DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

MATI KARENA SINGKONG!

on July 10, 2014

Semalam saya terbaring tak berdaya di kamar kosan. Semacam meriang, plus panas, plus pusing, plus mencret, plus lemas. Entah namanya sakit apa. Bahkan sampai siang ini saya membuat tulisan, masih belum sembuh. Sakitnya memang tidak parah, tapi beban psikologis saya sendiri yang membuatnya parah. Ini gara-gara cerita menyeramkan di kampus.

 

Tahun lalu ada mahasiswa yang tiba-tiba mati di kamar kosannya. Disebut “tiba-tiba” karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda sakit, overdosis, atau bahkan bunuh diri. Apalagi kejadian tersebut tidak hanya sekali, tapi ada mahasiswa yang lain juga mengalami hal yang sama. Dugaan penyebabnya pun hampir sama, kelelahan. Cuma beda alasan: ada yang kelelahan diospek, ada yang kebanyakan beban tugas, dan ada juga yang kelelahan ber-“aktivis kampus”. Kisah kematian akibat kelelahan ini ada yang sampai masuk media massa, yaitu Mita Diran. Seorang gadis yang bekerja di biro periklanan yang mati kelelahan karena kerja lembur 30 jam non-stop.

 

Jika ditelisik kebelakang, kelelahan mereka mirip yang saya alami sekarang. Tiga hari kebelakang saya terlalu sibuk, mulai dari survei pipa kondesat di PLTP Pengalengan, cuci baju kotor yang bejibun, beberes kosan, ngajar Fluent, sampai ngonsep buku angkatan sehari semalam di rumah Luna. Ditambah lagi kemarin ditekan mengejar deadline analisis pipa, alhasil malam harinya saya sekarat di kosan.

 

Sakit itu memang mahal. Tidak hanya biaya obat dan perawatannya, tapi juga biaya pengorbanannya, salah satunya kursus Goethe. Secara ekonomi, biaya kursus sekali pertemuan yang 3 jam itu sekitar 120ribu. Karena tidak hadir 2 pertemuan, 240ribu hilang. Ditambah biaya cuti dadakan, plus biaya obatnya. Mungkin totalnya bisa setengah juta. Ah, betapa mahalnya.

 

Bukankah biaya kesehatan sekarang digratiskan pemerintah lewat asuransi BPJS? Iya, memang benar sekarang seluruh rakyat Indonesia dapat asuransi kesehatan. Tapi dalam kasus saya, asuransi itu jadi sangat mahal.

 

Kok bisa jadi sangat mahal?

 

Karena kartu Askes alias BPJS milik saya dipegang oleh sang ibu. Kalau saya mau pakai kartu itu, mau tidak mau sang ibu harus tau alasan saya minta dikirim kartu Askes. Saya khawatir kejadian tahun lalu terulang. Saat itu saya mengabari ibu bahwa saya sedang demam tinggi. Tak disangka, karena insting keibuannya, beliau langsung terbang dari Surabaya ke Bandung untuk merawat anaknya. Kalau kejadian itu terulang lagi sekarang, jelaslah biaya pengorbanan tiket PP pesawat itu jadi lebih mahal dari biaya obat yang di-“gratis”-kan oleh BPJS.

 

Akhirnya saya sekarang hanya bisa pasrah sendirian di kamar dan berdoa semoga cepat sembuh, dan semoga biaya sakit ini tidak semakin mahal.

 

Tentu berdoa saja tidak cukup, saya juga harus berjuang mengalahkan penyakit ini. Saya tidak mau mati karena hal sepele seperti yang diceritakan teman-teman di kampus, yaitu kelelahan. Katanya, meninggal yang baik itu harus dengan prestise yang tinggi, seperti: ditabrak mobil Mercy, atau BMW. Jangan sampai kita meninggal hanya karena singkong.

 

Loh, kok bisa? kenapa singkong bisa bikin mati?

 

Karena kalau nabrak truk yang isinya penuh singkong, kita bisa mati tertimbun singkong.hehe :p .Itu sebenarnya cerita humor khas Suroboyo-an yang mungkin tidak pernah terjadi, tapi setidaknya bisa menghibur saya sekarang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: