DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

ASA M08 DARI TUGU PAHLAWAN

on April 21, 2013

Dulu, saat berangkat sekolah melewati Tugu Pahlawan Surabaya, saya selalu memikirkan pikiran orang-orang yang menggagas bangunan itu.

 

Kenapa mereka membangun Tugu Pahlawan? Padahal, zaman itu juga, seluruh rakyat Indonesia sudah tau bahwa telah terjadi pertempuran hebat melawan penjajah di Surabaya. Toh, cerita pertempuran itu akan selalu dikenang dalam buku sejarah tiap anak sekolah.

 

Ternyata pertanyaan itu baru terjawab sekarang. Di era orang sangat sibuk dengan dirinya sendiri, Tugu Pahlawan selalu mengingatkan perjuangan para pendahulunya. Fungsi “pengingat” itu tentu tidak didapat dari buku sejarah sekolahan. Apalagi dari cerita kakek neneknya.

 

Ini juga semacam “pemberitahuan” kepada orang yang melewati Surabaya. Mereka pasti bertanya, kenapa Surabaya diberi gelar Kota Pahlawan dan ada monumennya? Pasti dengan bangga orang Surabaya menjawab: Karena gelar pahlawan tidak disematkan pada satu orang, tapi kepada semua bonekbonekyang membunuh 2 jenderal Inggris dan mengusir Allied dari Surabaya.

 

Fungsi “pengingat” dan “pemberitahuan” inilah menjadi inspirasi digagasnya kenangan M08 dihadirkan secara fisik menjadi sebuah buku.

 

Buku ini “pengingat” semua tentang M08, mulai dari susahnya kuliah mesin, praktikum seabrek, nasehat dan quote dosen, kaderisasi yang bar-bar, tragedi mobil baksos wafi, laskar mesin yang ngulang matkul, gosip cinta segi-6 (yang 6orangnya itu M08 semua), hearing yang asyik sekaligus menjengkelkan, alien yang menyamar jadi dosen metro, TA penuh PHP, HMM tempat belajar menjelang ujian, UTS malem-malem, dan semuanya yang berkaitandengan kebersamaan M08.

 

Buku ini juga jadi “pemberitahuan”orang sekitar M08. Orang tua pasti kaget kegiatan kita pas liat buku M08. Teman-teman sekitar kita juga akan kagum dengan segala aktivitas bar-bar semasa kuliah. Bahkan bisa jadi katalog pria idaman klo ada temen cewek yang kebetulan baca. Atau mungkin buku dongeng bergambar untuk anak-anak kita kelak.

 

———————————-

 

Saat buku kenangan M08 digagas tahun lalu, banyak sekali yang menanggapi positif. Saat itu saya kebetulan sedang berada dirumahnya Wafi. Dan kebetulan juga dimintai tolong untuk mengurusnya. Melihat dukungan di grup angkatan yang cukup besar, saya iyakan.

 

Sialnya, beberapa saat setelah amanah itu diberikan, saya tertimpa musibah. Saya kehilangan uang 1,6 juta. Kehilangan gara-gara gagal mengendalikan keuangan acara Ikamanggaluh yang saya pimpin. Hilangnya 1,6 juta tentu menjadi pukulan keras buat saya, yang akhirnya semangat mengerjakan buku kenangan itu hilang.

 

Untungnya, ada Yudo, Luna, Randi, Mamad, dan Monik berinisiatif menjalankannya. Proyek angkatan ini selamat! Tapi juga mati lagi karena kesibukan masing-masing.

 

Awal tahun ini, saya menyempatkan jalan-jalan ke Surabaya. Begitu melihat Tugu Pahlawan, saya ingat kembali buku angkatan M08. Melihat fungsi “pengingat” dan “pemberitahuan” bangunan bersejarah itu, timbul keinginan menebus dosa proyek yang telah jadi wacana manis.

 

Saya berdiskusi lagi dengan ketua angkatan, Wafi. Inti pembicaraan hanya 2, buku ini harus jadi danharus selesai secepatnya. Setelah itu saya diskusikan juga dengan wakil ketua angkatan, Mamad. Inti diskusinya juga cuma 2, tapi beda. Mamad berpesan buku ini harus sebagus mungkin danharus semengenang mungkin.

 

Di awal keberjalanannya, saya mengajak panitia lama yang telah “berpengalaman” untuk melanjutkan proyek angkatan ini. Tapi ternyata justru “pengalaman” inilah yang membuat mereka kehilangan asa.

 

Dari situ saya memutuskan untuk membuat kepanitiaan baru.Yang isinya orang-orang polos. Yang isinya orang-orang mau bekerja. Yang isinya orang-orang berdedikasi untuk angkatan. Dan tentu, yang isinya orang-orang yang masih eksis dikampus.

 

Agar pekerjaan ini tidak dimulai dari nol lagi, kepanitianyang baru ini estafet dari hasil kerja kepanitian lama. Panitia lama ternyata memberikan kejutan dengan mengatakan bahwa proyek ini belum jalan.  Jika diibaratkan lomba lari estafet, panitia yang baru ini mengambil tongkat estafet dari garis start.

 

Saat panitia baru terbentuk, jumlahnya hanya 2. Saya dan Opik. Saya akalin datang ke Lab Pendingin yang kebetulan saat itu sedang ramai M08. Saya lempar gagasan ini ke semua yang ada di Ruang Asisten. Responnya luar biasa, Nizar, Vicky, dan Fuadi menawarkan diri membantu. Sisanya mendukung. Sama sekali tidak ada yang pesimis.

 

Memang yang saya takutkan pertama kali adalah respon pesimis, yang untungnya tidak ada. Sebagai info saja, hampir semua jurusan ITB angkatan 2008 ini punya keinginan bikin buku angkatan. Nasibnya sama , jadi wacanasemuanya. Kecuali satu, Teknik Industri.

 

Beruntung punya teman di TI, yang tidak hanya manis, tapi juga baik hati. Namanya Pipit. Dia rela meminjamkan buku kenangan angkatannya sebagai referensi proyek ini. Dia hanya meminta satu syarat, bukunya tidak boleh dipakai buat kepo anak-anak TI. Saya menyanggupinya. Tapi saya lupa menceritakan permintaan ini ke panitia buku angkatan. Tak apalah, sampai sekarang tidak pernah dipakai untuk hal yang aneh-aneh.

 

Dalam keberjalanannya, jumlah panitia bertambah. Berhasil mencomot satu panita lama untuk bergabung kembali, Monik. Dan juga relawan dari Torbak, Dwiky. Dengan konsep yang telah dibahas sebelumnya, proyek ini berhasil jalan kedepan. Dan mulai menunjukkan hasilnya.

 

Pada kenyataanya, panitia ini terus bertambah dan bertambah. Konsep biodata yang diurus Dwiky, dibantu Esta dan Mamad. Sebuah konsep yang kontennya banyak yang harus disensor, tapi justru yang disensor ini yang akan ditampilkan agar “mengenang”. Pengumpulan foto-foto angkatan juga dibantu oleh fotografer angkatan, mulai dari Toto, Randi, Ferlin, Arif, Valdo, sampai Aan. Dan totalnya mencapai 50 GB! Bahkan mungkin lebih jika ditambah foto dari Alfin. Kedepan, konsep pembuatan timeline angkatan yang dikerjakan oleh Vicky, akan dibantu panitia baru lagi. Ada Fajar, Toto, dan Luna, panitia lama yang bersemangat lagi. Hadirnya Luna dan ide kerennya tentu akan menambah ciamik konsep buku angkatan ini.

 

Masalah mulai muncul dari biaya. Semua orang sepakat bahwa buku kenangan TI08 ini bagus. Dan Semua orang juga ingin sebagus buku itu. Tapi harga buku angkatan TI08 ini 150rb. Itupun dengan tambahan subsidi angkatan,desainer sendiri, dan dicetak dalam jumlah yang sangat banyak. Sedangkan M08, jika ingin sama bagusnya, harganya tentu lebih mahal. Selain tidak punya kas angkatan yang menyubsidi harga, panitia meng-hire desainer dari luar, dan dicetak dalam jumlah yang lebih sedikit dari TI08. Harganya sekitar 180rbu. Ditambah biaya tak terduga dan safety faktor untuk orang yang tidak ikhlas membayar, diputuskan harganya 200rbu.

 

Mahalkah 200ribu? Tergantung sudut pandang melihatnya. Jika dilihat dari sisi mahasiswa dan dibayar saat ini, tentu sangat mahal. Tapi jika dilihat dari esensi buku yang cuma satu sepanjang hidup, dan kenangan-kenangan didalamnya, 200ribu ini menjadi sangat murah.

 

Saya sempat survei sampel pendapat tentang harga 200ribu ini. Dari 15 M08 yang beruntung, 3 orang menjawab OKE, 11 orang menjawab “tergantung isinya”, dan 1 orang menolak karena terlalu mahal.

 

Saya tertarik dengan 11 orang yang menjawab “tergantung isinya”. Di dalam benaknya, mungkin mereka mengira bukunya sim-salabim jadi, panita menjualnya, dan mereka menentukan apakah mau beli atau tidak. Padahal, ini bukan jual beli yang bisa tawar menawar seperti pedagang. Ini buku angkatan yang akan diberikan ke setiap M08.

 

Yang menarik adalah beberapa komentar yang mengatakan “klo bisa” dimurahin. Saya senang dengan cara berpikir “klo bisa”. Panitia pun berpikiran hal yang sama, bahkan lebih lebih hebat!

 

“klo bisa” panitia nyetak buku kenangan yang biayanya gratis! “klo bisa” panitia dapet desainer dari luar yang ikhlas ga dibayar! “klo bisa”panitia ga perlu repot-repot mikirin konsep buku angkatan dan nyari konten didalamnya! “klo bisa” panitia ga perlu kehilangan waktu TA yang tersita gara-gara buku angkatan! Bahkan, “klo bisa” panitia yang ga dibayar serupiahpun ini tiba-tiba punya 130 buku angkatan yang sudah jadi dan gratis!

 

Masalah keuangan ini tentu sangat pelik sekali, yang pinter nyari duit pun juga pasti bingung karena sumber keuangan dan sumber pengeluarannya sama. Sama-sama dari M08 dan sama-sama untuk M08. Nilainya pun juga sangat besar, 26 juta! Beda dengan kegiatan kepanitian lain seperti Mecha atau MFest, sumber keuangan dari sponsor dan sumber pengeluaran dari kegiatan panitia untuk masyarakat sekitar.

 

Saya percaya tiap masalah ada jalan keluarnya. Bukan masalah namanya kalau tidak punya jalan keluar. Ada waktunya M08 semakin sadar kepentingan buku ini dan semakin banyak yang menerima harga ini. Mungkin tidak sekarang, karena banyak yang tidak melihat kerja panitia dan melihat contoh buku angkatan TI08 yang harganya 150ribu itu. Tapi harus dikomunikasikan secepat mungkin agar M08 mengerti dan menerimanya.

 

Jumlah panitia yang semakin banyak, pertanda harapan hadirnya buku angkatan M08 semakin membesar. Asa yang besar ini harus terus dijaga dan jangan sampai putus, karena putus asa lebih berbahaya dibandingkan putus cinta. Tak apalah cinta di Farmasi kandas, yang penting asa dan kehadiran buku angkatan M08 ini nyata.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: