DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

BOLA API YANG CAIRKAN KEBEKUAN PILPRES

on July 10, 2014

Sebagian orang mengatakan Pilpres 2014 adalah pilpres paling seru, sisanya mengatakan ini pilpres paling mengerikan. Baik “sebagian” maupun “sisanya”, hanyalah masalah sudut pandang.

 

“Sebagian” yang mengatakan seru mungkin karena anak-anak muda yang notabene apolitis tiba-tiba melek politik. Yang frustasi dengan para politisi korup dan jahat, di pilpres ini menjadi ahli politik, sekaligus ahli fitnah. Ini anomali karena dari kajian-kajian sebelumnya didapati anak muda sekarang krisis pengetahuan politik. Dengan pilpres sekarang, kajian itu sudah terbantahkan.

 

“Sisanya” yang mengatakan mengerikan mungkin karena kampanyenya sekarang sangat hitam dan sangat negatif. Kampanye hitam yang dulu dianonimkan agar tidak diketahui penyebarnya, sekarang malah terang-terangan. Penyebar tabloid Obor Rakyat yang fenomenal itu sudah ketauan sebelum dicari, pelakunya mengaku lebih dulu dan membeberkan motifnya, tanpa rasa malu, didepan publik!

 

Saya termasuk “sisanya”, yang mengatakan mengerikan.

 

Di FB sudah tak terhitung postingan yang isi komentarnya orang-orang berdebat, bertengkar, dan ejek-ejekan. Dan saya tidak tahu berapa tali silahturami yang retak, berapa orang yang memendam sakit hati, dan berapa orang yang saling bermusuhan.

 

Saya tidak mengalami semua itu di pilpres kali ini. Bukan karena saya matang berdemokrasi, tapi karena saya pernah mengalami: keretakan silahturami, memendam sakit hati, dan bermusuhan dengan teman yang politiknya berseberangan. Saya rasakan banyak ruginya. Mulai hubungan yang jadi kaku sampai energi yang terkuras untuk memendam sakit hati. Tapi saya mengambil pelajarannya sehingga sekarang selamat perang urat syaraf.

 

Sebenernya saya punya janji terhadap diri sendiri. Saya akan memperbanyak banyak postingan berita positif di medsos untuk menyeimbangi berita negatif yang sering bermunculan di timeline. Seperti: banyaknya berita korupsi di pemerintahan, saya seimbangkan dengan postingan prestasi dan kemajuan yang dicapai. Setidaknya agar anak muda sekarang tidak frustasi dengan masa depan bangsa ini. Kalau ada propaganda yang saling bertentangan, saya buat postingan yang lucu untuk mencairkan suasana. Seperti: pro kontra penolakan kedatangan pak Jokowi ke ITB. Saya buat iklan lelucon pure it ala Jokowi agar suasananya mencair.

 

Di masa pilpres sekarang pun saya melakukan hal yang sama, tapi gagal. Realitasnya dengan idealisme berbeda.

 

Masa pilpres ini mirip ketika teman saya, Nyoman Anjani, mencalonkan diri maju sebagai Presiden KM ITB. Saya yang sedang sibuk fokus tugas akhir, karena banyaknya kampanye hitam dan fitnah yang ditujukan kepadanya, akhirnya harus turun gunung sekuat tenaga membela Nyoman. Bahkan sempat disebut Pemilihan Raya KM ITB paling kotor karena antar calon saling mendiskualifikasi, hingga akhirnya dilaksanakan pemira ulang. Masifnya fitnah dan kampanye negatif pemira kala itu mirip dengan pilpres sekarang, tingkat ke-seru-annya juga sama.

 

Saya sebenernya sedang banyak beban pikiran dan ingin menyendiri. Semua media sosial saya deaktifkan, keluar dari semua grup Line dan Whatsapp, agar bisa fokus menyelesaikan masalah dulu. Tapi itu hanya bertahan 4 hari. Semua media sosial diaktifkan kembali. Gara-gara melihat hasil survei Prabowo yang tiba-tiba mendekati Jokowi.

 

Saya sebenernya sudah tau di media sosial bertebaran artikel-artikel kampanye negatif dan fitnah. Tapi saya yakin orang tidak akan terpengaruh dan sudah kritis terhadap hal-hal yang seperti ini, jadi saya biarkan.

 

Tapi saya salah!

 

Saya lupa kalau sekarang banyak anak muda yang apolitis jadi ahli politik. Sebuah spesies politisi muda instan yang tidak kritis dan mudah termakan fitnah. Saya juga lupa kalau fitnah yang didengar terus-menerus akan terasa seperti fakta, sama seperti kebohongan terus-menerus yang terasa seperti kebenaran.

 

Sentimen agama di pilpres sekarang juga jauh lebih masif. Saat pemira juga ada sentimen agama, tapi tidak terlalu berpengaruh karena para pemilihnya banyak yang pintar dan independen. Di pilpres beda, para pemilihnya bukan kaum yang setiap hari dijejali pemikirin kritis dan merdeka seperti  di kampus. Sentimen agama ini paling rawan(sekaligus paling ampuh) untuk dipolitisasi karena setiap pemeluk agama dijanjikan surga untuk pembelanya. Ditengah himpitan berbagai masalah, apalagi masalah ekonomi, kata “surga” menjadi sangat WAH seperti melihat air minum ditengah panasnya padang pasir, sehingga akal sehat selalu dikalahkan oleh janji manis surga.

 

Alhasil, survei elektabilitas Prabowo sudah sangat dekat dengan Jokowi dalam waktu singkat!

 

Hasil survei inilah yang membuat saya harus turun gunung lagi membantu relawan Jokowi. Yang menggembirakan, saya tidak merasakan ini sendiri. Banyak tokoh-tokoh yang biasanya netral menyatakan dukungan terhadap Jokowi, juga artis-artis ternama, bahkan sampai musisi luar negeri. Pers Jakarta Post pun yang biasanya netral juga sekarang terang-terangan mendukung Jokowi. Begitu juga media pers yang lain.

 

Turun gunungnya para relawan besar ini membuahkan hasil, elektabilitas Jokowi rebound alias kembali menguat. Dan sekarang Jokowi-JK menjadi pemenang sementara quick count pilpres.

 

Tapi, ada hal lain yang mengerikan.

 

Baik pendukung Prabowo maupun relawan Jokowi sekarang menjadi kaku. Masih terlihat saling memendam sakit hati, saling berprasangka buruk, dan saling bermusuhan. Tentu kebekuan ini harus segera dicairkan. Kita ingin seperti Amerika, ketika Barrack Obama menang tipis atas pertarungan sengit dengan McCain, pemilu selesai dan damai. Dan kita tidak ingin demokrasi Indonesia seperti demokrasi Mesir yang ricuh dan menjadi semi otoriter, apalagi Thailand yang demokrasinya buntu.

 

Bagaimana caranya? Entahlah. Saya juga tidak tahu, ini kejadian pertama di negeri ini dan belum ada contoh negara lain dengan kasus yang sama, kecuali Amerika, itupun berhasil karena demokrasi disana sudah sangat matang.

 

Mungkin World Cup bisa mencairkan ketegangan ini. Pagi ini, sebelum pilpres berlangsung, suasana negeri ini menjadi hangat dan menyenangkan, walaupun hanya sesaat. Mungkin panasnya atmosfer pertandingan bola di Brazil bisa mencairkan kebekuan pilpres disini. Semoga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: