DOLANAN CORAT-CORET

DOLANAN SAKTI SING ISO NYORAT-NYORET

MEMAHAMI DONALD TRUMP(1)

on October 16, 2016

Donald Trump menang konvensi Partai Republik, perlukah kita takut dan tetap membencinya?
Menurut psikologi, ketakutan dan kebencian timbul karena kurangnya pemahaman tentang suatu hal. Dalam hal ini, pemikiran Donald Trump yang kontroversial yang kita takutkan dan benci. Sekarang kita coba membaca jalan pikirannya untuk memahaminya.
Donald Trump adalah seorang pengusaha, berpikirnya selalu taktis dan mengikuti situasi. Tahun 2012, Jokowi menolak kenaikan harga BBM saat SBY menjadi presiden, tentu kepentingannya adalah merebut hati rakyat. Namun saat menjadi presiden, Jokowi melanggar ucapannya sendiri, menaikkan harga BBM dan mengalihkan sebagian besar subsidi itu untuk proyek infrastruktur.
Begitu juga dengan Donald Trump, di tengah ketakutan rakyat Amerika dengan teror ISIS, ungkapan melarang orang Islam masuk Amerika tentu akan merebut banyak sekali hati rakyat, sekaligus menimbulkan banyak haters. Namun, kemenangan Walikota London, Sadiq Khan, yang beragama Islam ternyata membuat Donald berubah dan berpikir melakukan beberapa pengecualian terhadap larangan muslim masuk USA. Bukti bahwa keputusannya sangat situasional, sekaligus bukti bahwa pemikirannya hanyalah taktis dari sebab akibat, bukan komprehensif.
Jadi, selama Amerika masih bergantung impor minyak bumi dari timur tengah yang semuanya adalah negara muslim, kita tak perlu takut atas pemikiran kerasnya terhadap umat Islam. Donald Trump mungkin dengan mudah mengganti keputusannya ketika negaranya menghadapi ancaman kesulitan minyak bumi.
Dari sini kita memahami bahwa mewacanakan larangan muslim masuk USA mungkin menjadi strategi terbaik untuk memenangkan konvensi Partai Republik, mengingat rakyat Amerika sekarang dilanda ketakutan dari teror ISIS. Sekaligus wacana tersebut merupakan strategi terburuk jika diterapkan saat menjadi Presiden Amerika, yang mana negaranya masih mengimpor minyak dari timur tengah.
Cerita ini mirip pilpres 8 tahun lalu, saat Barrack Obama mewacanakan menaikkan pajak untuk orang kaya, karena selama ini pajak mereka lebih sedikit dari kebanyakan orang. Ide tersebut berhasil merebut hati rakyat Amerika mengingat saat itu negaranya mengalami krisis ekonomi tahun 2008.
Yang terjadi saat Barrack Obama benar-benar menjadi presiden, kenaikan pajak untuk orang kaya benar adanya. Tapi naik sedikit demi sedikit selama menjabat. Dan presentasenya sampai sekarang masih lebih kecil daripada mayoritas rakyat Amerika. Kenapa? Karena pemerintah menghadapi dilema kebutuhan kontribusi penyediaan lapangan kerja baru dari investasi usaha orang kaya tersebut, dengan dilema janji menaikkan pajak orang kaya saat kampanye.
Dilema masalah ekonomi inilah yang membuat visi ekonomi Donald Trump untuk Amerika begitu kuat. Seperti apa visinya? nanti akan diulas pada tulisan berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: