DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

SEBUAH CATATAN: AKHIRNYA TERBELI SAMBIL MENANGIS

on December 19, 2012

Untuk kesekian kalinya orang tua menyebut saya sebagai anak cengeng. Mulai cengeng secara moral, secara mental, secara perasaan, sampai cengeng secara fisik. Dulu saya tidak terima denganjudgement seperti itu. Tapi akhirnya untuk kesekian kali juga saya menerima predikat cengeng itu , setelah tadi benar-benar menitikkan air mata. Cairan di mata ini akhirnya tumpah juga setelah memutuskan membeli kamera saku.

 

Membeli barang sambil menangis ini sebenarnya bukan yang pertama kali, sudah berkali-kali. Saya tidak ingat kapan pertama kali kebiasaan “beli barang sambil menangis” ini berawal. Ini kebiasaan yang buruk. Mungkin jika dilihat dari sisi psikologi, saya mengalami kelainan jiwa, mempunyai kebiasaan yang tidak umum dimiliki orang. Tapi ya inilah saya, saya sendiri juga kurang paham penyakit ini. Jadinya ya sudahlah, dibiarkan saja. Toh untungnya tidak mengganggu orang lain.

 

Dari sekian kejadian yang terlupakan itu, ada beberapa kenangan yang masih memoriam di otak.

 

Waktu saya kecil, saya sempat merengek minta nonton di bioskop. Syukurnya dikabulkan. Kami sekeluarga benar-benar berangkat ke salah satu mall di Surabaya yang ada Studio 21nya. Sampai disana, tiba-tiba saya menjadi tergoda-bernafsu-berkeinginan-berhasrat untuk membeli pop corn dan softdrink. Saya minta uang ke orang tua dengan wajah memelas. Jawaban orang tua ternyata sangat tegas, TIDAK.

 

Kala itu saya sangat sedih. Sembari menunggu filmnya ditayangkan, mata ini takteralihkan dari stand penjual popcorn dan softdrink. Melihatnya sambil bermimpi menikmati makanan ringan nan gurih itu. Setengah jam lamanya air liur ini bergejolak. Tepat ketika sekeluarga beranjak masuk studio, saya membuat keputusan gila kala itu. Memuntahkan semua uang di saku, yang sekaligus uang tabungan itu, untuk membeli 2 benda yang saya idam-idamkan. Saya ingat betul harga popcorn dan soft drink kala itu, karena untuk ukuran anak sekecil itu harga snack menguras tabungan sangat dalam sekali. Saya paham dan rasakan betul sensasinya. Hingga akhirnya saya menukarkan sekumpulan uang receh di saku sambil menangis. Entah apa yang ada dibenak tangisan saya itu, yang jelas perasaannya sangat campur aduk.

 

Ada lagi yang masih memoriam. Saat membeli HP Sony yang bisa buka tutup itu.

 

Jaman kelas 1 SMA, saya termasuk orang katrok gara-gara tidak punya HP. Yang saya ingat ada 5 orang yang tidak punya HP di sekolah, saya termasuk 5 orang itu. Betapa terasingnya saya karena tidak mempunyai alat komunikasi itu, akhirnya saya merengek minta belikan HP. Orang tua saya sendiri masih awam dengan HP, tentu permintaan itu ditolak. Tak putus asa, rengekan itu berlanjut mulai awal masuk kelas 1 sampai, entah kapan, orang tua mau membelikan HP untuk saya. Syukur, meskipun menunggu 1 tahun lebih, ibu membelikan HP baru saat awal masuk kelas 2.

 

Dalam perjalanannya, saya apes. HP yang saya simpan dalam tas sekolah basah kuyup karena bocornya botol air minum yang sialnya dalam satu tas. HP rusak parah. Saya panik. Ibu dan bapak pun cuek tak mau ikut terlibat. Saya datang ke berbagai service HP se Surabaya, tidak ada yang sanggup memperbaikinya. Tidak ada jalan lain lagi selain membeli baru. Tapi, orang tua menjawab dengan tegas, TIDAK.

 

Saya sedih. Hidup ini sudah sangat menggantungkan kepiawaian teknologi komunikasi itu. Akhirnya, saya membuat keputusan mencengangkan kala itu, merogoh dalam-dalam uang tabungan yang telah lama dikumpulkan bertahun-tahun untuk membeli HP. Ibarat kedalaman sumur, tabungan ini sudah sampai di “genangan airnya”. Saat itu memang belum ada HP murahan dari China yang ordenya ratusan ribu, semuanya diatas satu juta. Saya sudah terlanjur bertekad membeli HP baru, yang tekadnya itu berujung beli HP baru sambil menangis. Menangis karena mahalnya pengorbanan uang itu, pengorbanan menabung bertahun-tahun.

 

Sekarang, yang kuliahnya udah hampir berakhir ini masih mengalami lagi.

 

Saya senang mengabadikan sesuatu, baik tulisan maupun gambar. Mengabadikan lewat tulisan terpenuhi berkat laptop warisan dari sang bapak. Tapi hasrat pada gambar belum ada medianya. Meskipun di HP ada kamera, tapi kualitasnya terlalu apa adanya. Hingga akhirnya saya berkeinginan kuat untuk mebeli kamera. Tidak perlu kamera DSLR yang berat-besar-mahal dan susah dibawa itu. Hanya perlu kamera saku. Saya memohon ke orang tua lagi, jawabanya masih sama, TIDAK.

 

Saya menerimanya dengan memelas. Saya memilih “mengerem” pengeluaran bulanan agar bisa mengumpulkan uang untuk membeli kamera saku. Rupanya, saya terlalu bernafsu segera mendapatkan benda idaman itu, hingga secara tak sengaja terlalu keras menekan “pedal rem” pengeluaran bulanan. Gara-gara terlalu berhemat, saya kolaps. Badan ini sakit-sakitan diwaktu yang benar-benar sangat tidak tepat, pertama di musim UTS dan kedua di musim UAS. Gara-gara sakit ini pula, pengeluaran malah bocor berlebih untuk membeli obat yang mahalnya tiada tara.

 

Hari ini, jumlah uang saya targetkan kesampaian juga. Rencana menabung selama 3 bulan meleset menjadi 4 bulan. Pengorbanannya pun tidak cuma menu makanan prihatin, tapi juga terjangkit penyakit, sekaligus bonus nilai UAS dan UTS yang berhamburan. Tak berpikir panjang, saya langsung buat deal-dealan harga dengan penjual kamera saku. Setelah deal, penyakit lama itu kambuh lagi, saya membeli kamera sambil meneteskan air mata. Ah, saya tidak menyangka sampai sebesar ini pengorbanannya.

 

Ternyata benar kata ibu. Saya ini cengeng, bahkan sangat cengeng sekali. Pengorbanan segitu saja ditangisi. Membayangkan tegarnya orang-orang yang dipinggir jalan kedinginan mengais rejeki, membayangkan tegarnya orang-orang cacat yang harapan hidupnya hampir tidak ada, membayangkan tegarnya orang-orang yang iri melihat hidup mahasiswa bahagia, membayangkan tegarnya orang-orang menjajakan dagangan di terminal dan dalam bus, banyak sekali bayangan di pikiran saya.

 

Kesimpulannya tak berubah, dibandingkan orang-orang yan ada dibayangan itu tadi, saya masih jauh lebih lemah. Ini harus berubah, saya tak boleh secengeng ini lagi. Saya berikrar, kamera saku baru ini harus menjadi saksi dari akhirnya sifat cengeng ini. Merdeka!

 

 

SUSELO SULUHITO

Graduation Hope!(8) 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: