DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

GADUHNYA SISTEM GENERASI SMALANE

on November 14, 2012

Membicarakan isu pembubaran sistem generasi di Smala memang ruwet tak berpangkal, tiap tahun selalu ada upaya dari sekolah untuk memotong rantai generasi ini. Hanya tingkat fluaktifnya saja yang berbeda. Kadang sangat santer, kadang halus sekali. Bergantung pada kadar ‘mood’ pengambil kebijakan.

 

Saya sendiri sebenarnya tidak punya kapasitas membahas ini. Saat perploncoan generasi 5 yang dibentaki dan distempel pantatnya itu, saya memberontak dan menangis. Selain itu saya juga bukan siswa penting semacam pejabat OSIS, MPK, ataupun APK. Bahkan ikut SS pun tidak. Saya benar-benar cecunguk Smala yang kerjanya cuma sekolah-main-pulang. Tapi kegaduhan generasi yang tak berujung ini memaksa saya membuat riset kecil-kecilan.

 

Pertama kali wacana pembubaran generasi itu sejak kita(Smala 2008) kelas 2 SMA. Komposisi siswa di kelas yang harusnya sama sejak kelas X  hingga XII, dirombak total sehingga komposisinya berubah saat kelas XI. Ada dua alasan, karena penambahan kelas RSBI dan keinginan menyatukan Smala secara keseluruhan tanpa generasi. Langkah ini jelas ditentang siswa, bahkan sempat ada aksi boikot seangkatan yang akhirnya bisa diredam setelah satu minggu kegiatan belajar berjalan.

 

Setelah melaluinya, kita harus mengakui bahwa menyatukan Smala yang digadang pihak sekolah berhasil. Kita rasakan hampir tidak pernah terjadi gesekan antar kelas paralel, bahkan sangat membaur karena teman yang dulu sekelas X menyebar rata ke tiap kelas paralel. Hal ini bahkan berlanjut terus menerus sampai saat ini, saat menjadi alumni.

 

Mungkin, gara-gara misi Satu Smala inilah yang menjadikan angkatan 2008 sangat fenomenal. Kita pasti ingat, 7 dari 10 besar Unas di Jatim disambar oleh Smala. Jumlah lulusan yang masuk PTN pun mempunyai presentasi yang paling tinggi. Bahkan jumlah lulusan yang masuk ITB, UI, dan UGM naik 2 kali lipat! Prestasi yang masih belum bisa dikalahkan oleh adik angkatan kita berikutnya, bahkan sampai sekarang.

 

Saya sempat merenung dan mencoba open mind. Sekolah lain yang favorit tingkat provinsi dengan prestasi sangat gemilang seperti SMA 8 Jakarta, MAN Insan Cendekia, SMA 1 Jogja, SMA 3 Jogja, SMA 3 Badung, SMA 5 Badung, SMA Taruna Nusantara, SMA 3 Semarang, dan deretan SMA unggulan lain yang prestasinya mengagumkan tidak menerapkan sistem generasi. Mereka menjadi bukti bahwa sistem generasi bukanlah ‘hukum alam’ sekolah favorit yang dunia akan kiamat jika dilanggar.

 

Dari segi keagamaan, kewarganegaraan, norma, sampai ke undang-undang juga tidak memutlakkan sistem generasi wajib ada. Sistem generasi ini semacam tradisi dari alumni dan kakak kelas yang diwariskan turun-temurun. Lantas timbul pertanyaan, apakah tradisi ini benar-benar perlu dan harus ada? Bolehkah mensubtitusi dengan tradisi yang lebih baik?

 

STPDN punya tradisi yang spektakuler. Mahasiswa itu mengatakan bahwa tradisi mereka membentuk karakter yang kuat agar bisa bertahan kerasnya hidup bermasyarakat. Sungguh mulia sekali tradisinya. Metode yang mereka pakai adalah memanggil maba tengah malam untuk dipukuli dan ditendangi. Faktanya, rakyat Indonesia mengecam keras metode mereka. Hingga akhirnya metode tersebut dilarang dan nama lembaganya diubah menjadi IPDN untuk menunjukkan citra sekolah baru. Tapi, tradisi itu masih berlanjut! Hingga 2 tahun kemudian terkuak kembali dan masyarakat marah. Alhasil, Presiden RI yang dari kalangan militer itu memotong satu angkatan untuk menghentikan tradisi premanisme di IPDN.

 

SD Gadel 2 Surabaya juga punya tradisi yang tak kalah spektakuler, tradisi ‘gotong royong’. Siswa sekolah tersebut membuat simulasi contek massal, dimana anak yang pintar memberi jawaban ke teman-temannya. Ibu Siami tidak terima dan mengadukan kejadian yang menimpa anaknya. Namun, sang ibu malah dihujat di kantor kelurahan dan diusir oleh tetangganya. Warga Gadel menganggap Ibu Siami tidak punya nurani membantu kelulusan SD Gadel 2. Setelah masuk media massa, keadaan berbalik. Rakyat Indonesia menganggap warga Gadel lah yang sakit jiwa. Mereka dianggap gila karena malah menghukum orang yang berusaha jujur.

 

Kalau dipikir-pikir, kita juga tak kalah gila mempertahankan tradisi nyontek massal saat Unas. Sungguh tradisi ini jauh dari jargon smalane: suci dalam pikiran, benar jika berkata, tepat dalam tindakan, dan dapat dipercaya. Cukup korup jika menobatkan Smalane adalah calon pemimpin bangsa.

 

Apakah tradisi perlu diubah? Jawabannya IYA untuk tradisi buruk yang dianggap baik, seperti contoh diatas. Tapi untuk tradisi yang abu-abu, tidak buruk tapi juga tidak dibilang baik, seperti sistem generasi di Smala, jawabannya relatif. Relatif terhadap situasi yang ada.

 

Sistem generasi bisa dibilang positif karena dapat mendekatkan antar angkatan. Sebuah fasilitas jalinan tali silahturami yang sangat baik. Tapi ini juga bisa dibilang buruk karena membentuk feodalisme. Konflik antar individu yang beda generasi bisa menjadi gesekan antar generasi. Tradisi ini juga menghasilkan produk sampingan seperti adu gengsi lomba cheerliar, stempel pantat di generasi 5, temu gen, rujakan, dkk. Msih ada sisi baik dan sisi buruk lain dari tradisi ini yang akan sangat panjang jika dijabarkan semuanya.

 

Jika efek buruk mendominasi tradisi ini, mungkin sudah waktunya kita menghapus tradisi ini. Atau, kita bisa mensubtitusinya dengan sebuah tradisi baru yang esensinya sama dan mungkin lebih baik dari tradisi lama.

 

Ada banyak sekali ide brilian yang pernah saya dengar untuk mensubtitusi sistem generasi di Smala. Salah satu idenya adalah sistem saling silang antar angkatan. Misalkan kompetisi di PHPRI, dimana biasanya kelas X-3 harus berkerja sama dengan XI-3 dan XII-3. Pada sistem saling silang, kelas X-3 bisa berkolaborasi acak dengan kakak kelas XI-5 dan XII-6. Dengan sistem ini, kelas X-3 bisa membuat 2 jaringan dalam satu kompetisi. Jika satu tahun ada 3 kompetisi, sudah bisa membentuk 6 jaringan antar kelas. Maka dalam 3 tahun bersekolah di Smala, satu kelas bisa mendapatkan 18 jaringan antar kelas! Bandingkan dengan sistem generasi saat ini yang hanya bisa membuat 4 jaringan, 2 kelas keatas dengan 2 kelas kebawah.

 

Sebenarnya masih ada ide lain yang tak kalah brilian. Tapi mengubah tradisi ini memang butuh usaha yang luar biasa. Yang diperlukan hanya dua, kemauan dan keberanian. Kemauan Smalane untuk menerima ide baru dan keberanian Smalane untuk menerapkannya.

 

Tradisi sistem generasi bukan main core dari sekolah unggulan. Sekolah unggulan dari provinsi lain tidak menerapkan tradisi itu untuk berprestasi dan menghasilkan lulusan berkualitas. Kita perlu open mind menyikapi tradisi yang sangat mengakar ini. Tapi saya belum mendengar kemauan Smalane sekarang untuk sekedar mau menerima ide baru yang revolusioner, apalagi berani menerapkannya.

 

Jadi, kapan isu tahunan pembubaran generasi ini akan berakhir? Wallahualam…


One response to “GADUHNYA SISTEM GENERASI SMALANE

  1. fitrah says:

    Open Invitation Rakernas – Munas – Reuni Ikasmanca
    untuk seluruh angkatan alumni SMAN 5 Surabaya
    undangan ini berlaku untuk seluruh angkatan
    tanggal 2 oktober 2015 sore di SMAN 5 Surabaya
    tanggal 3 oktober 2015 pagi di DBL Arena Surabaya
    CP : 08883537700 – 03133007119


    bantu sebarkan bagikan video ini ya teman2 semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: