Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • suluh 11:51 on May 31, 2012 Permalink | Reply
    Tags: energi, graduation hope, pertamax, pidato hemat energi, pindad   

    MOTOR PERTAMAX PLUS DAN PIDATO HEMAT ENERGI 


     

    Setelah pulang dari kosan Mira, saya meminjam sepeda motor Alfin untuk pergi ke Pindad esok paginya. Pinjam-meminjam sepeda motor itu ada etika tak tertulis, salah satunya mengganti bensin klo dipakai jarak jauh. Ini tidak sulit, sudah sering saya lakukan. Tapi ada yang tidak biasa dari sepeda motornya, yaitu harus diisi pertamax plus!

    Alfin ini termasuk mahasiswa idealis. Dengan kondisi pas-pasan seperti saya, dia keukeuh tidak mau menggunakan subsidi BBM di sepeda motornya. Saya ikuti kemauannya, dengan sebuah kesepakatan pengisian 10ribu rupiah. Klo diisi pakai premium, uang itu bisa dipakai untuk mengisi 2,2222…. liter. Klo diisi pertamax biasa mungkin 1 liter. Klo pertamax plus? kita lihat nanti.hehe

    Saat sampai di SPBU Dipati Ukur, petugas terlihat kaget ketika ada mahasiswa pas-pasan sok tajir meminta pertamax plus di motornya. Seperti biasa, dimulai dengan kalimat “dimulai dari nol yah”, kemudian 6 detik setelah pengisian, penunjuk rupiah sudah menunjukkan 10ribu. Dan penunjuk liter tidak mencapai angka 1 liter!

    Jadi mahasiswa idealis memang berat. Sama seperti saya sok idealis mendapatkan SIM C tanpa calo, harus mengulang tes praktek 10 kali, dimana Gresik dan Sidoarjo terkenal kedahsyatan sulitnya ujian praktek SIM C. Begitu juga pertamax plus, harus merogoh uang saku kuliah lebih dari 2 kalinya.

    Ada beberapa teman saya di mesin yang juga idealis. Salah satunya Wafi, juga selalu pakai pertamax setiap pengisiannya. Bahkan dia pakai dari kampus sampai ke “gunung” tempatnya tinggal.

    Ada juga kawan yang idealis secara intelektual, memikirkan cara bikin mesin kendaraan hemat energi seperti tim SEMnya Nova, Peter, dan Wafi. Ada juga tim mobil SAE nya Agna, mungkin tidak fokus pada hemat energi, tapi perfomance. Untuk menghasilkan perfomance yang brilian tentu diperlukan sistem gerak seefisien dan seefektif mungkin. Jadi sebenarnya sama seperti bikin mobil hemat energi, hanya cara drivingnya yang berbeda.

    Sebenernya banyak sekali alternatif untuk hemat energi fosil, mulai dari eco driving, tune up mesin, memilih biosolar hingga pakai angkutan umum saat berpergian. Bahkan ini termasuk satu tali dengan hemat listrik, yang sama-sama menggunakan energi fosil untuk pembangkitannya.

    Dua hari yang lalu, Presiden SBY berpidato di depan publik. Beliau meminta rakyat Indonesia hemat energi. Secara garis besar ada 5 permintaan. Yaitu,

    1. Pengendalian sistem distribusi di SPBU.

    2. Pelarangan subsidi BBM untuk kendaraan pemerintah.

    3. Pelarangan subsidi BBM untuk kendaraan perkebunan dan pertambangan.

    4. Program konversi BBM ke BBG.

    5. Penghematan penggunaan listrik dan air di instansi pemerintah.

    Penghematan energi ini ternyata sudah menjadi perhatian utama negara. Jarang sekali presiden kita berpidato khusus konsern tentang hemat energi. Ini efek dari gagalnya menaikkan harga premium, yang berimbas pada tersedotnya anggaran hingga SEPERLIMA APBN khusus untuk BBM.

    Dari kelima poin diatas tidak ada yang salah. Semuanya baik. Tapi tetap saja kritikus-kritikus bermunculan dengan nada sinis kepada pidato tersebut. Mungkin mereka ingin populer mendadak lewat media massa. Untuk seorang pemimpin, hal seperti itu sudah biasa. Satu-satunya cara untuk membungkam kritikus itu hanya aksi konkrit.

    Mobil hemat energi, Putra Petir yang digadang-gadang oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan sudah hamil tua. Saya membaca spesifikasi kasar produk putra petir itu cukup realistis diimplementasikan, meskipun masih kalah “asyik” dibandingkan mobil konvensional.

    Dukungan keilmuan juga sudah dikerjakan oleh empat PTN besar, ITB-UI-UGM-ITS. Mobil nasional memang harus ditopang teknologi asli milik negeri, seperti PT Digantara Indonesia yang mempunyai banyak anak perusaan dan mitra penelitian seperti ITB. Rektor 4 PTN tersebut juga sudah mendukung dengan konkrit.

    Almarhum Wakil Menteri ESDM pak Widjajono juga sudah merombak-rombak regulasi energi negara. Mulai negosiasi ulang eksploitasi perusahaan asing di bagian mineral, gas, dan perminyakan, hingga membuat konsep “GBHN” di bidang energi yang telah dirumuskan bersama Dewan Energi Nasional.

    Konversi BBM ke BBG juga sudah terlihat, pembangunan pipa gas sudah mulai menjalar ke kota-kota besar. Di Jakarta, angkutan Bajaj menggunakan Gas juga mulai merajalela. Busway jakarta pun juga sudah murni menggunakan gas. Pembangunan pipa dibawa rel kereta api juga sudah hampir matang kajiannya.

    PLN sudah mulai patuh dengan instruksi Kementrian ESDM, menghentikan pembangkit yang beroperasi menggunakan BBM. Saat saya Kerja Praktek di PT PJB Gresik, sedang ada gasifikasi 2 pembangkit yang selama ini memakai BBM. Pertanda pembangkit yang menghasilkan 2,3 GigaWatt itu sudah tidak memakai BBM lagi di tiap unitnya.

    Dan masih banyak lagi aksi konkrit konversi energi yang telah dilakukan negara ini. Teknologi kereta api, loading barang perkapalan, pambangunan kilang minyak langsung, hingga penambahan angkutan umum di daerah-daerah juga ada. Yang  klo diceritakan satu persatu akan sangat panjang. Ini pertanda ekonomi negara berkembang pesat, sekaligus ke arah yang benar.

    Saya, sebagai rakyat Indonesia, bahkan masih berstatus mahasiswa, harus mendukung gerakan ini. Klo pemerintah melakukan gerakan yang baik, harus dibantu! Klo salah harus dikritisi! Bukan seperti kebanyakan aktivis kampus yang banci, mengkritisi semua kebijakan pemerintah.

    Mungkin saya memulai bertahap dan yang paling sederhana, eco-driving. Menggunakan sepeda motor hanya untuk jarak yang cukup jauh. Klo jarak dekat pakai harus pakai sepeda, meskipun capek, tapi bikin saya sehat. Kemudian juga menyetel sepeda motor seafdol mungkin agar tidak boros. Dan juga memakai angkot untuk perjalanan jauh yang mudah.

    Setelah itu lanjut ke step berikutnya, seperti kawan saya yang idealis, beralih ke BBM non-subsidi. Mungkin saya tidak akan seradikal Alfin yang menggunakan pertamax plus, saya cukup menggunakan pertamax biasa, itu juga tidak disubsidi oleh rakyat. Saya sendiri sudah mengkaji peralihan sepeda motor Supra X 100cc dari premium ke pertamax dan pertamax plus baik dari efek ketukan mesin, perfomance, ekonomis, nilai oktan, emisi, dan “blackbox”. Akhirnya pilihan jatuh ke pertamax biasa. Meskipun secara rekomendasi pabrikan tidak disarankan, mungkin ini patut dicoba.

    Mungkin jika Tuhan memberi kesempatan, saya bisa masuk ke step berikutnya, yaitu penelitian. TA saya memang terkait dengan diesel, yang juga sedang meneliti alternatif engine diesel rpm rendah untuk bahan bakar nabati. Mungkin klo sukses dan layak dikomersilkan, ini akan menjadi kepuasan tersendiri.

    Gerakan hemat energi ini harus didukung. Semua elemen harus terlibat. Jangan sampai seperlima APBN kita terkuras untuk mensubsidi BBM. Seperlima subsidi BBM itu sama seperti anggaran minimum pendidikan, yaitu 20 persen. Itu bisa menghambat pembangunan infrastruktur dan pergerakan ekonomi yang sekarang lagi giat-giatnya. Subsidi BBM sangat mengerikan!

     

    Bismillahirohmanirrohim.

    Kita dukung gerakan ini. Mulai hal yang kecil, dari kita sendiri, dan sekarang juga!

     

     

    SUSELO SULUHITO

    Graduation Hope!(5)

     
  • suluh 07:58 on May 26, 2012 Permalink | Reply
    Tags: luar biasa, lucu   

    SALAH MENGERTI TEKNOLOGI 


     

    Pagi ini saya terenyum mendengar sebuah berita tentang “high-tech school” MAN 1 Malang. Sekolah tersebut dengan bangga memamerkan teknologi absensi sidik jari untuk siswanya. Sistem teknologi sidik jari tersebut juga menginformasikan kedatangan siswa ke orang tuanya. Tujuannya agar kenakalan bolos siswanya terekam. Sangat modern dan menarik. Fasilitas brilian!

    Tapi, untuk seorang yang mengerti teknologi, sekolah tersebut lucu. Mereka tidak paham teknologi. Orang yang mengerti teknologi hakekatnya tahu bahwa teknologi lahir untuk membantu memudahkan hidup manusia. Bukan untuk mengekang manusia, apalagi menakut-nakuti seperti mesin absensi itu.

    Andai kata setiap siswa ditanamkan pentingnya pendidikan, maka secara otomatis siswa tersebut dengan senang hati datang ke sekolah tepat waktu. Kesadaran pendidikan dan rasa senang datang ke sekolah juga punya efek yang baik keberterimaan materi. Jelas hal ini sangat berbeda jika siswa tersebut datang karena takut mesin absensi.

    Saya rasa pendidikan karakter disiplin dan haus pengetahuan jauh lebih penting daripada memaksa siswa masuk kelas tepat waktu. Andai karakter tersebut ditanamkan, efesiensi yang didapatkan untuk sekolah juga luar biasa besar. Ada puluhan jutaan rupiah uang investasi mesin yang terselamatkan, ada biaya operasional listrik dan pulsa sms yang dihemat, dan juga ada biaya perawatan yang dipangkas. Dari sini jelas keuntungannya, siswa dapat pendidikan karakter sedangkan sekolah menghemat anggaran.

    Memahami arti teknologi mungkin sama pentingnya dengan pendidikan seks, harus ditanamkan sejak dini. Jika tidak, maka seperti sekarang ini, banyak remaja menjadikan gadget sebagai style kegaulannya. Itu jelas berbeda dengan tujuan gadget itu lahir.

    Saya jadi ingat saat penerapan mesin absensi di Tokema. Waktu itu kadiv saya, mas Dito, membuat software absensi karyawan Tokema. Softwarenya bagus. Bisa ngecheck data masuk dan keluar karyawan, akumulasi keterlambatan, akumulasi bolos, hingga tanggal ulang tahunpun tercatat disana. Pokoknya canggih.

    Tapi jadi sirna setelah saya menyadari kecanggihan teknologi tersebut bertentangan dengan kesadaran karyawan datang tepat waktu. Software absensi tersebut masih bisa diakali dengan nitip absen, masih bisa diakali dengan merekayasa waktu keterlambatan. Dan beberapa karyawan melakukannya! Saya pun berpikir, klo dipasang mesin absensi super canggih pun juga pasti akan diakalin.

    Dalam kasus Tokema ini, bukan pendidikan karakter karyawan, tapi budaya perusahaan. Andai stakeholder tokema menyadari pentingnya buka tepat waktu, pentingnya kepercayaan konsumen, dan makna kepuasan pelanggan, maka tokema tidak perlu berinvestasi mesin absensi yang canggih. Hanya perlu mesin absensi yang merekap data kehadiran dan pulang karyawan untuk dianalisis, bukan mesin absensi untuk menakut-nakuti karyawan.

    Saya membayangkan, andai pendidikan teknologi secara tepat diberikan ke siswa sejak kecil. Maka tren “gadget gaul” tidak akan pernah ada. Pemborosan uang konsumtif akan turun tajam. Klo bicara perdagangan, jumlah impor barang elektrik tertekan. Klo dalam bahasa bisnis, penghematan itu bisa untuk investasi. Klo bicara di kamahasiswaan, penghematan tersebut bisa mensubisidi rakyat tidak mampu!

     

    ATAU…..

     

    Kebodohan orang tentang arti teknologi bisa jadi lahan menggiurkan. Kesempatan untuk membuat industri yang mengembangkan bisnis impor barang, juga kesempatan menambah lapangan pekerjaan, dan yang pasti meningkatkan pendapatan negara lewat pajak. Mungkin kondisi seperti ini akan menjadi peluang yang menarik untuk para pebisnis.

    Begitulah, semua permasalahan klo ketemu sama bidang entrepreneur, sampah paling busuk pun bisa jadi duit.hehe. Dan krisis teknologi negara ini juga tidak akan terasa sakit selama pengusaha bisa mengimpor barang berteknologi, bukan memproduksi barang berteknologi.

    Ini yang membuat saya ingin terjun ke bisnis teknologi. Bukan mengambil jatah bisnis yang harusnya bisa dilakukan lulusan SMA. Sekarang saatnya berkomitmen mendirikan sebuah bisnis, yang akan diterapkan beberapa tahun mendatang. Dan bukan sekedar pedagang yang menjelma jadi pengusaha. Untuk menjaga harga diri bangsa ini, saya harus masuk ke wilayah HEAVY INDUSTRY!

     

    Suselo Suluhito
    Graduation Hope!(4) 

     
  • suluh 07:06 on May 23, 2012 Permalink | Reply
    Tags: apple, technology, video   

    KENANGAN PIDATO STEVE JOBS (STANFORD UNIVERSITIES) 


     
  • suluh 06:16 on May 12, 2012 Permalink | Reply  

    MY FAVOURITE AIRPLANE QUOTES! 


     
  • suluh 14:01 on May 7, 2012 Permalink | Reply  


    Remembering that you’re going to die is the best way I know to avoid the trap thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

    Steve Jobs, 1987
     
  • suluh 11:33 on May 6, 2012 Permalink | Reply
    Tags: indone, kurikulum 1994, pola pikir, realita bangsa   

    DUA JAM UNTUK OUT OF BOX 


     

    Jumat kemarin, seorang legenda HMM yang sedang bekerja di Toshiba Jepang berbagi ilmu dengan anak-anak HMM. Namanya Lukman, mesin ITB 2006. Acara yang dimulai dari jam 1-4 sore itu, Dia bercerita panjang lebar tentang desain pembangkit yang dia kerjakan di Toshiba. Di akhir sesi, Lukman berbagi pengalaman hidup di Jepang.

     

    “Hidup di di luar negeri membuat kita berpikir out of box, itulah kenapa pemimpin-pemimpin kita banyak yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri, karena pola pikir mereka sudah out of box” sambut Lukman mencoba memotivasi kami.

     

    Mungkin kata-kata tersebut ada benarnya juga, dan saya juga sangat sepakat. Keputusan saya untuk merantau di Surabaya saat SMA, membuat saya mempunyai pola pikir yang berbeda dengan teman-teman di Gresik, tempat tinggal saya. Begitu juga dengan keputusan kuliah ke ITB, membuat saya punya pola pikir yang lebih terbuka dibandingkan teman-teman saya sendiri.

     

    Pernah kali saya datang reuni SMA. Saat berbincang tentang impian, mereka berpikir tentang memajukan almamater, menaikkan peringkat sekolah, mengharumkan nama alumninya, dan bahkan ingin menjadikan Smala sebagai sekolah terbaik di Indonesia. Tidak ada yang salah dari harapan-harapan tersebut. Bahkan sejujurnya saya dulu juga ingin seperti itu. Tapi tiu dulu, sekarang berbeda.

     

    Di kampus yang saya ikuti, mahasiswanya dihantam sangat keras dengan realita bangsa. Ditengah kemapanan pendidikan, ternyata ada banyak sekali daerah-daerah yang belum terjangkau pendidikan. Ada yang gurunya sangat sedikit, ada yang bangunannya mau ambrol, ada yang harus berjalan sejauh 5 KM untuk pergi sekolah(berjalan! bukan berjarak. Karena kondisi geografis yang memaksa siswa harus berjalan), dan bahkan ada yang metode pengajaran masih memakai kurikulum 1994. Kondisi sekolah seperti yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi juga masih nyata.

     

    Rupanya, hantaman keras realita bangsa itulah yang membuat mahasiswa disini berpikir nasionalis, berpikir tentang Indonesia. Mungkin hal itu juga yang mebuat saya lebih cenderung ingin membangun sekolah-sekolah daerah, sekolah pinggiran, dan menyadarkan siswa tentang pentingnya pendidikan. Dibandingkan dengan membangun Smala(yang sudah sangat modern), tingkat urgensi meratakan kualitas pendidikan di Indonesia jauh lebih penting, dan harus segera dilaksanakan! Inilah yang pola pikir baru saya dan saya syukuri dari nikmatnya merantau ke luar daerah.

     

    “Karena kamu bangsa Melayu, kaum kalian sangat sulit untuk jauh dari keluarga. Saya juga punya keluarga, tapi kami tidak mudah homesick seperti kamu, karena kami merantau disini untuk berjihad!” Tiru Lukman mengikuti ucapan pedagang dari Pakistan.

     

    Disini juga akhirnya seisi kelas sadar kenapa bangsa Arab dan Cina bagitu terkenal dan menyebar ke penjuru dunia. Ternyata mereka berjuang! Berbeda sekali dengan pola pikir para perantau bangsa melayu dengan para perantau 2 bangsa itu. Orang melayu saat merantau selalu punya ikatan dari daerah asalnya, misal ingin lebih prestise, ingin lebih terpandang, ingin lebih sukses dari tempat asalnya, yang paling umum adalah menambah pengalaman yang ujung2nya agar ada pride saat balik ke kampung halaman. Sedangkan orang Cina, mereka merantau untuk berjuang, tidak peduli lebih miskin, lebih gagal, lebih apes, atau lebih laknat dari orang kampung halamannya. Yang jelas, mereka berjuang! mereka berjihad!

     

    Banyak sekali cerita yang dibagikan oleh Lukman, mulai dari kecelakaan nuklir Fukushima, tragedi pertama kalinya Tokyo mati listrik sepanjang 60 tahun, kemudian puasa yang dilewati selama 20 jam saat musim panas(saat musim panas siang hari lebih lama), dan disaat puasa itu juga banyak cewek-cewek SMA Jepang yang pakaianya “menyesuaikan” iklim(ini adalah cobaan terberat kaum lelaki.ehehe), kemudian juga bencana 9 Skala Ritcher selama 2jam!, dan masih banyak lagi pengalaman yang dia dapatkan selama 1 tahun disana.

     

    Sangat menarik cerita yang dia paparkan. Jeleknya, dia berhasil membuat saya berubah pikiran. Saya jadi ingin loncat! Saya ingin merantau lagi. Saya ingin mendapatkan hal-hal baru lagi. Sama seperti keputusan merantau di Surabaya saat SMA, dan juga seperti keputusan kuliah di ITB seperti sekarang. Merantau membuat kita seribu langkah lebih didepan, mentangguhkan mental kita, dan membuat kita memiliki lebih banyak “mata” dalam memandang masalah, sekaligus mempunyai banyak solusinya juga.

     

    Mungkin benar apa kata paman yang pernah mengeyam kuliah di Jepang. Berpergian ke luar negeri selama 1 atau 2 bulan, atau bahkan 1 minggu hanya akan mendapatkan “pemandangan”, itu turis biasa. Untuk mempelajari budaya suatu kaum, kita harus tinggal minimal 1 tahun(bahkan harus lebih) agar budaya itu bisa kita resapi dan kita jiwai.

     

    “Karakter kerja keras orang Jepang hanya bisa kau dapat saat kamu pernah merasakan hidup di Jepang. Begitu juga karakter ulet dan tangguh orang China, hanya bisa kau dapatkan saat hidup di China.” ujar paman saya.

     

    Dahlan Iskan, menteri BUMN yang sedang naik daun mungkin juga hebat karena rantauannya. Pak DIS pernah hidup dan tinggal di China. Jiwa ulet dan tangguh orang China berhasil masuk kedalam dirinya, dan akhirnya sukses membesarkan perusahaan Jawa Pos, sekaligus sukses mentransformasi PLN.

     

    Mungkin, sekarang saatnya saya mereformasi ulang jalur hidup saya. Merantau ke luar negeri harus masuk dalam plan n starategy, entah itu saat kuliah, saat bekerja, atau bahkan mungkin saat berkeluarga. Yang jelas harus ada. Akan banyak sekali hal yang akan dikorbankan, dan mungkin juga akan sangat menyakitkan. Tapi inilah resiko yang harus diambil, agar saya bisa 1000 langkah lebih maju, dan yang terpenting adalah agar otak saya out of box!

     

    Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

    Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

     

    Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

    Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

     

    Aku melihat air mejadi rusak karena diam tertahan

    Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

     

    Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

    Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

     

    Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

    Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

     

    Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

    Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

    (Imam Syafii)

     

     

    Suselo Suluhito

    Graduation Hope!(3) 

     
  • suluh 05:33 on May 6, 2012 Permalink | Reply  


    Dibalik KESUKSESAN seorang PRIA, ada WANITA yang MENANGIS karena menyesal dulu pernah menolaknya

    Internet
     
  • suluh 13:40 on May 1, 2012 Permalink | Reply
    Tags: desain mesin, motor bakar   

    SUDAH WAKTUNYA BELI PEDE 


    Kemarin, saya menemui dosen pembimbing TA yang baru di Lab Gas Engine. Saya menghadap beliau, dia memberi petuah yang menarik, “Dari semua dosen, TA Saya yang paling sulit. Masih mau dengan Saya?” Kata tersebut terangkai manis dihadapan saya kemarin. Kalimat tersebut jika dimaknai lebih dalam, sama halnya menyiratkan pesan seperti ini, “TA dengan Saya itu sulit. Kamu harus bekerja keras, dan siap lulus lama. Serius bertahan dengan saya?”.

    Beliau termasuk dosen legendaris Mesin ITB, hal tersebut tidak hanya diakui oleh jajaran pengajar dalam prodi, tapi juga diluar, cem dosen prodi Tenaga Listrik dan sebangsanya. Nama lengkap beliau adalah Dr. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardjojo, dan biasa dipanggil Pak Iman. Saat ini, beliau aktif menjadi kepala Lab Motor Bakar dan Sistem Propulsi, sekaligus juga kepala Lab Gas Engine. Selain itu, dia masih berperan aktif sebagai ketua umum Ikatan Ahli Bahan Bakar Indonesia. Tercatat juga beliau menghasilkan penelitian-penelitian dan proyek teknologi berkelas dunia. Keahliannya sudah tidak diragukan lagi.

    Saat mengajukan bimbingan kemarin, beliau bercerita banyak tentang aturan yang harus dipatuhi selama dibimbing olehnya. Coba kita terjemahkan bersama beberapa aturan yang beliau berikan,
    1. Kamu bergabung dan bekerja bersama satu tim berisi anak S2 dan S3, mereka semua mahasiswa international.
    2. Bimbingan saya harus menghasilkan paper yang berkualitas.
    3. Topik TA nanti tidak akan mudah, harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
    4. ….(dll)
    Saya sendiri kurang setuju menyebutnya peraturan. Dari 3 aturan pertama yang diberikan, tidak ada landasan hukum yang mengikat, dan juga tidak ada sangsi jika melanggar. Itu bukan aturan, tapi tantangan!

    Saya jadi ingat kisah haru mata kuliah Tugas Desain Mesin(TDM) 1 saya dulu. Kala itu, semua anak mesin 2008 diwajibkan membuat suatu rancangan mesin dan menganalisanya. Titik. Tapi saya dan beberapa teman saya “beruntung” dapat dosen yang melenceng dari deskripsi mata kuliahnya. Namanya Pak Zainal, anak kelas bimbingan beliau dibagi menjadi 4 kelompok. Saya bergabung bersama Inul dan Sadis. Kemudian kita mengerjakan sebuah topik yang akan salalu saya ingat, Perhitungan dan Pengujian Kekuatan Axial Roller Conveyor Dengan Bearing SKF 6305 ZZ Produksi PT. Vortex Conveyor International. Itu bukan topik TDM, tapi topik TA!

    Stress dan frustasi kita luar biasa heboh kala itu. Kang Cep Ramdhan, senior yang expert di conveyor, mengamini keluhan kami kala itu. Kang Cep mengatakan, yang kami kerjakan adalah TA, tapi dikerjakan oleh 3 orang. Alhasil kami bekerja keras menyelesaikan mata kuliah yang hanya 1 SKS. Nginep di Lab Teknik Produksi berhari-hari menjadi sarapan kami tiap hari. Bahkan liburan semester ganjil tidak kami nikmati sesuai kaidah kurikulum. Tapi semua itu berkesan, “TA” kami selesai! kami berhasil! dan yang paling mengejutkan adalah kami berhasil membantah analisis argumen dosen pembimbing sendiri!

    Sejak peristiwa TDM 1 itu, kami bisa berempati dengan orang-orang yang mengerjakan TA. Kami menjadi anak mesin yang mempunyai kepercayaan diri berlebih. Kepercayaan diri ini memang sangat mahal, tidak semua orang bisa membayarnya, tapi kami bisa!

    Tonkosh, anak bimbingan Pak Iman juga, bercerita alasan memilih Pak Iman menjadi Dosen Pembimbingnya. Dia merasa bukan apa-apa di mesin ini. Dia ingin minimal satu hal saja yang bisa dibanggakan dari dirinya. Pilihannya tak tanggung-tanggung, ngambil TA yang paling “high class”. Dengan kebanggaannya itu, dia berharap bisa percaya diri saat diwisuda menjadi sarjana teknik mesin. Lagi-lagi “percaya diri” menjadi hal yang sangat berharga disini.

    Saya jadi ingat pengalaman saat sekolah. Dua orang bodoh, yang satu sangat pede(A), yang satu sangat minder(B). Ketika B berjalan dengan kepala menunduk(ciri khas orang minder) menuju papan tulis mengerjakan soal oleh gurunya, teman sekelasnya akan senyum kecut meremehkan. Ketika B gagal mengerjakan soal tersebut, seisi kelas menertawakanya! Lain halnya dengan A, saat berjalan kedepan saja, teman sekelasnya sudah terkagum-kagum dengan sikapnya yang tegap dan pandangan optimis tajam(ciri khas orang pede). Ketika A gagal mengerjakan soal, seisi kelas kecewa jawabanya salah, bahkan bertanya-tanya kenapa jawaban A tidak benar. Tidak ada yang menertawakannya. Padahal sama, sama-sama bodoh dan gagal!

    Saya sepakat dengan Tonkosh, meskipun mempunyai motivasi yang berbeda dengannya, tapi saya satu jiwa dengan pernyataan “ada yang bisa dibanggakan, agar percaya diri!”. Kebanggaan itu sangat mewah, dan percaya diri itu sangat mahal. Inilah yang harus direbut dari “aturan2″ yang diberikan oleh Pak Iman. Dan inilah harga mati yang harus dibawa saat wisuda!

    Bismillahirohmanirohim.
    Semoga TA ini sukses!

    Suselo Suluhito
    Graduation Hope!(2)

     
  • suluh 10:13 on April 29, 2012 Permalink | Reply  


    Whenever you’re feeling down, remember, you’re the sperm that won

    9Gag – Fuck Yeah
     
  • suluh 10:11 on April 29, 2012 Permalink | Reply  


    Life begins at the end of your comfort zone

    Neale Donald Walsch
     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,576 other followers