki, waktu, dan kemampuan, saya pasti mengiyakan jika diajak hal-hal seperti itu.

 

Kenapa? karena dulu saya takut sekali. Takut sekali terhadap hal-hal yang sama sekali belum pernah saya jamah. Sebenernya ketakutan seperti ini sangat normal dialami oleh hampir semua orang, yaitu enggan keluar dari zona nyamannya. Saking enggannya, maka orang lebih nyaman tinggal di zona nyamannya. Karena terlalu sering di zona nyaman, begitu diajak pergi keluar zona, orang akan langsung merasa “takut”.

 

Dulu, Klo naik gunung, saya takut jika tiba-tiba kecapekan di tengah jalan. Takut tersesat. Takut hipotermia di atas bukit. Takut sakit mendadak(karena saya sakit mag), trus ga ada yang nolong. Takut luka berat, akhirnya ga bisa naik maupun turun gunung. Takut ketemu hantu. Takut ketemu hewan buas. Takut tidak bisa hidup normal(ga bisa mandi, makan enak, buang air di toilet, tidur di kasur, telpon2an, dkk). Dan masih banyak sekali rasa takut yang ada dalam diri saya. Yang berujung saya tidak pernah tertarik untuk mendaki gunung.

 

Hingga suatu saat, ditengah merenung kegalauan hidup, saya memikirkan “rasa takut” ini. Menurut akal sehat saya, aneh sekali saya menjaga “rasa takut” ini selama bertahun-tahun. Saya (alhamdulillah) tidak begitu berbeda dengan orang pada umumnya. Punya indera lengkap. Bisa jalan normal. Bisa lari. Bisa push up. Bisa sit up. Bisa angkut-angkut. Dan bisa yang lainnya, pokoknya normal. Sama normalnya dengan orang yang suka mendaki gunung juga. Lantas, kenapa saya begitu takut sekali. Ketakutan abnormal inilah yang membuat akal sehat saya memutuskan untuk mengevaluasinya.

 

Apakah karena keturunan? mungkin iya. Di pihak keluarga, semuanya adalah orang rumahan. Mulai dari bapak, ibu, kakak, adik, hingga saya sendiri adalah orang rumahan. Jadi tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benak kami untuk menjelajah di alam bebas. Bahkan jalan-jalan keliling kota saja jarang sekali. Lebih banyak di rumah. Akhirnya saya sendiri tidak pernah terpikir untuk naik gunung sama sekali.

 

Apakah karena mental? mungkin iya. Teman saya yang suka mendaki, Nizar Otot, pernah mengatakan kepada saya saat hearing HMM, “Modal utama mendaki gunung itu MENTAL! Sehebat apapun fisik yang dimiliki seseorang, klo dia tidak berani naik gunung, dia tidak akan pernah sampai kepuncak. Sebaliknya, yang bermental kuat tapi fisiknya lemah, dia akan membangun fisik secara alamiah hingga akhirnya bisa mencapai puncak.” Petuahnya sangat logis dan masuk akal.

 

Apakah karena terlalu banyak pikiran? mungkin iya. Apakah karena terlalu banyak kesibukan? mungkin iya. Apakah karena tidak punya kelengakapan menjelajah? mungkin iya. Apakah karena…. Apakah karena… Apakah karena….

 

Dan sesaat saya sadar. Saya punya seribu alasan untuk menolak naik gunung. Dan seribu alasan tersebut muncul hanya karena satu, RASA TAKUT. Ternyata, rasa takut inilah yang selama ini menciptakan seribu benteng penolakan yang tak beralasan.

 

Kemudian saya teringat film “The Karate Kid”(dan saya sangat berterima kasih kepada tim produksinya yang membuat film ini sangat bermakna). Disitu diceritakan anak Amerika, Dre, pindah ke China bersama ibunya dengan alasan pekerjaan. Di sekolah yang barunya, dia menjadi korban pem-bully-an oleh sekelompok murid yang jago Kung Fu. Saking seringnya di-bully, Dre, yang diperankan Jaden Smith(anaknya William Smith), sangat takut sekali bertemu dengan pem-bully yang jago Kung Fu itu. Beruntung, Dre bertemu Suhu Kung Fu, yang diperankan Jackie Chan, yang melindunginya. Apakah si Suhu melindungi Dre dengan mengawalnya? ternyata tidak. Sang Suhu meminta Dre menyelesaikan masalahnya sendiri dengan gentle. “The only way to STOP IT, is to FACE IT” begitu pesan sang Suhu.

 

“The only way to STOP IT, is to FACE IT”

“The only way to STOP IT, is to FACE IT”

“The only way to STOP IT, is to FACE IT”

Saya ucapakan kata itu berkali-kali sampai masuk ke alam bawah sadar yang paling dasar. Hingga akhirnya dicerna oleh otak menjadi, “untuk mematikan RASA TAKUT, saya harus MELAWAN!”. Dari situ saya buat keputusan membunuh “rasa takut” yang sudah lama hidup di jiwa ini. Saya harus naik gunung!

 

Kemudian timbul pertanyaan berikutnya di pikiran, bagaimana cara naik gunung klo saya sendiri belum siap? belum berpengalaman? belum latihan? belum dilatih? belum…. belum…. belum….. dan ternyata setelah seribu alasan dari rasa takut itu dibunuh, masih ada seribu pertanyaan yang menghadang niat ini.

 

Saya jawab seribu pertanyaan itu dengan dua kata, MENTAL BONEK! Mental yang …. meskipun tanpa kemampuan, tanpa modal. Tapi punya semangat yang besar, tekad yang kuat, dan kemauan yang bulat. Apapun yang terjadi, harus berangkat!

 

Dan akhirnya, Alhamdulillah Allah mengizinkan tekad saya ini.

 

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh rekan-rekan yang pernah satu tim mendaki gunung bersama saya. Spesial juga sang pimpro Ilmi(G.Gede), Opik(G.Semeru), dan Alfin(G.Bromo dan G.Rinjani). Terima kasih atas pelajaran dan ilmu kehidupan yang teman-teman berikan selama ini….

=)

 

Gunung Gede(2958 mdpl)

Bersama Stany, Kindi, Ilmi, Gunadi, dan Iqul.

Di Puncak G. Gede. Stanynya ga mau ikut foto euy.

 

Ga punya foto sendiri di G. Gede. Adanya yang bareng Ilmi.hehe

 

 

Gunung Bromo(2392 mdpl)

Bersama Piman, Briawan, Cemi, Alfin, dan Leits.

G. Bromo, lagi istirahat mau ke puncak. Berkabut parah.

 

Puncak Gunung Bromo, lagi nyetupa.haha

 

 

Gunung Semeru(3676 mdpl)

Bersama Opik, Agri, Rangga, Sadis, Erpinus, Yoga, Revan, Randi, Izar, Viki, Nyoman, Evan, Dani, dan Ikhsan.

Mahameru, Puncak Gunung Tertinggi Pulau Jawa.

 

Puncak Gunung Semeru, Ga dapet summit attack, tapi dapet sunrise attack.hehe

 

 

Gunung Rinjani(3726 mdpl)

Bersama Cahyo, Yulyan, Luther, Diwang, dan Alfin.

Rinjani, landscape gunung terindah di Asia Tenggara. Sukses dapet summit attack.

 

Pemandangan Rinjani yang kayak iklan Djarum Super.

 

 

——————————————————————-

 

Percaya atau enggak, ternyata mendaki gunung itu menyenangkan. Serius! =D

Lain kali saya ceritakan betapa menyenangkanya petualangan seperti ini…

😉

 

Siap-siap dari Ranu Kumbolo, danau yang katanya kayak tetesan air.

 

Makan mewah di camp! =D

 

 

Ronde Bonus. Ketemu Pevita Pearce di gunung!

xD


One response to “RASA TAKUT PENDAKIAN INI PUN AKHIRNYA USAI…

  1. […] Anda berada di Zona nyamanKOMUNITAS BLOGGER JAWA TIMURTubrukan Kapal Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)Pengen Punya Rumah…RASA TAKUT PENDAKIAN INI PUN AKHIRNYA USAI… […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: